BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hubungan kita dengan orang lain akan menentukan
kualitas hidup kita. Bila orang lain tidak memahami gagasan anda, bila pesan
anda menjengkelkan mereka, bila anda tidak berhasil mengatasi masalah pelit
karena orang lain menentang pendapat anda dan tidak mau membantu anda, bila
semakin sering anda berkomunikasi semakin jauh jarak anda dengan mereka. Bila
anda selalu gagal untuk mendorong orang lain bertindak. Anda telah gagal dalam
komunikasi. Komunikasi anda tidak efektif.
Ilustrasi, pada saat anda mengendarai sepeda motor
/ mobil tiba tiba anda menerobos lampu merah,dan ada seseorang yg menghampiri
anda mengenakan baju setelan berwarna coklat,memakai topi, dan dikalungkannya
pluit.Sesaat kemudian dia hormat kepada anda dan menanyakan “ boleh saya lihat
SIM / STNK anda “.Apa yang anda pikirkan tentang seseorang yang menghampiri
anda itu? mungkin dengan cepat anda berkesimpulan bahwa dia adalah seorang
POLISI.
Itulah psikologi komunikator. Artinya, untuk bisa
dipercayai orang lain diperlukan bukah saja bisa/dapat berbicara tetapi juga
memerlukan ”penampilan” yang meyakinkan. He doesn’t communicate what he says,
he communicates what he is. Artinya ia tidak dapat menyuruh pendengar hanya
memperhatikan apa yang ia katakan. Pendengar juga akan memperhatikan siapa yang
mengatakan atau menyampaikan semua pesan-pesan tersebut. Bahkan kadang-kadang
unsur “siapa” ini lebih penting dari unsur “apa”. Memang pakaian bukanlah
segala-galanya, tetapi banyak teori psikologi yang mengatakan bahwa penampilan
akan membuat image lain bagi seseorang.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep Psikologi Komunikator?
2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi
efektifitas Psikologi Komunikator?
3. Apa
yang dimaksud psikologi pesan?
4.
Apa saja karakteristik makna pesan dan karekter
pesan dalam psikologi pesan?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Psikologi Komunikator
![]() |
|||||
Dalam konsep psikologi komunikator, proses
komunikasi akan sukses apabila berhasil menunjukkan source credibility atau
menjadi sumber kepercayaan bagi komunikan. Holand dan Weiss menyebut ethos
sebagai credibility yang terdiri atas 2(dua) unsur, yaitu keahlian(expertise)
dan dapat dipercaya(Trustworthinnes). Kedua unsur tersebut mutlak harus
dimiliki oleh seorang komunikator agar bersifat kredibel.[1]
Aritoteles menyebutkan karakter komunikator
sebagai ethos. Ethos terdiri dari pikiran baik (good sense),
akhlak yang baik (good moral character), dan maksud yang baik (good
will), serta perilaku yang baik (good manner)
Para cendekiawan modern menyebut ethos
Aristoteles sebagai (1) Itikad Baik (good intentions), (2)Dapat Dipercaya (trustwordthinnes),
(3) Kecakapan & Kemampuan (competence & expertness).
