Jumat, 30 Maret 2012

Psikologi Komunikator dan Psikologi Pesan


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Hubungan kita dengan orang lain akan menentukan kualitas hidup kita. Bila orang lain tidak memahami gagasan anda, bila pesan anda menjengkelkan mereka, bila anda tidak berhasil mengatasi masalah pelit karena orang lain menentang pendapat anda dan tidak mau membantu anda, bila semakin sering anda berkomunikasi semakin jauh jarak anda dengan mereka. Bila anda selalu gagal untuk mendorong orang lain bertindak. Anda telah gagal dalam komunikasi. Komunikasi anda tidak efektif.
Ilustrasi, pada saat anda mengendarai sepeda motor / mobil tiba tiba anda menerobos lampu merah,dan ada seseorang yg menghampiri anda mengenakan baju setelan berwarna coklat,memakai topi, dan dikalungkannya pluit.Sesaat kemudian dia hormat kepada anda dan menanyakan “ boleh saya lihat SIM / STNK anda “.Apa yang anda pikirkan tentang seseorang yang menghampiri anda itu? mungkin dengan cepat anda berkesimpulan bahwa dia adalah seorang POLISI.
Itulah psikologi komunikator. Artinya, untuk bisa dipercayai orang lain diperlukan bukah saja bisa/dapat berbicara tetapi juga memerlukan ”penampilan” yang meyakinkan. He doesn’t communicate what he says, he communicates what he is. Artinya ia tidak dapat menyuruh pendengar hanya memperhatikan apa yang ia katakan. Pendengar juga akan memperhatikan siapa yang mengatakan atau menyampaikan semua pesan-pesan tersebut. Bahkan kadang-kadang unsur “siapa” ini lebih penting dari unsur “apa”. Memang pakaian bukanlah segala-galanya, tetapi banyak teori psikologi yang mengatakan bahwa penampilan akan membuat image lain bagi seseorang.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana konsep Psikologi Komunikator?
2.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas Psikologi Komunikator?
3.      Apa yang dimaksud psikologi pesan?
4.      Apa saja karakteristik makna pesan dan karekter pesan dalam psikologi pesan?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Konsep Psikologi Komunikator








Text Box: PSIKOLOGI KOMUNIKATOR





 





























Dalam konsep psikologi komunikator, proses komunikasi akan sukses apabila berhasil menunjukkan source credibility atau menjadi sumber kepercayaan bagi komunikan. Holand dan Weiss menyebut ethos sebagai credibility yang terdiri atas 2(dua) unsur, yaitu keahlian(expertise) dan dapat dipercaya(Trustworthinnes). Kedua unsur tersebut mutlak harus dimiliki oleh seorang komunikator agar bersifat kredibel.[1]
Aritoteles menyebutkan karakter komunikator sebagai ethos. Ethos terdiri dari pikiran baik (good sense), akhlak yang baik (good moral character), dan maksud yang baik (good will), serta perilaku yang baik (good manner)
Para cendekiawan modern menyebut ethos Aristoteles sebagai (1) Itikad Baik (good intentions), (2)Dapat Dipercaya (trustwordthinnes), (3) Kecakapan & Kemampuan (competence & expertness).