B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Efektifitas Komunikator
Pengaruh komunikasi kita pada orang lain, sebagaimana
dikemukakan oleh Herbert C. Kelman berupa 3 hal, yaitu :
1. Internalisasi
Internalisasi
terjadi bila orang menerima pengaruh karena perilaku yang dianjurkan itu sesuai
dengan sistem nilai yang dimilikinya. Kita menerima gagasan, pikiran, atau
anjuran orang lain karena gagasan, pikiran, atau anjuran orang lain itu berguna
untuk memecahkan masalah, penting dalam menunjukkan arah, atau dituntut oleh
sistem nilai kita. Internalisasi terjadi ketika kita menerima anjuran orang
lain atas dasar rasional. Misalnya kita berhenti merokok, karena kita ingin
memelihara kesehatan kita karena kita tahu bahwa merokok tidak sesuai
nilai-nilai yang kita anut.Dimensi ethos yang paling relevan dalam hal ini
adalah kredibilitas, yaitu keahlian yang dimiliki oleh komunikator atau
kepercayaan kita pada komunikator
2. Identifikasi
Identifikasi
terjadi bila individu mengambil perilaku yang berasal dari orang atau kelompok
lain karena perilaku itu berkaitan dengan hubungan yang mendefinisikan diri
secara memuaskan (satisfying self-defining relationship) dengan orang atau
kelompok itu. Hubungan yang mendefinisikan diri artinya memperjelas konsep
diri. Dalam identifikasi, individu mendefinisikan perannya sesuai dengan
peranan orang lain. Dengan perkataan lain, ia berusaha seperti atau benar-benar
menjadi orang lain. Dengan mengatakan apa yang ia katakan, melakukan apa yang
ia lakukan, mempercayai apa yang ia percayai, individu mendefinisikan dirinya
sesuai dengan orang yang mempengaruhinya.Identifikasi terjadi ketika anak berperilaku
mencontoh ayahnya, murid meniru tindak tanduk gurunya, atau penggemar
bertingkah dan berpakaian seperti bintang yang dikaguminya.Dimensi ethos yang
paling relevan dengan identifikasi ialah atraksi (daya tarik komunikator)
3. Ketundukan (compliance)
Ketundukan terjadi bila individu menerima pengaruh
dari orang atau kelompok lain karena ia berharap memperoleh reaksi yang
menyenangkan dari orang atau kelompok lain tersebut. Ia ingin memperoleh
ganjaran atau menghindari hukuman dari pihak yang mempengaruhinya. Dalam
ketundukan, orang menerima perilaku yang dianjurkan bukan karena
mempercayainya, tetapi karena perilaku tersebut membantunya untuk menghasilkan
efek sosial yang memuaskan.
Bawahan yang mengikuti perintah atasannya karena
takut dipecat, pegawai negeri yang masuk parpol tertentu karena kuatir
diberhentikan, petani yang menanam sawahnya karena ancaman pamong desa adalah
contoh-contoh ketundukan, Dimensi ethos yang berkaitan dengan ketundukan ialah
kekuasaan.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas
komunikator adalah:
1. Kredibilitas
Kredibilitas
adalah kualitas, kapabilitas, atau kekuatan untuk menimbulkan kepercayaan.
Dalam hal ini, kredibilitas adalah seperangkat persepsi komunikate tentang
sifat-sifat komunikator. Dalam definisi ini terkandung dua hal: (1)
Kredibilitas adalah persepsi komunikate, tidak inheren dalam diri komunikator;
(2) Kredibilitas berkenaan dengan sifat-sifat komunikator.[2]
Hal-hal yang
mempengaruhi persepsi komunikate tentang komunikator sebelum ia memberlakukan komunikasinya
disebut prior ethos (Andersen, 1972:62). Sumber komunikasi memperoleh prior
ethos karena berbagai hal, kita membentuk gambaran tentang diri komunikator
dari pengalamn langsung dengan komunikator itu atau dari pengalaman wakilan
(vicarious experiences). Misalnya, karena sudah lama bergaul dengan dia dan
sudah mengenal integritas kepribadiannya atau karena kita sudah sering melihat
atau mendengarnya dalam media massa.
Sementara itu
koehler, anator dan appllbaum 4 komponen kredibilitas yaitu:
(1) dinamisme,
Dinamisme bila dia dipandang sebagai orang yang bergairah, bersemangat, aktif,
tegas dan berani
(2) sosiabilitas,
Sosiabilitas kesan komunikate tentang komunikator sebagai orang periang dan
seang bergaul.
(3) koorientasi, kesan
komunikate tentang komunikator sebagai orang yang mewakili kelompok ang kita
senangi, yanng mewakili nilai-nilai kita.
(4) kharisma,
sifat luar biasa yang dimilikikomunikator yanng menarik dan mengendalikan
komunikate, seperti magnet-magnet menarik benda-benda disekitarnya.
2. Atraksi
Atraksi (attractiveness)
adalah daya tarik komunikator yang besumber dari fisik. Seorang komunikator
akan mempunyai kemampuan untuk melakukan perubahan sikap melalui mekanisme daya
tarik (fisik), misalnya, komunikator disenangi atau dikagumi yang memungkinkan
komunikate menerima kepuasan. Daya tarik fisik adalah salah satu yang dapat
menyebabkan pihak lain (komunikate) merasa tertarik kepada komunikator.
Misalnya, kita menyenangi orang-orang yang cantik atau tampan, atau mungkin
kita akan menyenangi orang-orang yang memiliki banyak kesamaan dengan kita,
atau mungkin juga kita akan menyenangi orang-orang yang memiliki kemampuan yang
lebih tinggi dari kita. Hal-hal itu terkait dengan daya tarik fisik, ganjaran,
kesamaan, dan kemampuan. Komunikator yang menarik secara fisik akan memiliki
daya tarik tersendiri yang memungkinkan ia memiliki pesona persuasif. [3]
3. Kekuasaan
Kekuasaan adalah
kemampuan menimbulkan ketundukan. Ketundukan timbul dari interaksi antara
komunikator dan komunikate. Kekuasaan menyebabkan seorang komunikator
“memaksakan” kehendaknya kepada orang lain, karena ia memiliki sumber daya
penting (critical reseorces). Atas dasar kekuasaan French dan Raven menyebut
beberapa jenis kekuasaan, yaitu:[4]
1. Kekuasaan Koersif (coersive power):
menunjukkan kemampuan komunikator untuk mendatangkan ganjaran atau mendatangkan
hukuman bagi komunikate. Misalnya hukuman yang bersifat personal: benci atau
kasih sayang.
2. Kekuasaan Keahlian (Expert Power): berasal
dari pengetahuan, pengalaman, keterampilan, atau kemampuan yang dimiliki
komunikator. Seorang dosen memiliki kekuasaan keahlian, sehingga ia dapat
menyuruh mahasiswanya menafsirkan suatu teori sesuai dengan pendapatnya.
3. Kekuasaan Informasional (Informational
Power): berasal dari isi komunikasi tertentu atau pengetahuan baru yang
dimiliki oleh komunikator. Seorang ahli mesin dapat menyarankan manajernya
untuk membeli mesin jenis/keluaran baru yang lebih baik cara kerjanya.
4. Kekuasaan rujukan (Referent Power):
Komunikate menjadikan komunikator sebagai kerangka rujukan untuk menilai
dirinya. Misalnya: menjadikan komunikator sebagai teladan, karena perilakunya
yang baik.
5. Kekuasaan Legal (Legitimate Power):
berasal dari seperangkat aturan atau norma yang menyebabkan komunikator
berwewenang untuk melakukan suatu tindakan. Misalnya: seorang manajer bisa saja
mengeluarkan pegawainya yang melanggar aturan
Penelitian psikologis tentang
penggunaan kekuasaan menunjukkan bahwa orang memilih jenis kekuasaan yang
dimilikinya tidak secara rasional.[5] Orang
menggunakan kekuasaan koersif sering hanya karena ingin memenuhi kepuasan diri
atau menunjang harga diri. Berikut ini disampaikan berbagai hasil penelitian
yang berkenan dengan penggunaan kekuasaan dalam mempengaruhi perilaku orang
lain :
1.
Komunikate akan lebih baik diyakini untuk melakukan
perilaku yang tidak disukai dengan dijanjikan ganjaran daripada diancam dengan
hukuman. Ancaman yang kuat bahkan dapat menimbulkan efek boomerang---alih-alih
tunduk malah melawan (Heilman dan Garner, 1975).
2.
Efektifitas ancaman dapat ditingkatkan bila komunikator
memberikan alternative perilaku ketundukan, sehingga komunikate masih dapat
melakukan pilihan walaupun terbatas ( Heilman dan Garner, 1975)
3.
Kekuasaan informasional sering kali digunakan bila
komunikator memandang prestasi jelek bawahannya disebabkan oleh kurangnya
motivasi. (Kipnis, 1974)
4.
Bila atasan melihat bahwa prestasi jelek bawahannya
disebabkan kekurangan dalam kemampuannya, ia akan menggunakan kekuasaan
keahlian (kipnis, 1974).
5.
Kekuasaan koersif umumnya digunakan bila pemimpin
(komunikator) menganggap komunikate tidak melakukan anjuran dengan baik karena
ia bersikap negative atau mempunyai kecenderungan melawan pemimpin (goodstadt
dan Hjelle, 1973).
6.