B.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efektifitas Komunikator
Pengaruh komunikasi kita pada orang lain, sebagaimana dikemukakan oleh Herbert C. Kelman berupa 3 hal, yaitu :
1.      Internalisasi
Internalisasi terjadi bila orang menerima pengaruh karena perilaku yang dianjurkan itu sesuai dengan sistem nilai yang dimilikinya. Kita menerima gagasan, pikiran, atau anjuran orang lain karena gagasan, pikiran, atau anjuran orang lain itu berguna untuk memecahkan masalah, penting dalam menunjukkan arah, atau dituntut oleh sistem nilai kita. Internalisasi terjadi ketika kita menerima anjuran orang lain atas dasar rasional. Misalnya kita berhenti merokok, karena kita ingin memelihara kesehatan kita karena kita tahu bahwa merokok tidak sesuai nilai-nilai yang kita anut.Dimensi ethos yang paling relevan dalam hal ini adalah kredibilitas, yaitu keahlian yang dimiliki oleh komunikator atau kepercayaan kita pada komunikator
2.      Identifikasi
Identifikasi terjadi bila individu mengambil perilaku yang berasal dari orang atau kelompok lain karena perilaku itu berkaitan dengan hubungan yang mendefinisikan diri secara memuaskan (satisfying self-defining relationship) dengan orang atau kelompok itu. Hubungan yang mendefinisikan diri artinya memperjelas konsep diri. Dalam identifikasi, individu mendefinisikan perannya sesuai dengan peranan orang lain. Dengan perkataan lain, ia berusaha seperti atau benar-benar menjadi orang lain. Dengan mengatakan apa yang ia katakan, melakukan apa yang ia lakukan, mempercayai apa yang ia percayai, individu mendefinisikan dirinya sesuai dengan orang yang mempengaruhinya.Identifikasi terjadi ketika anak berperilaku mencontoh ayahnya, murid meniru tindak tanduk gurunya, atau penggemar bertingkah dan berpakaian seperti bintang yang dikaguminya.Dimensi ethos yang paling relevan dengan identifikasi ialah atraksi (daya tarik komunikator)
3.      Ketundukan (compliance)
Ketundukan terjadi bila individu menerima pengaruh dari orang atau kelompok lain karena ia berharap memperoleh reaksi yang menyenangkan dari orang atau kelompok lain tersebut. Ia ingin memperoleh ganjaran atau menghindari hukuman dari pihak yang mempengaruhinya. Dalam ketundukan, orang menerima perilaku yang dianjurkan bukan karena mempercayainya, tetapi karena perilaku tersebut membantunya untuk menghasilkan efek sosial yang memuaskan.
Bawahan yang mengikuti perintah atasannya karena takut dipecat, pegawai negeri yang masuk parpol tertentu karena kuatir diberhentikan, petani yang menanam sawahnya karena ancaman pamong desa adalah contoh-contoh ketundukan, Dimensi ethos yang berkaitan dengan ketundukan ialah kekuasaan.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas komunikator adalah:
1.      Kredibilitas
Kredibilitas adalah kualitas, kapabilitas, atau kekuatan untuk menimbulkan kepercayaan. Dalam hal ini, kredibilitas adalah seperangkat persepsi komunikate tentang sifat-sifat komunikator. Dalam definisi ini terkandung dua hal: (1) Kredibilitas adalah persepsi komunikate, tidak inheren dalam diri komunikator; (2) Kredibilitas berkenaan dengan sifat-sifat komunikator.[2]
Hal-hal yang mempengaruhi persepsi komunikate tentang komunikator sebelum ia memberlakukan komunikasinya disebut prior ethos (Andersen, 1972:62). Sumber komunikasi memperoleh prior ethos karena berbagai hal, kita membentuk gambaran tentang diri komunikator dari pengalamn langsung dengan komunikator itu atau dari pengalaman wakilan (vicarious experiences). Misalnya, karena sudah lama bergaul dengan dia dan sudah mengenal integritas kepribadiannya atau karena kita sudah sering melihat atau mendengarnya dalam media massa.
Sementara itu koehler, anator dan appllbaum 4 komponen kredibilitas yaitu:
(1) dinamisme, Dinamisme bila dia dipandang sebagai orang yang bergairah, bersemangat, aktif, tegas dan berani
(2) sosiabilitas, Sosiabilitas kesan komunikate tentang komunikator sebagai orang periang dan seang bergaul.
(3) koorientasi, kesan komunikate tentang komunikator sebagai orang yang mewakili kelompok ang kita senangi, yanng mewakili nilai-nilai kita.
(4) kharisma, sifat luar biasa yang dimilikikomunikator yanng menarik dan mengendalikan komunikate, seperti magnet-magnet menarik benda-benda disekitarnya.
2.      Atraksi
Atraksi (attractiveness) adalah daya tarik komunikator yang besumber dari fisik. Seorang komunikator akan mempunyai kemampuan untuk melakukan perubahan sikap melalui mekanisme daya tarik (fisik), misalnya, komunikator disenangi atau dikagumi yang memungkinkan komunikate menerima kepuasan. Daya tarik fisik adalah salah satu yang dapat menyebabkan pihak lain (komunikate) merasa tertarik kepada komunikator. Misalnya, kita menyenangi orang-orang yang cantik atau tampan, atau mungkin kita akan menyenangi orang-orang yang memiliki banyak kesamaan dengan kita, atau mungkin juga kita akan menyenangi orang-orang yang memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari kita. Hal-hal itu terkait dengan daya tarik fisik, ganjaran, kesamaan, dan kemampuan. Komunikator yang menarik secara fisik akan memiliki daya tarik tersendiri yang memungkinkan ia memiliki pesona persuasif. [3]
3.      Kekuasaan
Kekuasaan adalah kemampuan menimbulkan ketundukan. Ketundukan timbul dari interaksi antara komunikator dan komunikate. Kekuasaan menyebabkan seorang komunikator “memaksakan” kehendaknya kepada orang lain, karena ia memiliki sumber daya penting (critical reseorces). Atas dasar kekuasaan French dan Raven menyebut beberapa jenis kekuasaan, yaitu:[4]
1.      Kekuasaan Koersif (coersive power): menunjukkan kemampuan komunikator untuk mendatangkan ganjaran atau mendatangkan hukuman bagi komunikate. Misalnya hukuman yang bersifat personal: benci atau kasih sayang.
2.      Kekuasaan Keahlian (Expert Power): berasal dari pengetahuan, pengalaman, keterampilan, atau kemampuan yang dimiliki komunikator. Seorang dosen memiliki kekuasaan keahlian, sehingga ia dapat menyuruh mahasiswanya menafsirkan suatu teori sesuai dengan pendapatnya.
3.      Kekuasaan Informasional (Informational Power): berasal dari isi komunikasi tertentu atau pengetahuan baru yang dimiliki oleh komunikator. Seorang ahli mesin dapat menyarankan manajernya untuk membeli mesin jenis/keluaran baru yang lebih baik cara kerjanya.
4.      Kekuasaan rujukan (Referent Power): Komunikate menjadikan komunikator sebagai kerangka rujukan untuk menilai dirinya. Misalnya: menjadikan komunikator sebagai teladan, karena perilakunya yang baik.
5.      Kekuasaan Legal (Legitimate Power): berasal dari seperangkat aturan atau norma yang menyebabkan komunikator berwewenang untuk melakukan suatu tindakan. Misalnya: seorang manajer bisa saja mengeluarkan pegawainya yang melanggar aturan
Penelitian psikologis tentang penggunaan kekuasaan menunjukkan bahwa orang memilih jenis kekuasaan yang dimilikinya tidak secara rasional.[5] Orang menggunakan kekuasaan koersif sering hanya karena ingin memenuhi kepuasan diri atau menunjang harga diri. Berikut ini disampaikan berbagai hasil penelitian yang berkenan dengan penggunaan kekuasaan dalam mempengaruhi perilaku orang lain :
1.      Komunikate akan lebih baik diyakini untuk melakukan perilaku yang tidak disukai dengan dijanjikan ganjaran daripada diancam dengan hukuman. Ancaman yang kuat bahkan dapat menimbulkan efek boomerang---alih-alih tunduk malah melawan (Heilman dan Garner, 1975).
2.      Efektifitas ancaman dapat ditingkatkan bila komunikator memberikan alternative perilaku ketundukan, sehingga komunikate masih dapat melakukan pilihan walaupun terbatas ( Heilman dan Garner, 1975)
3.      Kekuasaan informasional sering kali digunakan bila komunikator memandang prestasi jelek bawahannya disebabkan oleh kurangnya motivasi. (Kipnis, 1974)
4.      Bila atasan melihat bahwa prestasi jelek bawahannya disebabkan kekurangan dalam kemampuannya, ia akan menggunakan kekuasaan keahlian (kipnis, 1974).
5.      Kekuasaan koersif umumnya digunakan bila pemimpin (komunikator) menganggap komunikate tidak melakukan anjuran dengan baik karena ia bersikap negative atau mempunyai kecenderungan melawan pemimpin (goodstadt dan Hjelle, 1973).
6.      Kekuasaan kooersif juga sering digunakan oleh komunikator yang kurang percaya pada diri sendiri, yang merasa tidak berdaya (Goodstadt dan Hjelle, 1973), atau oleh orang-orang yang merasa tertekan, tertindas, dan teraniaya (Raven, 1974)
Tetapi apapun jenis kekuasaan yang dipergunakan, ketundukan adalah pengaruh yang paling lemah dibandingkan dengan identifikasi dan internalisasi. Dengan begitu, kekuasaan sepatutnya digunakan setelah kredibilitas dan atraksi komunikator.
C.    Konsep Psikologi Pesan
Dalam ilmu psikologi pesan terdapat konsep yang berupa teknik pengendalian perilaku orang lain yang disebut bahasa. Dengan bahasa yang merupakan kumpulan kata, komunikator dapat mengatur perilaku komunikate (orang lain). Berbicara atau berkomunikasi dengan menggunakan bahasa.[6] Dan selanjutnya, bahasa adalah pesan dalam bentuk kata-kata dan kalimat, yang disebut pesan linguistik.
Dalam pesan linguistic terdapat bahasa. Terdapat dua cara untuk mendefinisikan bahasa, yaitu secara fungsional dan formal. Secara fungsional berarti melihat bahasa dari segi fungsinya. Bahasa dapat dipahami apabila ada kesepakatan diantara anggota kelompok social untuk menggunakannya. Adapun secara formal, bahasa dinyatakan sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan tata bahasa.[7] Setiap bahasa memiliki peraturan bagaimana kata-kata harus disusun dan dirangkaian agar memiliki arti ( Jalaluddin Rakhmat, 1985:279)
Manusia mengucapkan kata-kata dan kalimat dengan cara-cara tertentu. Setiap cara berkata memberikan maksud tersendiri. Cara-cara ini kita sebut pesan paralinguistic. Tetapi manusia juga menyampaikan pesan dengan cara-cara lain selain dengan dengan bahasa, misalnya dengan isyarat; ini kita sebut pesan ekstralinguistik. Kita akan membicarakan pesan linguistic dengan menguraikan ihwal bahasa, hubungan bahasa dengan persepsi dan berfikir, makna dan teori general sematic dari Korzyski yang menganalisa proses penyandian (encoding)[8].
Pesan merupakan salah satu unsur yang penting dalam berkomunikasi, sehingga makna dari pesan itu sendiri memperlancar interaksi social antar manusia. Sementara tujuan dari komunikasi akan tercapai bila makna pesan yang disampaikan komunikator sama dengan makna yang diterima komunikan. Maka untuk mencapai tujuan itu, pesan yang disampaikan biasanya diungkapkan melalui perpaduan antara pesan verbal dan nonverbal.
a.       Pesan Verbal
pesan verbal atau pesan linguistik adalah pesan yang digunakan dalam komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai media. Pesan verbal ditransmisikan melalui kombinasi bunyi-bunyi bahasa dan digunakan untuk menyatakan pikiran, perasaan dan maksud. Dengan kata lain, pesan verbal adalah pesan yang diungkapkan melalui bahasa yang menggunakan kata-kata sebagai representasi realitas atau makna.
Pesan dalam komunikasi verbal disampaikan melalui dua jenis sinyal, yaitu tanda-tanda dan simbol-simbol. Tanda-tanda adalah sinyal yang memiliki hubungan sebab (causal) dengan pesan yang diungkapkan. Contoh, kita mengatakan bahwa jika seseorang meringis hal itu berarti dia sedang merasa kesakitan, karena rasa sakit merupakan sebuah penyebab mengapa orang meringis.
Sedangkan simbol-simbol merupakan produk konvensi social, oleh karena itu maknanya didasarkan pada kesepakatan yang dibuat oleh para pengguna atau penutur. Contoh, bagi orang Indonesia, kumpulan bunyi yang menghasilkan kata “rumah” bermakna bangunan yang digunakan manusia sebagai tempat tinggal karena memang disepakati demikian. Tidak ada alasan intrinsik mengapa konsep “bangunan yang digunakan manusia sebagai tempat tinggal” tidak diungkapkan dengan kata yang lain dan mengapa konsep tersebut diungkapkan dengan sekumpulan bunyi bahasa yang berbeda.
b.      Pesan Nonverbal
Secara sederhana, pesan nonverbal didefinisikan sebagai semua tanda atau isyarat yang tidak berbentuk kata-kata. Samovar dan Proter secara lebih spesifik mendefinisikan sebagai “semua ransangan (kecuali ransangan verbal) dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh indivdu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima”.[9]
Jadi, pesan nonverbal mencakup seluruh perilaku yang tidak berbentuk verbal yang disengaja atau tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan. Berdiam diri juga merupakan pesan nonverbal jika hal itu memberi makna bagi pengirim atau penerima.
Dalam komunikasi interpersonal, secara umum penyampaian maksud (makna) akan berlangsung efektif bila komunikator memadukan kedua bentuk pesan tersebut. Bahkan dalam rangka mengkomunikasikan perasaan, pesan nonverbal berperan lebih dominan.
Untuk menjelaskan esensi interaksi pesan verbal dan nonverbal dalam penyampaian makna, Devito (1995 : 175-176) menguraikan enam fungsi pesan nonverbal dalam komunikasi interpersonal :
1)      Fungsi aksentuasi, yang digunakan untuk membuat penekanan pada bagian tertentu pesan nonverbal, komunikator sering menggunakan pesan nonverbal, seperti meninggikan nada suara atau menggebrak meja.
2)      Fungsi komplemen, yang digunakan untuk menyampaikan nuansa tertentu yang tidak dapat diutarakan melaui pesan verbal, pembicara akan menggunakan pesan nonverbal.
3)      Fungsi kontradiksi, yang digunakan untuk mempertentangkan pesan verbal dengan pesan nonverbal dalam rangkan mencapai maksud tertentu. Misalnya, untuk menunjukkan bahwa dia hanya ‘berpura-pura’, pembicara dapat mengedipkan mata sewaktu mengucapkan pernyataan tertentu.
4)      Fungsi regulasi, yang digunakan untuk menunjukkan bahwa komunikator ingin mengatakan sesuatu, dengan cara membuat isyarat tangan atau mencondongkan tubuh ke depan.
5)      Fungsi repetisi, yang digunakan untuk mengulangi maksud yang disampaikan melalui pesan verbal, seperti “Kamu menerima lamarannya?” dengan menaikkan alis mata dan menunjukkan ekspresi wajah tidak percaya.
6)      Fungsi substitusi, yang digunakan untuk mengganti pesan verbal tertentu seperti “Saya tidak setuju” dengan pesan nonverbal berupa gelengan kepala.
D.    Karakteristik Makna Pesan dan Karakteristik Pesan
Karakteristik makna pesan, meliputi :
1.             Makna ditentukan oleh komunikator.
Makna tidak hanya ditentukan oleh pesan (baik verbal, nonverbal, atau keduanya) tetapi juga ditentukan oleh interaksi pesan-pesan itu dan pikiran serta perasaan komunikan.[10] Ketika berkomunikasi, komunikan tidak hanya ‘menerima’ makna tapi juga ‘menciptakan’ makna. Oleh karena itu, pemahaman atas suatu makna tidak dapat dilakukan hanya dengan menganalisis pesan, tetapi juga dengan memahami pengirimnya.[11] Sebagai contoh, makna berupa pujian yang menyatakan seseorang berotak cerdas cenderung dimaknai sebagai penghinaan bila hal itu disampaikan ketika orang tersebut baru mengetahui dia gagal dalam sebuah ujian.
2. Makna yang disampaikan lewat pesan verbal dan nonverbal tidak lengkap
Penyampaian pikiran atau perasaan dilakukan komunikator dengan menggunakan seperangkat simbol. Pada dasarnya simbol-simbol itu mewakili hanya sebagian dari totalitas pikiran atau perasaan yang ingin disampaikan. Karena makna yang diterima dari orang lain bukan makna yang utuh, setiap komunikan hanya dapat mengestimasi makna tersebut berdasarkan pesan yang diterima dengan menggunakan pikiran dan perasaannya sendiri.
3. Makna bersifat unik
Karena makna ditentukan oleh pesan yang diterima dan pikiran serta perasaan komunikan, maka orang yang berbeda tidak pernah menginterpretasi sebuah pesan dengan makna yang sama. Bahkan, karena setiap individu berubah, pesan yang diterima oleh seseorang pada saat yang berbeda akan diinterpretasikan dengan makna yang berbeda pula. Misalnya, pesan “I love you” yang diterima pemuda berusia 20 tahun dari pacarnya, akan diberi makna yang berbeda oleh orang ketika dia berusia 50 tahun.
4. Makna mencakup makna denotatif dan konotatif
Makna denotatif adalah definisi objektif dari kata atau pesan nonverbal dan bersifat universal. Makna konotatif merupakan makna subjektif dan bersifat emosional. Anggukan kepala yang normal, yang digunakan untuk merespon pertanyaan “Kamu setuju?” mengungkapkan makna denotatif. Namun bila anggukan kepala itu disertai dengan kedipan mata atau senyuman sehingga terkesan tidak biasa, makna yang terungkap lebih cenderung bersifat konotatif.
5. Makna harus didasarkan pada konteks
Kata atau tingkah nonverbal yang sama, bisa mengungkapkan makna yang sangat berbeda bila digunakan dalam konteks yang berbeda. Ugkapan “Apa kabar?” yang disampaikan ketika berpapasan dengan seorang teman bermakna “Halo”. Tapi bila ungkapan itu disampaikan ketika mengunjungi teman yang sakit, makna yang terungkap adalah “kondisi kesehatan”.
Karakteristik Pesan
Disamping karakteristik makna pesan, pemahaman tentang karakteristik pesan juga sangat dibutuhkan sebagai landasan untuk mengetahui bagaimana makna disalurkan melalui pesan oleh komunikator kepada komunikan.
1. Pesan berbentuk paket
Pada saat berkomnikasi, seluruh bagian sistem komunikasi biasanya bekerjasama untuk menyampaikan suatu kesatuan makna (unified meaning). Ketika seseorang mengungkapkan kemarahan dengan kata-kata, getaran dan volume suara, ekspresi wajah, sorot mata dan sikap tubuhnya juga memancarkan pesan kemarahan itu.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa pesan selalu diungkapkan dalam satu paket gabungan antara unsur-unsur verbal dan nonverbal. Paket pesan ini biasanya dianggap sebagai hal yang wajar sehingga tidak begitu diperhatikan oleh komunikan, kecuali dia mendeteksi adanya double-bind messages, atau kontradiksi antara pesan verbal dan pesan nonverbal yang digunakan.
2. Pesan dibentuk dengan menggunakan kaidah tertentu
Setiap pesan dibentuk dan diungkapkan dengan menggunakan kaidah-kaidah tertentu. Pesan verbal dibentuk dan digunakan dengan mengikuti aturan-aturan gramatika dan pragmatik yang berlaku dalam bahasa. Pesan nonverbal juga dibentuk dan diungkapkan berdasarkan seperangkat norma atau peraturan yang menggariskan tingkah-laku nonverbal apa yang sesuai, diizinkan, atau diharapkan dalam situasi sosial tertentu.
3. Pesan disampaikan dalam tingkat kelangsungan yang variatif
Sebagian pesan disampaikan secara langsung dan sebagian lagi secara tidak langsung. Pesan langsung ditandai oleh adanya pernyataan langsung mengenai preferensi atau keinginan komunikator, sedangkan dalam pesan tidak langsung si pembicara berupaya menyuruh pendengarnya mengatakan atau melakukan sesuatu tanpa menyatakannya secara eksplisit.
4. Pesan bervariasi dalam tingkat kepercayaan
Terdapat dua alasan mengapa komunikan cenderung lebih mempercayai makna yang terungkap melalui pesan nonverbal ketika dia mendeteksi konflik antara pesan verbal dan nonverbal yang dikirim komunikator. Pertama, pesan verbal lebih mudah dipalsukan. Kedua, pesan nonverbal terbentuk diluar kendali kesadaran individu.
Sinyal nonverbal biasanya dapat digunakan untuk menebak apakah pembicara berbohong atau tidak. Sinyal-sinyal itu juga sangat membantu untuk mengungkapkan kebenaran yang coba ditutup-tutupi oleh kebohongan yang dideteksi.
5. Pesan dapat digunakan dalam metakomunikasi
Seperti telah dijelaskan pada bagian Tinjauan Psikologis Terhadap Peran Pesan Nonverbal di atas, pesan nonverbal memiliki fungsi metakomunikatif yang sangat diperlukan untuk mencapai komunikasi yang berkualitas tinggi. Pesan metakomunikatif berfungsi memberikan informasi tambahan untuk memperjelas maksud. Hal itu dilakukan dengan memberdayakan fungsi aksentuasi, repetisi, subsitusi, kontradiksi, dan komplemen pesan nonverbal bagi pesan verbal.

