Kekuasaan kooersif juga sering digunakan oleh
komunikator yang kurang percaya pada diri sendiri, yang merasa tidak berdaya
(Goodstadt dan Hjelle, 1973), atau oleh orang-orang yang merasa tertekan,
tertindas, dan teraniaya (Raven, 1974)
Tetapi apapun jenis kekuasaan yang dipergunakan, ketundukan adalah
pengaruh yang paling lemah dibandingkan dengan identifikasi dan internalisasi.
Dengan begitu, kekuasaan sepatutnya digunakan setelah kredibilitas dan atraksi
komunikator.
C. Konsep Psikologi Pesan
Dalam ilmu psikologi pesan terdapat konsep yang berupa teknik
pengendalian perilaku orang lain yang disebut bahasa. Dengan bahasa yang merupakan kumpulan kata, komunikator
dapat mengatur perilaku komunikate (orang lain). Berbicara atau berkomunikasi
dengan menggunakan bahasa.[6] Dan
selanjutnya, bahasa adalah pesan dalam bentuk kata-kata dan kalimat, yang
disebut pesan linguistik.
Dalam pesan linguistic terdapat bahasa. Terdapat dua cara
untuk mendefinisikan bahasa, yaitu secara fungsional
dan formal. Secara fungsional
berarti melihat bahasa dari segi fungsinya. Bahasa dapat dipahami apabila ada
kesepakatan diantara anggota kelompok social untuk menggunakannya. Adapun
secara formal, bahasa dinyatakan sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang
dapat dibuat menurut peraturan tata bahasa.[7] Setiap
bahasa memiliki peraturan bagaimana kata-kata harus disusun dan dirangkaian
agar memiliki arti ( Jalaluddin Rakhmat, 1985:279)
Manusia mengucapkan kata-kata dan kalimat dengan cara-cara
tertentu. Setiap cara berkata memberikan maksud tersendiri. Cara-cara ini kita
sebut pesan paralinguistic. Tetapi manusia juga menyampaikan pesan
dengan cara-cara lain selain dengan dengan bahasa, misalnya dengan isyarat; ini
kita sebut pesan ekstralinguistik. Kita akan membicarakan pesan
linguistic dengan menguraikan ihwal bahasa, hubungan bahasa dengan persepsi dan
berfikir, makna dan teori general sematic dari Korzyski yang menganalisa
proses penyandian (encoding)[8].
Pesan merupakan salah satu unsur yang penting dalam
berkomunikasi, sehingga makna dari pesan itu sendiri memperlancar interaksi
social antar manusia. Sementara tujuan dari komunikasi akan tercapai bila makna
pesan yang disampaikan komunikator sama dengan makna yang diterima komunikan.
Maka untuk mencapai tujuan itu, pesan yang disampaikan biasanya diungkapkan
melalui perpaduan antara pesan verbal dan nonverbal.
a.
Pesan Verbal
pesan verbal atau pesan linguistik adalah pesan yang
digunakan dalam komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai media. Pesan verbal
ditransmisikan melalui kombinasi bunyi-bunyi bahasa dan digunakan untuk
menyatakan pikiran, perasaan dan maksud. Dengan kata lain, pesan verbal adalah
pesan yang diungkapkan melalui bahasa yang menggunakan kata-kata sebagai
representasi realitas atau makna.
Pesan dalam komunikasi verbal disampaikan melalui dua jenis sinyal, yaitu
tanda-tanda dan simbol-simbol. Tanda-tanda adalah sinyal yang memiliki hubungan
sebab (causal) dengan pesan yang diungkapkan. Contoh, kita mengatakan
bahwa jika seseorang meringis hal itu berarti dia sedang merasa kesakitan,
karena rasa sakit merupakan sebuah penyebab mengapa orang meringis.
Sedangkan simbol-simbol merupakan produk konvensi social, oleh karena itu
maknanya didasarkan pada kesepakatan yang dibuat oleh para pengguna atau
penutur. Contoh, bagi orang Indonesia, kumpulan bunyi yang menghasilkan kata
“rumah” bermakna bangunan yang digunakan manusia sebagai tempat tinggal karena
memang disepakati demikian. Tidak ada alasan intrinsik mengapa konsep “bangunan
yang digunakan manusia sebagai tempat tinggal” tidak diungkapkan
dengan kata yang lain dan mengapa konsep tersebut diungkapkan dengan sekumpulan
bunyi bahasa yang berbeda.
b.
Pesan Nonverbal
Secara sederhana, pesan nonverbal didefinisikan sebagai semua tanda atau
isyarat yang tidak berbentuk kata-kata. Samovar dan Proter secara lebih
spesifik mendefinisikan sebagai “semua ransangan (kecuali ransangan verbal)
dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan
penggunaan lingkungan oleh indivdu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi
pengirim atau penerima”.[9]
Jadi, pesan nonverbal mencakup seluruh perilaku yang tidak berbentuk
verbal yang disengaja atau tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa
komunikasi secara keseluruhan. Berdiam diri juga merupakan pesan nonverbal jika
hal itu memberi makna bagi pengirim atau penerima.
Dalam komunikasi interpersonal, secara umum penyampaian
maksud (makna) akan berlangsung efektif bila komunikator memadukan kedua bentuk
pesan tersebut. Bahkan dalam rangka mengkomunikasikan perasaan, pesan nonverbal
berperan lebih dominan.
Untuk menjelaskan esensi interaksi pesan verbal dan nonverbal dalam
penyampaian makna, Devito (1995 : 175-176) menguraikan enam fungsi pesan
nonverbal dalam komunikasi interpersonal :
1)
Fungsi aksentuasi, yang digunakan untuk
membuat penekanan pada bagian tertentu pesan nonverbal, komunikator sering
menggunakan pesan nonverbal, seperti meninggikan nada suara atau menggebrak
meja.
2)
Fungsi komplemen, yang digunakan untuk
menyampaikan nuansa tertentu yang tidak dapat diutarakan melaui pesan verbal,
pembicara akan menggunakan pesan nonverbal.
3)
Fungsi kontradiksi, yang digunakan untuk
mempertentangkan pesan verbal dengan pesan nonverbal dalam rangkan mencapai
maksud tertentu. Misalnya, untuk menunjukkan bahwa dia hanya ‘berpura-pura’,
pembicara dapat mengedipkan mata sewaktu mengucapkan pernyataan tertentu.
4)
Fungsi regulasi, yang digunakan untuk
menunjukkan bahwa komunikator ingin mengatakan sesuatu, dengan cara membuat
isyarat tangan atau mencondongkan tubuh ke depan.
5)
Fungsi repetisi, yang digunakan untuk
mengulangi maksud yang disampaikan melalui pesan verbal, seperti “Kamu menerima
lamarannya?” dengan menaikkan alis mata dan menunjukkan ekspresi wajah tidak
percaya.
6)
Fungsi substitusi, yang digunakan untuk
mengganti pesan verbal tertentu seperti “Saya tidak setuju” dengan pesan
nonverbal berupa gelengan kepala.
D.
Karakteristik
Makna Pesan dan Karakteristik Pesan
Karakteristik makna pesan, meliputi :
1.
Makna ditentukan oleh komunikator.
Makna tidak hanya ditentukan oleh pesan (baik verbal, nonverbal, atau
keduanya) tetapi juga ditentukan oleh interaksi pesan-pesan itu dan pikiran
serta perasaan komunikan.[10] Ketika
berkomunikasi, komunikan tidak hanya ‘menerima’ makna tapi juga ‘menciptakan’
makna. Oleh karena itu, pemahaman atas suatu makna tidak dapat dilakukan hanya
dengan menganalisis pesan, tetapi juga dengan memahami pengirimnya.[11] Sebagai
contoh, makna berupa pujian yang menyatakan seseorang berotak cerdas cenderung
dimaknai sebagai penghinaan bila hal itu disampaikan ketika orang tersebut baru
mengetahui dia gagal dalam sebuah ujian.
2. Makna
yang disampaikan lewat pesan verbal dan nonverbal tidak lengkap
Penyampaian pikiran atau perasaan dilakukan komunikator dengan
menggunakan seperangkat simbol. Pada dasarnya simbol-simbol itu mewakili hanya
sebagian dari totalitas pikiran atau perasaan yang ingin disampaikan. Karena
makna yang diterima dari orang lain bukan makna yang utuh, setiap komunikan
hanya dapat mengestimasi makna tersebut berdasarkan pesan yang diterima dengan
menggunakan pikiran dan perasaannya sendiri.