KESIMPULAN

Dalam konsep psikologi komunikator, proses komunikasi akan sukses apabila berhasil menunjukkan source credibility atau menjadi sumber kepercayaan bagi komunikan.
Pengaruh komunikasi kita pada orang lain, sebagaimana dikemukakan oleh Herbert C. Kelman berupa 3 hal, yaitu : Internalisasi, Identifikasi, dan Ketundukan (compliance)
Dalam ilmu psikologi pesan terdapat konsep yang berupa teknik pengendalian perilaku orang lain yang disebut bahasa. Dengan bahasa yang merupakan kumpulan kata, komunikator dapat mengatur perilaku komunikate (orang lain). Berbicara atau berkomunikasi dengan menggunakan bahasa. Dan selanjutnya, bahasa adalah pesan dalam bentuk kata-kata dan kalimat, yang disebut pesan linguistik.
Pesan merupakan salah satu unsur yang penting dalam berkomunikasi, sehingga makna dari pesan itu sendiri memperlancar interaksi social antar manusia. Sementara tujuan dari komunikasi akan tercapai bila makna pesan yang disampaikan komunikator sama dengan makna yang diterima komunikan. Maka untuk mencapai tujuan itu, pesan yang disampaikan biasanya diungkapkan melalui perpaduan antara pesan verbal dan nonverbal
Karaketristik makna pesan meliputi : 1) makna ditentukan oleh komunikator, 2). Makna yang disampaikan lewat pesan verbal dan nonverbal tidak lengkap, 3). Makna bersifat unik, 4) Makna mencakup makna denotatif dan konotatif, 5) Makna harus didasarkan pada konteks.




DAFTAR PUSTAKA
Muhammad, Arni, Komunikasi Organisasi, Jakarta : Bumi Aksara, 2000
Syam, Nina, Psikologi Sebagai AkarIlmu Komunikasi, Bandung : Simbiosa Rekatama Media, 2011
Liliweri, Alo, Dasar-Dasar Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2003.
Mulyana, Deddy, Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2007.
Rahmat, Jalaludin, Psikologi Komunikasi, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2005.
 http://mrlungs.wordpress.com/2011/01/02/psikologi-pesan/

http://jurusankomunikasi.blogspot.com/2009/04/apa-itu-psikologi-komunikasi.html

http://belajar-komunikasi.blogspot.com/2011/02/psikologi-komunikator.html




[1] Nina W. Syam, Psikologi Sebagai  Akar  Komunikasi (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2011), hal.
[2] Jalaludin Rakhmat, Psikologi Komunikasi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), hal. 257
[3] http://belajar-komunikasi.blogspot.com/2011/02/psikologi-komunikator.html
[4] Nina W. Syam, Psikologi Sebagai  Akar  Komunikasi, hal. 125
[5] Ibid. hal 127

[6] Ibid. hal 127
[7] http://jurusankomunikasi.blogspot.com/2009/04/apa-itu-psikologi-komunikasi.html
[8] http://semutmanis.wordpress.com/2009/10/30/psikologi-pesan-komunikasi/

[9] Liliweri, Alo, Dasar-Dasar Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2003, hal, 78

http://jurusankomunikasi.blogspot.com/2009/04/apa-itu-psikologi-komunikasi.html
[11] Muhammad, Arni, Komunikasi Organisasi, Jakarta : Bumi Aksara, 2000, hal 88.

Rabu, 14 Maret 2012

laporan BK kel&indv


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manusia adalah makhluk yang dinamis, selalu berubah pada setiap kondisi yang berbeda. Manusia dilahirkan sebagai makhluk yang paling sempurna, namun dibalik itu semua masih banyak kekurangan dan membutuhkan kerjasama dengan orang lain. Sebagai makhluk sosial manusia mempunyai permasalahan yang sangat kompleks dan membutuhkan penyelesaian dengan segera.
  Lahirnya bimbingan dan konseling memberikan jawaban atas berbagai kesulitan manusia dalam memecahkan permasalahan dalam hidupnya. Dalam perkembangannya Bimbingan dan konseling telah diterapkan disekolah, memberikan beberapa layanan kepada siswa. Seperti layanan konseling individu, bimbingan kelompok dan konseling kelompok.
Layanan bimbingan dan konseling kelompok dan individu merupakan proses pemberian bantuan yang diberikan kepada para peserta didik dalam rangka upaya menemukan pemahaman pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan.[1]
SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo adalah sekolah dengan peserta didik yang sangat heterogen. pelaksanaan pembelajaran dibagi menjadi 2, sekolah pagi (klas intensiv) dan sekolah sore (klas regular).  Tak sedikit diantara mereka berasal dari kalangan atas, kalangan menegah ataupun dari kalangan bawah. Sehingga disana sangat wajar jika sering terjadi permasalahan-permasalahan baik masalah belajar, masalah social maupun masalah yang lain. Berawal dari permasalahan tersebut SMA WAHID HASYIM 2 Sidoarjo mendirikan ruang dan berbagai fasilitas bimbingan dan konseling yang dimaksudkan untuk memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dan mengatasi permasalahan yang dialaminya.
B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas dapat kami simpulkan rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah kondisi (gambaran) umum SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo?
2.      Bagaimana Pelaksanaan Konseling Individu di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo?
3.      Bagaimana Pelaksanaan Konseling kelompok di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo?
4.      Bagaimana Pelaksanaan Bimbingan Kelompok di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo?
5.      Bagaimanakah teknik pemberian layanan informasi kepada siswa di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo?
C.    Tujuan
1.      Mengetahui  kondisi (gambaran) umum SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo
2.      Mengetahui Pelaksanaan Konseling Individu di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo
3.      Mengetahui Pelaksanaan Konseling kelompok di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo
4.      Mengetahui Pelaksanaan Bimbingan Kelompok di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo
5.      Mengetahui teknik pemberian layanan informasi kepada siswa di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo
D.    Manfaat Penelitian
Kegunaan penelitian yang berjudul "Pelaksanaan Bimbingan Konseling Individu dan Kelompok" dapat diklasifikasikan menjadi dua, yakni kegunaan secara teoritis dan  praktis.
  1. Kegunaan secara teoritis adalah untuk menambah khasanah keilmuan di bidang bimbingan dan konseling . hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pustaka atau referensi bagi mahasiswa, khususnya bagi guru pembimbing dan masyarakat luas pada umumnya serta dapat dijadikan sebagai pijakan awal atau fundamen untuk penelitian lanjutan.
2.      Sedangkan kegunaan secara praktis adalah untuk mengetahui pelaksanaan bimbingan dan konseling kelompok dan individu di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo. Kemudian mengkroscek kesesuaian antara teori aplikasi pelaksanaan bimbingan dan konseling individu dan kelompok di sekolah tersebut.
 bagi peneliti sendiri, penelitian ini bisa  menambah wawasan tentang ilmu ke-BK-an serta untuk memenuhi tugas penelitian dalam mata kuliah “bimbingan konseling kelompok dan individu”.           
E.     Metode Penelitian
Penelitian yang peneliti lakukan di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo menggunakan penelitian kualitatif, yakni suatu bentuk penelitian yang menghasilkan data deskriptif ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia.[2]
Pada penelitian ini peneliti langsung terjun ke lapangan untuk menyelidiki objek penelitian yaitu SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo. Sedangkan dalam pengumpulan data-datanya  peneliti menggunakan metode sebagai berikut:
  1. Metode observasi
Metode observasi yaitu pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian.
  1. Metode interview (wawancara)
Metode Interview merupakan pengumpulan data atau informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula. Dalam interviu ini peneliti secara langsung dengan menggunakan pertanyaan yang sesuai dengan kajian yang ditujukan kepada pelaksana Bimbingan dan Konseling.



















BAB II
PEMBAHASAN
A.  KONSEP BK
            Bimbingan dan konseling merupakan serangkaian program layanan yang diberikan oleh suatu lembaga pendidikan kepada peserta didik agar mereka mampu berkembang lebih baik dan lebih optimal. Bimbingan konseling diselenggarakan di sekolah-sekolah mulai dari tingkat dasar, bahkan pra sekolah sampai dengan tingkat tinggi (Rahman, 2003: 11).[3]
A.1 Pengertian Bimbingan
Secara etimologis, kata bimbingan merupakan terjemahan dari kata “guidance” yang artinya menunjukkan, membimbing, menuntun ataupun membantu. Sesuai dengan istilahnya, maka secara umum bimbingan dapat diartikan sebagai suatu bantuan atau tuntunan.[4] Namun meskipun demikian, tidak berarti semua bentuk bantuan atau tuntunan adalah bimbingan. Misalnya seorang mahasiswa membantu seorang nenek yang ingin menyebrang. Bukan bantuan seperti ini yang dimaksud.
Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada individu dari seorang yang ahli. Akan tetapi, tidak sesederhana itu untuk memahami pengertian bimbingan. Pengertian bimbingan formal lebih diungkapkan orang setidaknya sejak abad ke-20, yang diprakarsai oleh Frank Parson pada tahun 1908. sejak itu muncul rumusan tentang bimbingan sesuai dengan perkembangan pelayanan bimbingan, sebagai suatu pekerjaan yang khas yang ditekuni oleh para peminat dan ahlinya.[5]
Banyak orang yang mengatakan bahwa bimbingan dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Pendapat tersebut dapat dikatakan benar jika ditinjau dari segi bahasa secara umum, yaitu memberikan bantuan, namun memberikan bantuan bukanlah berarti bimbingan. Seperti salah satu contohnya adalah seorang guru membantu kesulitan anak dalam menjawab salah satu soal yang sedang dikerjakan siswa. Perlakuan guru tersebut dikatakan memberikan bantuan tetapi bukan merupakan bimbingan. Untuk memahami lebih jauh tentang pengertian bimbingan, di bawah ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli.
ü  Rachman Natawidjaja (1988: 7) menyatakan bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya sendiri, sehingga ia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat serta kehidupan umumnya. Dengan demikian ia dapat mengecap kebahagiaan hidup dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi kehidupan masyarakat umumnya. Bimbingan membantu individu mencapai perkembangan diri secara optimal sebagai makhluk sosial.
ü  Bimbingan adalah proses bantuan yang diberikan kepada seseorang agar ia mampu memahami diri, menyesuaikan diri dan mengembangkan diri sehingga mencapai kehidupan yang sukses dan bahagia. Tujuan akhir dari layanan bimbingan dan konseling itu adalah mencapai kehidupan yang tidak hanya sukses, namun juga bahagia. Hal ini dicapai dengan 3M yaitu memahami, menyesuaikan dan mengembangkan diri (Parson dalam Rahman, 2003: 13).
ü  Bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara terus menerus supaya individu tersebut dapat memahami dirinya sendiri, sehingga ia sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat (Natawidjaja dalam Rahman, 2003: 13).
ü  Hallen (2005: 5) memaparkan beberapa pengertian bimbingan adalah sebagai berikut :
a. Suatu proses yang berkesinambungan sehingga bantuan itu diberikan secara sistematis, berencana, terus menerus dan terarah kepada tujuan tertentu.
b. Suatu proses membantu individu. Membantu dalam hal ini berarti dalam kegiatan bimbingan tidak terdapat adanya unsur paksaan.
c. Bantuan diberikan kepada setiap individu yang memerlukannya di dalam proses perkembangannya. Hal ini mengandung arti bahwa bimbingan memberikan bantuan kepada setiap individu baik anak-anak, remaja maupun dewasa.
ü  Proses bimbingan memiliki beberapa karakter khusus yang membedakan bimbingan dengan kegiatan lain yaitu sebagaimana dijelaskan oleh Prayitno dan Erman Amti (1994: 98) antara lain :
a. Bimbingan merupakan suatu proses.
Hal ini berarti layanan bimbingan bukanlah aktivitas yang sekali jadi, melainkan melalui perjalanan panjang penuk dinamika. Untuk itu diperlukan kesabaran dan keuletan dari semua pihak baik dari konselor maupun klien.
b. Bimbingan merupakan pemberian bantuan
Sejak awal konselor harus berlapang dada untuk memberikan bantuan dengan segenap kemampuan. Bantuan yang diberikan lebih bersifat non materi yakni penyadaran individu untuk pengembangan pribadi lebih baik dan penyadaran akan potensi yang dimiliki untuk dapat menyelesaikan masalah sendiri.
c. Bantuan diberikan kepada individu
Hal ini dilakukan baik secara perorangan atau individu maupun secara perkelompok. Sasaran bimbingan adalah individu-individu, dapat diberikan secara kelompok maupun individu. Hal ini disebabkan karena setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda, walaupun mereka berada dalam satu kelompok yang sama.
d. Pemecahan masalah oleh klien.
Pemecahan masalah dilakukan oleh klien sendiri bukan oleh konselor. Tugas seorang konselor adalah mengembangkan kemampuan klien untuk dapat menyelesaikan masalahnya sendiri dan mengembangkan diri, bukan untuk mencarikan jalan keluar bagi kliennya. Sebab klien lebih berhak dalam menentukan sendiri masa depan dirinya sendirri sesuai dengan keberadaannya.
e. Bimbingan diberikan kepada semua siswa.
Semua siswa berhak mendapatkan layanan bimbingan baik bermasalah ataupun tidak. Sebab tugas terpenting seorang konselor adalah bukan membantu menyelesaikan masalah tetapi membantu mengembangkan diri, sebab semua siswa memiliki potens yang berhak untuk dikembangkan.
ü  Menurut Sukardi (1988: 2) bimbingan membantu individu mencapai suatu kehidupan yang lebih bermakna dan memberikan kepuasan pribadi dan bermakna bagi masyarakat. Menurut beliau, meskipun aspek pilihan jabatan selalu ditekankan dalam bimbingan, tetapi ruang lingkup bimbingan jauh lebih luas dari itu, yaitu menyangkut seluruh individu dalam semua aspek kehidupan dan interaksinya antara individu dalam masyarakat.
ü  Gunawan (1992: 41) menyatakan bahwa bimbingan merupakan suatu proses penemuan diri dan dunianya sehingga individu dapat memilih, merencanakan, memutuskan, memecahkan masalah, menyesuaikan secara bijaksana dan berkembang sepenuh kemampuan dan kesanggupannya. Individu juga diharapkan dapat memimpin diri sendiri sehingga individu dapat menikmati kebahagiaan batin yang sedalam-dalamnya dan produktif bagi lingkungannya.
ü  Bimbingan adalah upaya membantu individu untuk memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-kesempatan pendidikan, jabatan dan pribadi yang mereka miliki atau dapat mereka kembangkan. Bimbingan juga sebagai suatu bentuk bantuan yang sistematis untuk dapat memperoleh penyesuaian yang baik terhadap sekolah dan kehidupannya (Miller, dalam Rahman, 2003: 12).
ü  Bimbingan terjemahan dari guidance yang didalamnya terkandung beberapa makna. Sertzer dan Stone (1966:3) mengemukakan bahwa guidance berasal dari kata guide yang mempunyai arti to direct, pilot, manager, or steer, artinya: menunjukkan,mengarahkan,menentukan, mengatur, atau mengemudikan.(Victoria Neufedt, Ed., 1988: 599)[6]
ü Menurut Lefever, dalam Mc Daniel, 1995
Bimbingan adalah bagian dari proses pendidikan yang teratur dan sistematik guna membantu pertumbuhan anak muda atas kekuatannya dalam menentukan dan mengarahkan hidupnya sendiri, yang pada akhirnya ia dapat memperoleh pengalaman-pengalaman yang dapat memberikan sumbangan yang berarti dalam masyarakat.
ü  Manurut Chiskolm
“Bimbingan membantu individu untuk bias mengenali informasi tentang dirinya sendiri.”
ü  Menurut Bernard&Fullmer, 1969
“Bimbingan merupakan kegiatan yang bertujuan meningkatkan realisasi pribadi setiap individu.”
ü  Menurut Mathewson, 1969
“Bimbingan merupakan pedidikan dan pengembangan yang menekankan proses belajar yang sistematik .”
ü  Dalam peraturan pemerintah No. 29 tahun 1990 tentang pendidikan menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan.”
         Berdasarkan pengertian diatas, dapat dipahami bahwa bimbingan pada prinsipnya adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu dalam hal memahami dirinya sendiri, menghubungkan pemahaman tentang dirinya sendiri dengan linkungan, memilih, menentukan, dan menyusun rencana sesuai dengan konsep dirinya dan tuntutan lingkungan berdasarkan norma-norma ynag berlaku.[7]
A.2 Pengertian Konseling
Istilah konseling berasal dari bahasa Inggris “to counsel” yang secara etimologis berarti “to give advice” atau memberi saran dan nasehat (Hallen, 2005: 9). Disamping itu, istilah bimbingan selalu dirangkaikan dengan istilah konseling. Hal ini disebabkan karena bimbingan dan konseling merupakan suatu yang integral. Konseling merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan di antara beberapa teknik lannya. Bimbingan itu lebih luas dari istilah konseling, dan konseling merupakan alat yang paling penting dari usaha pelayanan bimbingan.[8] Agar lebih jelas mengenai defenisi konseling, di bawah ini akan dipaparkan pendapat para ahli mengenai konseling.
Pada awal perkembangan di Indonesia, istilah yang dikenal sebelum konseling adalah penyuluhan. Namun sejak tahun 1980-an istilah penyuluhn diubah menjadi konseling. Hal ini dimaksudkan untuk membedakan dengan istilah penyuluhan pertanian, penyuluhan hukum, penyuluhan keluarga berencana dan sebagainya.[9]
ü  Rahman (2003: 15) berpendapat bahwa konseling adalah kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk di atasi sendiri oleh yang bersangkutan dimana ia diberi bantuan pribadi dan langsung dalam pemecahan masalah tersebut. Konselor tidak memecahkan masalah untuk klien, konseling harus ditujukan pada perkembangan yang progresif dari individu untuk memecahkan masalahnya sendiri tanpa bantuan.
ü  Counseling is series of direct contacs with the individual which aims offer him a assistance in changing his attitude and behaviour”. Konseling adalah serangkaian hubungan langsung dengan individu yang bertujuan untuk membantu dia dalam mengubah sikap dan tingkah lakunya (Roger dalam Hallen, 2005: 9).
ü  Konseling merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan dimana proses pemberian bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung dan tatap muka antara guru pembimbing dengan klien dengan tujuan agar klien mampu untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu mengarahkan dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki ke arah perkembangan yang optimal, sehingga ia dapat mencapai kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial (Robinson dalam Hallen, 2005: 10).
ü  Menurut Donald G. Mprtenson & Alan M, Sch muller
Konseling dapat diartikan sebagai suatu proses hubungan seorang dengan seorang, dimana seorang tersebut dibantu oleh yang lain untunk meningkatkan kemampuannya dalam menghadapi masalahnya.
ü  ASCA(American School Counselor Assosiation) mengemukakan:
Konseling adalah hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh dengan sifat penerimaan dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien. Konselor mempergunakan kemampuannya untuk membantu klien mengatasi masalah-masalahnya.[10]
ü  Menurut Prayitno Dan Erman Amti (2004:105)
      Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.[11]
ü  Menurut Winkel (2005:34)
Konseling sebagai serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus.[12]
Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa konseling adalah upaya bantuan yang diberikan seorang konselor yang terlatih dan berpengalaman, terhadap individu-individu yang membutuhkannya, agar individu tersebut berkembang potensinya secara optimal, mampu mengatasi masalah, dan mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang selalu berubah.
A.1.1 Konsep BK Individu
Bimbingan konseling individu merupakan salah satu cara pemberian bantuan secara perseorangan. Pemberian  bantuan dilaksanakan secara face to face relationship (hubungan langsung muka ke muka atau hubungan langsung empat mata), antara konselor dan klien.biasanya masalah-masalah yang dipecahkan melalui teknik ini adalah masalah-masalah yang besifat pribadi.[13]
Layanan konseling perorangan bertujuan memungkinkan klien mendapatkan layanan langsung secara tatap muka dengan guru pembimbing dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan.[14] Materi yang dapat diangkat melalui layanan konseling perorangan ini tidak terbatas. Layanan ini dilaksanakan untuk segenap masalah siswa secara perorangan dalam segenap bidang bimbingan, yaitu bimbingan pribadi, belajar, sosial dan karir.
Setiap Klien secara perorangan dapat membawa masalah yang dialaminya kepada guru pembimbing. Lebih lanjut guru pembimbing akan melayani semua siswa dengan berbagai permasalahanya itu tanpa membedakan pribadi siswa atau permasalah yang dihadapinya.
A.1.2 Konsep BK Kelompok
Kelompok adalah serangkaian individu yang mempunyai persamaa-persamaan yang saling berdekatan dan yang terlibat dalam suatu tugas bersama. Jadi anggota-anggota kelompok merasa saling tergantung dalam mencapai suatu tujuan bersama. Dengan demikian, sekumpulan orang masing-masing bekerja sendiri-sendiri tidaklah tergolong kelompok dalam devinisi fiedler ini.[15]
a.      Pengertian Bimbingan Kelompok
ü  Menurut Dewa Ketut Sukardi (2002 :48),bimbingan kelompok yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan sejumlah peserta didik secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari nara sumber tertentu (terutama dari pembimbing/ konselor) yang berguna untuk menunjang kehidupannya sehari-hari baik individu maupun sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat serta untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
ü  Menurut Prayitno ( 1995 : 62 ) menyatakan Bimbingan kelompok berarti memanfaatkan dinamika untuk mencapai tujuan-tujuan bimbingan dan konseling. Bimbingan kelompok lebih merupakan suatu upaya bimbingan kepada individu-individu melalui kelompok.
ü  Menurut Juntika (2003 : 31),bimbingan kelompok merupakan bantuan terhadap individu yang dilaksanakan dalam situasi kelompok. Bimbingan kelompok dapat berupa penyampaian informasi ataupun aktivitas kelompok membahas masalah-masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi dan sosial.
ü  Menurut Prof. Mungin (2005 : 17) menyatakan bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan kelompok di mana pimpinan kelompok menyediakan informasi-informasi dan mengarahkan diskusi agar anggota kelompok menjadi lebih sosial atau untuk membantu anggota-anggota kelompok untuk mencapai tujuan-tujuan bersama.
ü  Menurut W.S.Winkel dan M.M. Sri Hastuti. (2004:111). Bimbingan kelompok dilakukan bilamana siswa yang dilayani lebih dari satu orang. Bimbingan kelompok dapat terlaksana dengan berbagai cara, misalnya dibentuk kelompok kecil dalam rangka layanan Konseling (konseling kelompok), dibentuk kelompok diskusi, diberikan bimbingan karier kepada siswa-siswi yang tergabung dalam satu kesatuan kelas di SMA. Dalam bimbingan kelompok merupakan sarana untuk menunjang perkembangan optimal masing-masing siswa, yang diharapkan dapat mengambil manfaat dari pengalaman pendidikan ini bagi dirinya sendiri.[16]
Jadi dapat disimpulkan kegiatan bimbingan kelompok merupakan salah satu layanan bimbingan dan konseling yang diberikan kepada sejumlah individu dalam bentuk kelompok dengan memanfaatkan dinamika kelompok untuk membahas topik tertentu  yang dipimpin oleh pemimpin kelompok bertujuan menunjang pemahaman, pengembangan dan pertimbangan pengambilan keputusan/ tindakan individu.
b.   Pengertian Konseling Kelompok
ü  Menurut Dewa Ketut Sukardi (2003) konseling kelompok merupakan konseling yang di selenggarakan dalam kelompok, dengan memanfaatkan dinamika kelompok yang terjdi di dalam kelompok itu. Masalah-masalah yang dibahas merupakan masalah perorangan yang muncul di dalam kelompok itu, yang meliputi berbagai masalah dalam segenap bidang  bimbingan (bidang bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir).
ü  Menurut Heru Mugiarso (2007) konseling kelompok merupakan layanan konseling yang diselenggarakan dalam suasana kelompok. Materi umum layanan konseling kelompok diselenggarakan dalam kelompok yang memanfaatkan dinamika kelompok yang meliputi segenap bidang bimbingan. Masalah tersebut dilayani melalui pembahasan yang intensif oleh seluruh anggota kelompok.
ü  Menurut Prayitno (2004) layanan konseling kelompok pada dasarnya adalah layanan konseling perorangan yang dilaksanakan didalam suasana kelompok. Disana ada konselor dan ada klien, yaitu para anggota kelompok (yang jumlahnya minimal dua orang). Disana terjadi hubungan konseling dalam suasana yang diusahakan sama seperti dalam konseling perorangan yaitu hangat, permisif, terbuka dan penuh keakraban. Dimana juga ada pengungkapan dan pemahaman masalah klien, penelusuran sebab-sebab timbulnya masalah, upaya pemecahan masalah (jika perlu dengan menerapkan metode-metode khusus), kegiatan evaluasi dan tindak lanjut.
ü  Menurut Winkel (2007) konseling kelompok adalah suatu proses antarpribadi yang dinamis, yang terpusat pada pemikiran dan perilaku yang disadari.
ü  Menurut Tatik Romlah (2001) konseling kelompok adalah upaya untuk membantu individu agar dapat menjalani perkembangannya dengan lebih lancar, upaya itu bersifat pencegahan serta perbaikan agar individu yang bersangkutan dapat menjalani perkembangannya dengan lebih mudah.
ü  Menurut Gazda (1989) dalam Tatik Romlah (2001) konseling kelompok adalah suatu proses antar pribadi yang dinamis yang memusatkan diri pada pikiran dan perilaku yang sadar dan melibatkan fungsi-fungsi seperti sikap permisif, orientasi pada kenyataan, katarsis, saling pengertian, saling menerima dan membantu.
               Dari uraian-uraian yang disampaikan beberapa ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwasannya konseling kelompok merupakan salah satu layanan konseling yang di selenggarakan dalam suasana kelompok yang memanfaatkan dinamika kelompok, serta terdapat hubungan konseling yang hangat, terbuka, permisif dan penuh keakraban.[17] Hal ini merupakan upaya individu untuk membantu individu agar dapat menjalani perkembangannya dengan lebih lancar, upaya itu bersifat preventif dan perbaikan. Sebab, pada konseling kelompok juga ada pengungkapan dan pemahaman masalah klien, penelusuran sebab-sebab timbulnya masalah, upaya pemecahan masalah, kegiatan evaluasi dan tindak lanjut.
       
A.1.2.1 Tujuan Bimbingan dan Konseling Kelompok
a.   Tujuan Bimbingan kelompok
1)   Tujuan Umum
Secara umum layanan bimbingan kelompok bertujuan untuk pengembangan kemampuan bersosialisasi, khususnya kemampuan berkomunikasi perserta layanan (siswa).
2)    Tujuan Khusus
Secara lebih khusus layanan bimbingan kelompok bertujuan untuk mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang menunjang perwujudan tingkah laku yang lebih efektif, yaitu peningkatan kemampuan berkomunikasi baik verbal maupun non verbal para siswa.
Menurut Prayitno (1995 : 70) tujuan yang ingin dicapai dalam bimbingan kelompok yaitu penguasaan informasi untuk tujuan yang lebih luas, pengembangan pribadi, dan pembahasan masalah atau topik-topik umum secara luas dan mendalam yang bermanfaat bagi para anggota kelompok[18]
Menurut Mungin Eddy Wibowo, (2005:17).Tujuan bimbingan kelompok adalah untuk memberi informasi dan data untuk mempermudah pembuatan keputusan dan tingkah laku.
b.   Tujuan Konseling Kelompok
1)  Menurut Mungin Eddy Wibowo, (2005:20). Tujuan yang ingin dicapai dalam konseling kelompok, yaitu pengembangan pribadi, pembahasan dan pemecahan masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing anggota kelompok, agar terhindar dari masalah dan masalah terselesaikan dengan cepat melalui bantuan anggota kelompok yang lain.
2)   Menurut Dewa Ketut Sukardi, (2002:49).Tujuan konseling kelompok meliputi:
a)      Melatih anggota kelompok agar berani berbicara dengan orang banyak
b)      Melatih anggota kelompok dapat bertenggang rasa terhadap teman sebayanya
c)      Dapat mengembangkan bakat dan minat masing-masing anggota kelompok
d)     Mengentaskan permasalahan - permasalahan kelompok.
3)  Menurut Prayitno, (1997:80). Konseling kelompok memungkinkan siswa memperoleh kesempatan bagi pembahasan dan pengentasan masalah yang dialami melalui dinamika kelompok.
B.  MASALAH BK INDIVIDU DAN KELOMPOK
1)      Masalah belajar
Bimbingan belajar merupakan aspek yang di bahas dalam layanan bimbingan konseling dan penting diselenggarakan di sekolah. Beberapa pengalaman menunjukkan bahwa kegagalan yang dialami oleh para siswa dalam belajar tidak selalu dikarenakan oleh kebodohan  atau rendahnya  tingkat kepandaian(intelegensi). Sesungguhnya kegagalan  sering terjadi  disebabkan mereka  tidak mendapatkan layanan dan bimbingan yang memadai.[19] Oleh sebab itu maka penting diadakan layanan bimbingan belajar di sekolah agar peserta didik dalam mengembangkan diri sesuai dengan kebiasaan  dan sikap belajar mereka, meliputi materi belajar mana yang cocok, kecepatan dan kesulitan belajar apa yang dialami siswa tersebut. Sehingga dapat sesuai dengan tujuan  dan cita-cita pendidikan.
            Pengenalan siswa tentang sekolah(orientasi) penting untuk menghindari masalah belajar yang berat. Disekolah  terdapat siswa yang berprestasi dalam hal peajaran terdapat pula siswa yang belum berhasil seperti nilai rapor yang rendah, tidak naik kelas, tidak lulus ujian dan lain sebagainya. Secara umum contoh yang di sebutkan diatas dipandang sebagai masalah belajar namun jika di pandang lebih luas maka masalah belajar tidak sebatas itu saja. Secara lebih luas masalah belajar memiliki banyak bentuk dan ragamnya. Ragam dari masalah belajar seperti:
· Keterlambatan akademik maksudnya siswa memiliki tingkat intelegensi yang tinggi namun tidak dapat memanfaatkan secara optimal.
· Ketercepatan dalam belajar maksudnya memerlukan tugas khusus untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajar yang tinggi.
· Sangat lamban dalam belajar
· Kurang motivasi dalam belajar
· Bersikap dan berkebiasaan buruk dalam belajar.
Siswa yang mengalami masalah belajar seperti yang telah disebutkan dapat dikenali melalui tes hasil belajar, tes kemampuan dasar, skala pengungkapan sikap dan kebiasan belajar dan pengamatan.
2)      Masalah pendidikan
Mencakup apa, bagaimana, dimana, kapan siswa akan melanjutkan proses belajarnya.bimbingan ini memiliki tujuan untuk memberi bimbingan kepada siswa tentang manfaat melanjutkan pendidikan, dan akibat bila menghentikan pendidikan mereka. Layanan bimbingan ini juga memberikan informasi kepada siswa  tentang perguruan tinggi, akademi, universitas, institut atau kursus-kursus yang dapat mengembangkan kemampuan dari siswa tersebut.
3)      Masalah pekerjaan
Masalah-masalah ini berhubungan dengan pemilihan pekerjaan. Misalnya, dalam memilih jenis-jenis pekerjaan  yang cocok dengan dirinya, memilih latihan tertentu untuk suatu pekerjaan, mendapatkan informasi tentang jenis pekerjaan dan kesullitan untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan pekerjaan.[20]
4)      Masalah penggunaan waktu luang
Dalam masalah ini yang dirasakan oleh siswa dalam menghadapi waktu-waktu luang yang tidak terisi oleh suatu kegiatan. Yang menjadi masalah yaitu bagaimana cara mengisi waktu-waktu tersebut dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat atau produktip, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakat. Ketidak mampuan dalam menggunakan waktu luang kadang-kadang dapat menimbulkan masalah-masalah seperti: gejala kenakalan anak, menganggu ketertiban, pelanggaran disiplin, melamun, dan sebagainya. Masalah penggunaan waktu luang misalanya: merencanakan suatu kegiatan dalam waktu luang, mengisi waktu, membuat pembagian waktu, dan memilih kegiatan yang cocok.
5)      Masalah sosial
Berbagai masalah sosial yang dihadapi oleh siswa dalam lingkungan sekolah yang bersangkutan dengan hubungan antar individu atau hubungan antara individu dan lingkungan sosialnya, misalnya: kemampuan dalam berkomunikasi untuk kelancaran hubungan sosial, kemampuan menerima dan menyampaikan pendapat, kesulitan dalam mencari teman, bertingkah laku baik dirumah dan lingkungan masyarakat secara dinamis, harmonis dan sopan santun, Pemahaman kondisi dan peraturan sekolah.
6)      Masalah pribadi
Masalah-masalah pribadi dalam lingkup sekolah umumnya bercikal bakal dari dalam pribadi individu yang berhadapan dengan lingkungan sekitarnya. Misalnya: ingin menyendiri, cepat bosan, agresif, emosi yang meninggi, hilangnya kepercayaan diri, dan lain-lain.[21]
C.  TEKNIK MEMAHAMI MURID
ü  Interview (Wawancara)
Interview atau wawancara ialah suatu metode untuk mendapatkan data dengan mengadakan face to face relation.[22] Wawancara merupakam teknik untuk mengumpulkan informasi melalui komunikasi langsung dengan responden atau orang yang diminta informasi. Teknik wawancara atau interview memiliki kelebihan dan kekurangan, diantaranya adalah sebagai berikut.
 Kelebihannya yaitu:
-    merupakan teknik yang paling tepat untuk mengungkap keadaan pribadi murid
-    dapat dilakukan terhadap setiap tingkatan umur
-    dapat dilaksanakan serempak dengan kegiatan observasi
-    digunakan untuk pelengkap data yang dikumpulkan dengan teknik lain
Kekuranganya yaitu:
-    tidak efisien, yaitu tidak dapat menghemat waktu
-    sangat bergantung terhadap kesediaan kedua belah pihak
-    menuntut penguasaan bahasa dari pihak pewawancara
ü  Observasi
Observasi yaitu suatu cara untuk mengumpulkan data yang diinginkan dengan mengadakan pengamatan secara langsung. Dalam hal ini pelaksanaan penyelidikan dilakukan dengan panca indera secara aktif, terutama penglihatan dan pendengaran. Penyelidik langsung mendatangi sasaran-sasaran penyelidikan, melihat, mendengarkan, serta membuat catatan untuk dianalisis.[23]
Observasi yaitu teknik atau cara mengamati suatu keadaan atau suatu kegiatan (tingkah laku). Yang paling berperan disini adalah panca indra atau pengindraan terutama indra penglihatan, dan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
-    dilakukan sesuai dengan tujuan yang dirumuskan terlebih dahulu
-    direncanakan secara sistematis
-    hasilnya dicatat dan diolah sesuai tujuan
-    perlu diperiksa ketelitiannya.
Teknik observasi ini dapat dikelompokan kedalam beberapa jenis yaitu:
a.   Observasi sehari-hari
b.   Observasi sistematis
c.   Observasi partisipatif, disini pengamat ikut serta dalam kegiatan yang dilakukan oleh orang yang damati.
d.   Observasi nonpartisifatif, disini pengamat tidak ikut serta dalam kegiatan yang dilakukan oleh orang yang diamati.[24]
ü  Angket
Angket atau kuisioner atau Questionnaire adalah seperangkat pertanyaan yang harus dijawab oleh responden, yang digunakan untuk mengubah berbagai keterangan yang langsung diberikan oleh responden menjadi data, dan dapat pula digunakan untuk mengungkapakan pengalaman-pengalaman yang telah dialami pada saat ini.[25] Keterangan-keterangan yang diberikan oleh responden ini dapat diubah menjadi data kuantitatif (angka-angka) dengan cara menghitung jumlah responden yang memberikan jawaban.
Angket (kuesioner) merupakan alat pengumpul data melalui komunikasi tidak langsuang, yaitu melalui tulisan. Angket ini berisi daftar pertanyaan yang bertujuan untuk mengumpulkan keterangan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan responden.[26] Beberapa petunjuk untuk menyusun angket:
-    gunakan kata-kata yang tidak mempunyai arti lengkap
-    susun kalimat sederhana tapi jelas
-    hindari kata-kata yang sulit dipahami
-    pertanyaan jangan bersifat memaksa untuk dijawab
-    hindarkan kata-kata yang negatif dan menyinggung perasaan responden
ü  Sosiometri
 Sosiometri menunjukkan kepada kita tentang ukuran berteman. Jadi, dengan sosiometri dapat kita lihat bagaimana hubungan sosial atau hubungan bergaul atau berteman. Dengan demikian besar, besar sekali bantuan sosiometri untuk mendapatkan data anak-anak, terutama dalam hubungan atau kontrak sosialnya.[27]Dengan sosiometri guru dapat mengetahui tentang:
-    murid yang populer (banyak disenangi teman).
-    murid yang terisolir (tidak dipilih/disukai teman).
-    klik (kelompok kecil, 2-3 orang murid).
Sosiometri juga dapat digunakan untuk:
-    memperbaiki hubungan insani diantara anggota-anggota kelompok tertentu
-    menentukan kelompok kerja
-    meneliti kemampuan memimpin seorang individu dalam kelompok tertentu untuk suatu kegiatan tertentu.
ü  Pemeriksaan Fisik Dan Kesehatan
 Teknik pengumpulan data mengenai keadaan fisik dan kesehatan ialah dengan memeriksakan fisik dan kesehatannya seseorang. Pemeriksaan secara medis ini dilakukan oleh seorang ahli kesehatan yang mempunyai alat-alat yang cukup lengkap seperti dokter, perawat, dan sebagainya yang bertujuan untuk mengetahui apakah individu tersebut mempunyai penyakit-penyakit tertentu. [28]
 Sedangkan konselor hanya melakukan pemeriksaan yang tidak bersifat medis, seperti menimbang berat badan, mengukur tinggi badan, mencatat ciri-ciri fisik.Pemeriksaan fisik dan kesehatan ini dapat dilakukan secara periodik, misalnya pada awal tahun, tengah tahun atau akhir tahun, atau bisa juga dilakukan secara insidentil sesuai dengan kebutuhan atau masalah yang dihadapi.

ü  Tes Hasil Belajar (Achiement Test)
Tes hasil belajar merupakan data yang amat penting dalam rangka memberikan bimbingan kepada siswa. Dengan melihat hasil belajar yang dicapai, kita dapat menetapkan jenis bimbingan yang diperlukan oleh siswa. Angka hasil belajar yang dicapai siswa menggambarkan masalah yang dihadapinya. Misalnya, anak yang menunjukkan hasil belajar yang kurang, menggambarkan kemungkinan anak itu menghadapi suatu kesulitan dalam belajar.
Tes belajar adalah teknik yang digunakan untuk mengukur apa yang telah dipelajari diberbagai bidang studi. Ada tes yang khusus meneliti penguasaan materi mata pelajaran tertentu saja; ada pula tes yang meliputi materi beberapa pelajaran dalam lingkup agak luas, yang menghasilkan skor-skor terpisah (subtest) untuk saling dibandingkan (survey test).[29]
Tes Hasil Belajar yaitu suatu alat (tes) yang disusun untuk mengukur hasil-hasil pengajaran.Tujuan utama penggunaan tes prestasi  belajar adalah agar guru dapat membuat keputusan-keputusan seleksi dan klasifikasi serta menentukan keefektifan pengajaran.Tes ini meliputi:
1). Tes diagnostik,yang dirancang agar guru dapat mengetahui letak kesulitan murid, terutama dalam berhitung dan membaca.
2). Tes prestasi belajar kelompok yang baku.
3). Tes prestasi belajar yang disusun guru.
ü Tes Psikologi Atau Tes Kepribadian
Yaitu teknik yang digunakan untuk mengukur ciri-ciri kepribadian yang bukan khas bersifat kognitif, seperti sifat karakter, sifat temperamen, corak kehidupan emosional, kesehatan mental, relasi sosial dengan orang lain serta bidang-bidang kehidupan yang menimbulkan kesukaran dalam penyesuaian diri.
Tes Psikologi Yaitu suatu tes untuk mengetahui kepribadian seseorang yang terorganisasi secara dinamis dan sistem-sistem psikologis dalam sisi individu yang menentukan penyesuaian-penyesuain yang unik dengan lingkungan.[30] Kepribadian dapat diukur dengan jalan melihat:
-    Apa yang seseorang katakan tentang keadaan dirinya sendiri.
-    Apa yang orang lain katakan tentang keadaan diri seseorang.
-    Apa yang seseorang lakukan dalam situasi tertentu.



ü  Biografi Atau Catatan Harian
Biografi atau riwayat hidup dan catatan harian merupakan salah satu teknik untuk mengumpulkan data tentang murid. Murid disuruh mencatat berbagai kejadian tentang dirinya, baik yang sudah dialami, sedang dialami, atau yang masih menjadi cita-cita. [31]
ü  Studi Dokumenter
Studi dokumenter adalah salah satu metode pengumpulan data yang dipergunakan pembimbing dengan jalan melihat/meneliti data-data dokumen siswa yang tersimpan di sekolah/tempat lain. Data pada studi dokumenter adalah data masa lalu, namun demikian dapat untuk meramalkan atau mengungkapkan keadaan/kondisi sekarang. Walapun demikian, tidak semua keadaan/kondisi sekarang dapat diketahui dari data masa lalu. Sumber data studi dokumenter dapat dilihat dari : Buku induk,  Buku pribadi/kartu pribadi, Rapor, Surat-surat keterangan, Buku absen, Kartu pembayaran SPP, OSIS, BP-3, Hasil pengisian angket, cek list, rating scale, hasil karyanya, seperti lukisan, karangan, ketrampilan tangan dll. Dan studi documenter dapat dijadikan bahan pemahaman siswa.[32]
Cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis, seperti arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori, dalil atau hukum-hukum, dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian disebut teknik dokumenter atau studi dokumenter. Dalam penelitian kualittif teknik ini merupkan alat pengumpul data yang utama karena pembuktian hipotesisnya yang diajukan secara logis dan rasional melalui pendapat, teori dan hukum-hukum yang diterima, baik mendukung maupun yang menolong hipotesis tersebut.
ü  Studi Kasus
Studi kasus atau case studi adalah suatu metode penyelidikan untuk mempelajari kejadian mengenai perorangan. Dengan kata lain, suatu metode untuk menyelidiki riwayat hidup seseorang. Dalam melaksanakan studi kasus ini dapat ditempuh langkah-langkah :
a.    Menemukan murid yang bermasalah, contoh: prestasi belajarnya sangat rendah, nakal, sering bertengkar dan sering bolos.
b.    Memperoleh data
Cara untuk memperoleh data:
1). Wawancara dengan guru lain
2). Home visit, yaitu kunjungan kerumah orang tua murid
3). Wawancara langsung dengan siswa yang bersangkutan
c.    Menganalisis data
Berbagai faktor yang mungkin terjadi penyebab anak mengalami kelainan:
-    kondisi keluarga yang tidak harmonis
-    tingkat kecerdasan rendah
-    motivasi belajar rendah
-    sering sakit-sakitan
-    kurang mengetahui konsep-konsep dasar atau pengetahuan tentang mata pelajaran tertentu
d.    Memberikan layanan bantuan
Apabila berdasarkan analisis ternyata faktor penyebabnya itu kurang menguasai konsep-konsep dasar dalam mata pelajaran tertentu, maka caranya yaitu dengan mengajar kembali tentang konsep-konsep dasar mata pelajaran tertentu.

D.  MEMAHAMI TEKNIK BIMBINGAN INDIVIDU DAN KELOMPOK
1)      Home room program
Yaitu suatu program kegiatan yang dilakukan dengan tujuan agar guru dapat mengenal murid-muridnya lebih baik, sehingga dapat membantunya secara efisien. Kegiatan ini dilakukan dalam kelas dalam bentuk pertemuan antara guru dengan murid diluar jam-jam pelajaran untuk membicarakan beberapa hal yang dianggap perlu.
Dalam program home room ini hendaknya diciptakan suatu situasi yang bebas dan menyenangkan, sehingga murid-murid dapat mengutarakan perasaannya seperti dirumah. Dalam kesempatan ini diadakan Tanya jawab, merencanakan suatu kegiatan, menampung pendapat,dsb. Dalam contoh digambarkan guru merencanakan peninjauan keproyek jalan raya. Murid-murid diberikan kebebasan untuk berbicara, bertanya dan mengajukan usul.
Dalam teknik ini kegiatan bimbingan dilakukan oleh guru bersama murid di dalam ruang kelas di luar jam pelajaran. Kegiatan home room dapat dilakukan secara periodik, misalnya seminggu sekali. Dalam kegiatan ini pembimbing/konselor sekolah dengan murid dapat lebih dekat, seperti dalam situasi rumah.
Kegiatan ini dapat pula digunakan sebagai suatu cara dalam bimbingan belajar, melalui kegiatan ini pembimbing dan murid dapat berdiskusi tentang berbagai aspek tentang belajar
2)      Karyawisata (field trip)
Dalam teknik ini murid dapat  mengenal dan mengamati secara langsung dari dekat obyek situasi yang menarik perhatiannya, dan hubungannya dengan pelajaran di sekolah. Dengan karya wisata para siswa mendapatkan kesempatan untuk memperoleh penyesuaian dalamkehidupan kelompok, berorganisasi, kerja sama dan tanggung jawab.
Karyawisata atau field trip selain berfungsi sebagai kegiatan rekreasi atau metode mengajar, dapat pula berfungsi sebagai salah satu tehnik dalam bimbingan kelompok. Dengan berkaryawisata murid mendapat kesempatan meninjau objek-objek yang menarik dan mereka mendapat informasi yang lebih baik dari objek itu. Disamping itu murid-murid mendapat kesempatan untuk memperoleh penyesuaian dalam kehidupan kelompok, misalnya dalam berorganisasi, kerja sama, rasa tanggungjawab, percaya pada diri sendiri. Juga dapat mengembangkan bakat dan cita-cita yang ada. Dalam contoh seorang anak dapat kesempatan untuk mengembangkan kesenangannya dan bakatnya dalam peninjauan keproyek jalan raya. Ia dapat menunjukkan kemampuannya kepada teman-temannya dan mengembalikan harga dirinya.
3)      Diskusi kelompok
Diskusi kelompok adalah percakapan yang telah direncanakan antara tiga orang atau lebih dengan tujuan untuk memecahkan masalah atau untuk memperjelas suatu persoalan.[33] Dinkmeyer dan Munro dalam Romlah (2001: 89) menyebutkan tiga macam tujuan diskusi kelompok yaitu :
 (1) untuk mengembangkan terhadap diri sendiri,
 (2) untuk mengembangkan kesadaran tentang diri,
(3) untuk mengembangkan pandangan baru mengenai hubungan antar manusia.
Diskusi kelompok merupakan suatu cara dimana murid-murid akanmendapat kesempatan untuk memecahkan masalah bersama-sama. Setiap murid dapat menyumbangkan pikiran masing-masing dalam memecahkan suaru masalah. Dalam diskusi itu dapat tertanam pula rasa tanggungjawab dan harga diri. Masalah yang mungkin dapat diduskusikan antara lain:
ü  pembagian kerja dalam suatu kegiatan kelompok
ü  perencanaan suatu kegiatan
ü  masalah-masalah pekerjaan
ü  masalah belajar
ü  masalah penggunaan waktu senggang
ü  masalah persahabatan, keluarga dsb.
4)      Kegiatan kelompok
Kegiatan kelompok merupakan tehnik yang baik dalam bimbingan, karena kelompok memberikan kesempatan kepada individu untuk berpatisipasi dengan sebaik-baiknya. Banyak kegiatan tertentu yang lebih berhasil jika dilakukan dalam kelompok. Untuk mengembangkan bakat-bakat dan menyalurkan dorongan-dorongan. Juga dapat menembangkan tanggungjawab. Tehnik sosiometri dapat banyak menolong dalam pembentukan kelompok.
Dengan adanya kegiatan bersama, dapat mendorong anak saling membantu sehingga relasi sosial positif dapat dikembangkan dengan baik. Kegiatan bersama yang bisa dilakukan oleh anak misalnya: bermain bersama, melaksanakan kebersihan bersama, rekreasi bersama, piket bersama, dll.
5)      Sosiodrama
Sosiodrama dipergunakan sebagai suatu tehnik didalam memecahkan masalah-masalah social dengan melalui kegiatan bermain peranan. Di dalam sosiodrama ini individu akan memerankan suatu peranan tertentu dari suatu masalah social. Dalam kesempatan itu individu akan menghayati secara langsung situai masalah yang dihadapinya. Dari pementasan itu kemudian diadakan diskusi mengenai cara-cara pemecahan masalahnya.
Teknik sosiodarama adalah suatu cara dalam bimbingan yang memberikan kesempatan pada murid-murid untuk mendramatisasikan sikap, tingkah laku, atau penghayatan seseorang seperti yang dilakukan dalam hubungan sosial sehari-hari di masyarakat.
Adapun tujuan penggunaan sosiodrama dalam teknik bimbingan adalah:
-         Menggambarkan bagaimana seseorang atau beberapa orang dalam menghadapi situasi sosial
-         Bagaimana menggambarkan cara memecahkan suatu masalah sosial
-         Menumbuhkan dan mengembangkan sikap kritis terhadap tingkah laku yang harus atau jangan sampai diambil dalam situasi sosial tertentu
-         Memberikan pengalaman atau menghayati situasi tertentu
Memberikan kesempatan tertentu meninjau situasi sosial dari berbagai sudut pandang
6)      Psikodrama
Jika sosiodrama merupakan tehnik memecahkan masalah social, maka psikodrama adalah tehnik untuk memecahkan masalah-masalah psychis yang dialami oleh individu. Dengan memerankan suatu peranan tertentu, konflik atau ketegangan yang ada dalam dirinya dapat dikurangi atau dihindari. Kepada sekelompok murid dikemukakan suatu cerita yang didalamnya tergambarkan adanya ketegangan psyshis yang dialami individu. Kemudian murid-murid diminta untuk memainkan dimuka kelas. Bagi murid yang mengalami ketegangan, permainan dalam peranan itu dapat mengurangi ketegangannya.
E.   Layanan Pemberian Informasi
1.      Konsep Informasi
Layanan informasi adalah kegiatan bimbingan yang bermaksud membantu siswa untuk mengenal lingkungannya, yang sekiranya dapat dimanfaatkan untuk masa kini maupun masa akan datang.
Layanan informasi ini bertujuan untuk membekali individu dengan berbagai pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna untuk mengenal diri, merencanakan, dan mengembangkan pola kehidupan sebagai pelajar, anggota keluarga, dan masyarakat.[34]
Sasaran layanan informasi adalah:
a.       Mengembangkan pandangan yang luas dan realistis mengenai kesempatan-kesempatan dan masalah-masalah kehidupan pada setiap tingkatan pendidikan.
b.      Menciptakan kesadaran akan kebutuhan dan keinginan yang aktif untuk memperoleh informasi yang tepat mengenai pendidikan, pekerjaan, dan sosial pribadi.
c.       Mengembangkan ruang lingkup yang luas mengenai kegiatan pendidikan, pekerjaan, dan sosial pribadi.
d.      Membantu siswa untuk menguasai teknik memperoleh dan menafsirkan informasi agar siswa semakin maju dalam mengarahkan dan memimpin dirinya sendiri.
e.       Mengembangkan sifat dan kebiasaan yang akan membantu siswa dalam megambil keputusan, penyesuaian yang produktif dan memberikan kepuasan pribadi.
f.       Menyediakan bantuan untuk membuat pilihan tertentu yang progresif terhadap aktivitas khusus sesuai dengan kemampuan ,bakat dan minat individu.
Jenis-jenis informasi di antaranya adalah:
1.      Informasi Pendidikan
Informasi yang harus disampaikan oleh konselor kepada para siswa adalah sebagai berikut:
-         Peraturan sekolah.
-         Kegiatan ekstrakurikuler.
-         Kebiasaan dan keterampilan belajar.
-         Jenjang pendidikan selanjutnya.
-         Tuntutan dan persyaratan masuk perguruan tinggi.
-         Mata pelajaran yang dituntut untuk memasuki perguruan tinggi.
-         Biaya untuk memasuki perguruan tinggi.
-         Ciri-ciri khas dari berbagai perguruan tinggi.
-         Pendidikan dan pelatihan untuk berbagai lapangan pekerjaan.
2.      Informasi Pekerjaan
Informasi yang harus disampaikan oleh konselor kepada para siswa adalah sebagai berikut:
-         bentuk-bentuk atau jenis-jenis pekerjaan.
-         Struktur dunia kerja dan kelompok pekerjaan yang besar.
-         Kecenderungan kerja, termasuk di dalamnya penyediaan tenaga kerja, perubahan penduduk, tuntutan masyarakat akan mutu pekerjaan, perkembangan teknologi.
-         Pekerjaan yang utama dan penting.
-         Tugas-tugas dalam pekerjaan tertentu dan sifat pekerjaan.
-         Kualifikasi yang diperlukan untuk dunia kerja dalam berbagai lapangan pekerjaan.
-         Persiapan yang diperlukan untuk berbagai lapangan pekerjaan.
3.      Informasi Sosial Pribadi
Informasi yang harus disampaikan oleh konselor kepada para siswa adalah sebagai berikut:
-         Informasi tentang hubungan anak laki-laki dan perempuan.
-         Penampilan pribadi.
-         Cara dan etika bergaul.
-         Aktivitas dan penggunaan waktu luang.
-         Keterampilan sosial.
-         Hubungan dalam keluarga.
-         Kehidupan yang sehat.[35]
2.      Layanan Informasi Kehidupan Sekolah Atau Perguruan Tinggi
Norris (1972) mendefinisikan informasi pendidikan sebagai berikut: per bedaan karakteristik perguruan tinggi dan program pendidikan yang lainnya, keterampilan dan kebiasaan belajar beasiswa kemudahan dan fasilitas pendidikan setelah lulus, akreditasi program kependidikan, penyesuaian sekolah, program dan kesempatan latihan kerja. Depdikbd (1996) menyatakan materi informasi belajar meliputi:
a)    Tugas-tugas perkembangan masa remaja berkenaan dengan pengembangan diri, keterampilan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian.
b)   Perlunya pengembangan sikap dan pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, belajar mandiri maupun berkelompok.
c)    Cara belajar di perpustakaan, meringkas buku, membuat catatan dan mengulang pelajaran.
d)   Kemungkinan timbulnya berbagai masalah belajar dan upaya pengentasannya.
e)    Pengajaran perbaikan dan pengayaan.
f)    Pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya meningkatkan kegiatan dan hasil belajar siswa.
g)   Kursus dan sekolah yang mungkin dimasuki setelah tamat.[36]
3.      Langkah-Langkah Pemberian Informasi
            I.            Langkah persiapan
a)      Menetapkan tujuan dan isi informasi beserta alasannya.
b)      Mengidentifikasi sasaran siswa yang akan menerima informasi.
c)      Mengetahui sumber-sumber informasi.
d)     Menetapkan teknik penyampaian informasi.
e)      Menetapkan jadwal dan waktu kegiatan.
f)       Menetapkan ukuran keberhasilan.
         II.            Langkah pelaksanaan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan layanan informasi:
a.       Usahakan menarik minat dan perhatian siswa.
b.      Berikan informasi secara sistematis dan sederhana sehingga jelas isi dan manfaatnya.
c.       Berikan contoh yang berhubunga dengan kehidupan siswa sehari-hari.
d.      Bila  menggunakan teknik karya wisata dan pemberian tugas perlu persiapan sebaik-baiknya sehingga setiap siswa mengetahui apa yang harus diperhatikan, apa yang harus dicatat dan apa yang harus dilakukan.
e.       Layanan informasi merupakan bagian penting dalam program bimbingan di sekolah. Para siswa memerlukan informasi sebanyak-banyaknya tentang dirinya sendiri dan lingkungan. Layanan informasi membantu siswa meningkatkan kesempatan mengelola masa depannya dengan baik.
f.       Penyajian informasi harus direncanakan sesuai dengan kebutuhan siswa.
g.      Pemberi infornasi hendaknya disesuaikan dengan kualifikasi personil staf bimbingan.
      III.            Langkah evaluasi
Guru pembimbing hendaknya mengevaluasi tiap kegiatan layanan informasi. Langkah evaluasi ini sering kali dilupakan sehingga tidak diketahui sejauh mana siswa mampu menangkap informasi.
Kriteria keberhasilan layanan informasi adalah sebagai berikut:
a.       Jika para siswa telah dapat menyesuaikan diri sebaik-baiknya dengan lingkungannya.
b.      Jika para siswa telah memperoleh sebanyak-banyaknya sumber informasi.[37]
F.   LANGKAH-LANGKAH PEMBERIAN BANTUAN BK KELOMPOK DAN INDIVIDU :
            Agar memudahkan Anda melakukan layanan bimbingan dan konseling di sekolah, hendaknya perlu diketahui langkah-langkah yang harus dilakukan dalam memberikan layanan Bimbingan Konseling pada siswa Anda terutama mereka yang mempunyai masalah. Adapun langkah-langkah tersebut meliputi:
ü Identifikasi Kasus
     Langkah ini dimaksudkan untuk mengenal anak beserta gejala-gejala yang tampak. Dalam langkah ini, pembimbing mencatat anak-anak yang perlu mendapat bimbingan dan memilih anak yang perlu mendapat bimbingan lebih dahulu.[38]
Pada langkah ini yang harus diperhatikan guru adalah mengenal gejala-gejala awal dari suatu masalah yang dihadapi siswa. Maksud dari gejala awal disini adalah apabila siswa menujukkan tingkah laku berbeda atau menyimpang dari biasanya. Untuk mengetahui gejala awal tidaklah mudah, karena harus dilakukan secara teliti dan hati-hati dengan memperhatikan gejala-gejala yang nampak, kemudian dianalisis dan selanjutnya dievaluasi. Apabila siswa menunjukkan tingkah laku atau hal-hal yang berbeda dari biasanya, maka hal tersebut dapat diidentifikasi sebagai gejala dari suatu masalah yang sedang dialami siswa.[39] Sebagai contoh, Benin seorang siswa yang mempunyai prestasi belajar yang bagus, untuk semua mata pelajaran ia memperoleh nilai diatas rata-rata kelas. Dia juga disenangi teman-teman maupun guru karena pandai bergaul, tidak sombong, dan baik hati. Sudah dua bulan ini Benin berubah menjadi agak pendiam, prestasi belajarnyapun mulai menurun. Sebagai guru Bimbingan Konseling, ibu Heni mengadakan pertemuan dengan guru untuk mengamati Benin. Dari hasil laporan dan pegamatan yang dilakukan oleh beberapa orang guru, ibu Heni kemudian melakukan evaluai berdasarkan masalah Benin dengan gejala yang nampak. Selanjutnya dapat diperkirakan jenis dan sifat masalah yang dihadapi Benin tersebut. Karena dalam pengamatan terlihat prestasi belajar Benin menurun, maka dapat diperkirakan Benin sedang mengalmi masalah ” kurang menguasai materi pelajaran “. Perkiraan tersebut dapat dijadikan sebagai acuan langkah selanjutnya yaitu diagnosis.


ü Diagnosis
            Langkah diagnosis yaitu langkah untuk menetapkan masalah yang dihadapi anak beserta latarbelakangnya. Dalam langkah ini, kegiatan yang dilakukan ialah mengumpulkan data dengan mengadakan studi terhadap anak, menggunakan berbagai studi terhadap anak, menggunakan berbagai tenik pengumpulan data. Setelah data terkumpul, ditetapkan masalah yang dihadapi serta latar belakangnya.[40]
            Pada langkah diagnosis yang dilakukan adalah menetapkan ” masalah ” berdasarkan analisis latar belakang yang menjadi penyebab timbulnya masalah. Dalam langkah ini dilakukan kegiatan pengumpulan data mengenai berbagai hal yang menjadi latar belakang atau yang melatarbelakangi gejala yang muncul. Pada kasus Benin, dilakukan pengumpulan informasi dari berbagai pihak. Yaitu dari orang tua, teman dekat, guru dan juga Benin sendiri. Dari informasi yang terkumpul, kemudian dilakukan analisis maupun sistesis dan dilanjutkan dengan menelaah keterkaitan informasi latar belakang dengan gejala yang nampak. Dari informasi yang didapat, Benin terlihat menjadi pendiam dan prestasi belajamya menurun. Dari informasi keluarga didapat keterangan bahwa kedua orang tua Benin telah bercerai. Berdasarkan analisis dan sistesis, kemudian diperkirakan jenis dan bentuk masalah yang ada pada diri Benin yaitu karena orang tuanya telah bercerai menyebabkan Benin menjadi pendiam dan prestasi belajarnya menurun, maka Benin sedang mengalami masalah pribadi.
ü Prognosis
            Langkah prognosis, yaitu langkah untuk menetapkan jenis bantuan yang akan dilaksanakan untuk membimbing anak. Langkah prognosis ini ditetapkan berdasarkan kesimpulan dalam langkah diagnosis, yaitu setelah ditetapkan masalahnya dan latar belakangnya. Langkah prognosis ini, ditetapkan bersama setelah mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan berbagai faktor.[41]
Langkah prognosis ini pembimbing menetapkan alternatif tindakan bantuan yang akan diberikan. Selanjutanya melakukan perencanaan mengenai jenis dan bentuk masalah apa yang sedang dihadapi individu. Seperti rumusan kasus Benin, maka diperkirakan Benin menghadapi masalah, rendah diri karena orang tua telah bercerai sehingga merasa kurang mendapat perhatian dari mereka. Dari rumusan jenis dan bentuk masalah yang sedang dihadapi Benin, maka dibuat alternatif tindakan bantuan, seperti memberikan konseling individu yang bertujuan untuk memperbaiki perasaan kurang diperhatikan, dan rendah diri. Dalam hal ini konselor menawarkan alternatif layanan pada orang tua Benin dan juga Benin sendiri untuk diberikan konseling. Penawaran tersebut berhubungan dengan kesediaan individu Benin sebagai orang yang sedang mempunyai masalah (klien). Dalam menetapkan prognosis, pembimbing perlu memperhatikan: 1) pendekatan yang akan diberikan dilakukan secara perorangan atau kelompok 2) siapa yang akan memberikan bantuan, apakah guru, konselor, dokter atau individu lain yang lebih ahli 3) kapan bantuan akan dilaksanakan, atau hal-hal apa yang perlu dipertimbangkan.
            Apabila dalam memberi bimbingan guru mengalami kendala, yaitu tidak bisa diselesaikan karena terlalu sulit atau tidak bisa ditangani oleh pembimbing, maka penanganan kasus tersebut perlu dialihkan penyelesainnya kepada orang yang lebih berwenang, seperti dokter, psikiater atau lembaga lainnya. Layanan pemindahtanganan karena masalahnya tidak mampu diselesaikan oleh pembimbing tersebut dinamakan dengan layanan referal. Pada dasarnya bimbingan merupakan proses memberikan bantuan kepada pihak siswa agar ia sebagai pribadi memiliki pemahaman akan diri sendiri dan sekitarnya, yang selanjutnya dapat mengambil keputusan untuk melangkah maju secara optimal guna menolong diri sendiri dalam menghadapi dan memecahkan masalah, dan siswa atau individu yang mempunyai masalah tersebut menetukan alternatif yang sesuai dengan kemampuannya.[42]
ü Pemecahan / Terapi / Treatment
     Langkah terapi, yaitu langkah pelaksanaan bantuan atau bimbingan. Langkah ini merupakan pelaksanaan yang ditetapkan prognosis. Pelaksanaan ini tentu memakan banyak waktu, proses yang kontinu dan sistematis, serta memerlukan pengamatan yang amat cermat.[43]
            Setelah guru merencanakan pemberian bantuan, maka dilanjutkan dengan merealisasikan langkah-langkah alternatif bentuk bantuan berdasarakn masalah dan latar belakang yang menjadi penyebanya. Langkah pemberian bantuan ini dilaksanakan dengan berbagai pendekatan dan teknik pemberian bantuan. Pada kasus Benin telah direncanakan pemberian bantuan secara individual. Pada tahap awal diadakan pendekatan secara pribadi, pembimbing mengajak Benin menceritakan masalahnya, mungkin pada awalnya Benin akan sangat sulit menceritakan masalahnya, karena masih memiliki perasaan takut atau tidak percaya terhadap pembimbing.
            Dalam hal ini pembimbing dituntut kesabarannya untuk bisa membuka hati Benin agar mau menceritakan masalahnya, dan menyakinkan kepada Benin bahwa masalahnya tidak akan diceritakan pada orang lain serta akan dibantu menyelesaikannya. Pemberian bantuan ini dilakukan tidak hanya sekali atau dua kali pertemuan saja, tetapi perlu waktu yang berulang-ulang dan dengan jadwal dan sifat pertemuan yang tidak terikat, kapan Benin sebagai individu yang mempunyai masalah mempunyai waktu untuk menceritakan masalahnya dan bersedia diberikan bantuan. Oleh sebab itu seorang pembimbing harus dapat menumbuhkan transferensi yang positif dimana klien mau memproyeksikan perasaan ketergantungannya kepada pembimbing (konselor).[44]
ü Langkah evaluasi dan follow up.
     Langkah ini dimaksudkan untuk menilai atau  mengetahui sejauh manakah terapi yang telah dilakukan dan telah mencapai hasilnya. Dalam langkah follow up atau tindak lanjut, dilihat perkembangan selanjutnya dalam jangka waktu yang lebih jauh. [45]
            Setelah pembimbing dan klien melakukan beberapa kali pertemuan, dan mengumpulkan data dari beberapa individu, maka langkah selanjutnya adalah melakukan evaluasi dan tindak lanjut. Evaluasi dapat dilakukan selama proses pemberian bantuan berlangsung sampai pada akhir pemberian bantuan. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik, seperti melalui wawancara, angket, observasi diskusi, dokumentasi dan sebagainya.
             Dalam kasus Benin, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara antara pembimbing dengan Benin sendiri, pembimbing dengan orang tua Benin, teman dekat atau sahabat Benin, dan beberapa orang guru. Observasi juga dilakukan terhadap Benin pada jam istirahat, bagaimana Benin bergaul dengan temannya, bagaimana teman-temannya memperlakukan Benin dan sebagainya. Sedang observasi yang dilakukan baik oleh pembimbing maupun guru, yaitu untuk mengetahui aktivitas Benin dalam menerima pelajaran, sikapnya di dalam kelas saat mengikuti pembelajaran. Pembimbing juga berkunjung kerumah Benin guna mengetahui kondisi rumah Benin sekaligus mewawancarai orang tuanya mengenai sikap Benin di rumah Dari beberapa data yang telah tekumpul, kemudian pembimbing mengadakan evaluasi untuk mengetahui sampai sejauh mana upaya pemberian bantuan telah dilaksanakan dan bagaimana hasil dari pemberian bantuan tersebut, bagaimana ketepatan pelaksanaan yang telah diberikan. Dari evaluasi tersebut dapat diambil langkah-langkah selanjutnya; apabila pemberian