3. Makna
bersifat unik
Karena makna ditentukan oleh pesan yang diterima dan pikiran serta
perasaan komunikan, maka orang yang berbeda tidak pernah menginterpretasi
sebuah pesan dengan makna yang sama. Bahkan, karena setiap individu berubah,
pesan yang diterima oleh seseorang pada saat yang berbeda akan
diinterpretasikan dengan makna yang berbeda pula. Misalnya, pesan “I love
you” yang diterima pemuda berusia 20 tahun dari pacarnya, akan diberi
makna yang berbeda oleh orang ketika dia berusia 50 tahun.
4. Makna
mencakup makna denotatif dan konotatif
Makna
denotatif adalah definisi objektif dari kata atau pesan nonverbal dan bersifat
universal. Makna konotatif merupakan makna subjektif dan bersifat emosional.
Anggukan kepala yang normal, yang digunakan untuk merespon pertanyaan “Kamu
setuju?” mengungkapkan makna denotatif. Namun bila anggukan kepala itu disertai
dengan kedipan mata atau senyuman sehingga terkesan tidak biasa, makna yang
terungkap lebih cenderung bersifat konotatif.
5. Makna
harus didasarkan pada konteks
Kata atau
tingkah nonverbal yang sama, bisa mengungkapkan makna yang sangat berbeda bila
digunakan dalam konteks yang berbeda. Ugkapan “Apa kabar?” yang disampaikan ketika
berpapasan dengan seorang teman bermakna “Halo”. Tapi bila ungkapan itu
disampaikan ketika mengunjungi teman yang sakit, makna yang terungkap adalah
“kondisi kesehatan”.
Karakteristik Pesan
Disamping karakteristik makna pesan, pemahaman tentang karakteristik
pesan juga sangat dibutuhkan sebagai landasan untuk mengetahui bagaimana makna
disalurkan melalui pesan oleh komunikator kepada komunikan.
1. Pesan
berbentuk paket
Pada saat
berkomnikasi, seluruh bagian sistem komunikasi biasanya bekerjasama untuk
menyampaikan suatu kesatuan makna (unified meaning). Ketika seseorang
mengungkapkan kemarahan dengan kata-kata, getaran dan volume suara, ekspresi
wajah, sorot mata dan sikap tubuhnya juga memancarkan pesan kemarahan itu.
Kenyataan
ini menunjukkan bahwa pesan selalu diungkapkan dalam satu paket gabungan antara
unsur-unsur verbal dan nonverbal. Paket pesan ini biasanya dianggap sebagai hal
yang wajar sehingga tidak begitu diperhatikan oleh komunikan, kecuali dia
mendeteksi adanya double-bind messages, atau kontradiksi antara pesan
verbal dan pesan nonverbal yang digunakan.
2. Pesan
dibentuk dengan menggunakan kaidah tertentu
Setiap pesan
dibentuk dan diungkapkan dengan menggunakan kaidah-kaidah tertentu. Pesan
verbal dibentuk dan digunakan dengan mengikuti aturan-aturan gramatika dan
pragmatik yang berlaku dalam bahasa. Pesan nonverbal juga dibentuk dan
diungkapkan berdasarkan seperangkat norma atau peraturan yang menggariskan
tingkah-laku nonverbal apa yang sesuai, diizinkan, atau diharapkan dalam
situasi sosial tertentu.
3. Pesan
disampaikan dalam tingkat kelangsungan yang variatif
Sebagian pesan
disampaikan secara langsung dan sebagian lagi secara tidak langsung. Pesan
langsung ditandai oleh adanya pernyataan langsung mengenai preferensi atau
keinginan komunikator, sedangkan dalam pesan tidak langsung si pembicara
berupaya menyuruh pendengarnya mengatakan atau melakukan sesuatu tanpa
menyatakannya secara eksplisit.
4. Pesan
bervariasi dalam tingkat kepercayaan
Terdapat dua
alasan mengapa komunikan cenderung lebih mempercayai makna yang terungkap
melalui pesan nonverbal ketika dia mendeteksi konflik antara pesan verbal dan
nonverbal yang dikirim komunikator. Pertama, pesan verbal lebih mudah
dipalsukan. Kedua, pesan nonverbal terbentuk diluar kendali kesadaran individu.
Sinyal
nonverbal biasanya dapat digunakan untuk menebak apakah pembicara berbohong
atau tidak. Sinyal-sinyal itu juga sangat membantu untuk mengungkapkan
kebenaran yang coba ditutup-tutupi oleh kebohongan yang dideteksi.
5. Pesan
dapat digunakan dalam metakomunikasi
Seperti telah
dijelaskan pada bagian Tinjauan Psikologis Terhadap Peran Pesan Nonverbal di
atas, pesan nonverbal memiliki fungsi metakomunikatif yang sangat diperlukan
untuk mencapai komunikasi yang berkualitas tinggi. Pesan metakomunikatif
berfungsi memberikan informasi tambahan untuk memperjelas maksud. Hal itu
dilakukan dengan memberdayakan fungsi aksentuasi, repetisi, subsitusi,
kontradiksi, dan komplemen pesan nonverbal bagi pesan verbal.
KESIMPULAN
Dalam konsep
psikologi komunikator, proses komunikasi akan sukses apabila berhasil
menunjukkan source credibility atau menjadi sumber kepercayaan bagi komunikan.
Pengaruh
komunikasi kita pada orang lain, sebagaimana dikemukakan oleh Herbert C. Kelman
berupa 3 hal, yaitu : Internalisasi, Identifikasi, dan Ketundukan
(compliance)
Dalam ilmu psikologi pesan terdapat konsep yang berupa teknik
pengendalian perilaku orang lain yang disebut bahasa. Dengan bahasa yang merupakan kumpulan kata, komunikator
dapat mengatur perilaku komunikate (orang lain). Berbicara atau berkomunikasi
dengan menggunakan bahasa. Dan
selanjutnya, bahasa adalah pesan dalam bentuk kata-kata dan kalimat, yang
disebut pesan linguistik.
Pesan merupakan
salah satu unsur yang penting dalam berkomunikasi, sehingga makna dari pesan
itu sendiri memperlancar interaksi social antar manusia. Sementara tujuan dari
komunikasi akan tercapai bila makna pesan yang disampaikan komunikator sama
dengan makna yang diterima komunikan. Maka untuk mencapai tujuan itu, pesan
yang disampaikan biasanya diungkapkan melalui perpaduan antara pesan verbal dan
nonverbal
Karaketristik makna pesan meliputi : 1) makna ditentukan oleh
komunikator, 2). Makna
yang disampaikan lewat pesan verbal dan nonverbal tidak lengkap, 3). Makna
bersifat unik, 4) Makna mencakup makna denotatif dan konotatif, 5) Makna harus
didasarkan pada konteks.
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad, Arni, Komunikasi Organisasi,
Jakarta : Bumi Aksara, 2000Syam, Nina, Psikologi Sebagai AkarIlmu Komunikasi, Bandung : Simbiosa Rekatama Media, 2011
Liliweri, Alo, Dasar-Dasar Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2003.
Mulyana, Deddy, Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2007.
Rahmat, Jalaludin, Psikologi Komunikasi, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2005.
http://mrlungs.wordpress.com/2011/01/02/psikologi-pesan/
http://jurusankomunikasi.blogspot.com/2009/04/apa-itu-psikologi-komunikasi.html
http://belajar-komunikasi.blogspot.com/2011/02/psikologi-komunikator.html
[1]
Nina W. Syam, Psikologi
Sebagai Akar Komunikasi (Bandung: Simbiosa Rekatama
Media, 2011), hal.
[2]
Jalaludin Rakhmat, Psikologi
Komunikasi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), hal. 257
[3]
http://belajar-komunikasi.blogspot.com/2011/02/psikologi-komunikator.html
[4]
Nina W. Syam, Psikologi
Sebagai Akar Komunikasi, hal. 125
[5]
Ibid. hal 127
[6]
Ibid. hal 127
[7]
http://jurusankomunikasi.blogspot.com/2009/04/apa-itu-psikologi-komunikasi.html
[8]
http://semutmanis.wordpress.com/2009/10/30/psikologi-pesan-komunikasi/
[9]
Liliweri, Alo, Dasar-Dasar Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar, 2003, hal, 78
[11]
Muhammad, Arni, Komunikasi Organisasi, Jakarta
: Bumi Aksara, 2000, hal 88.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar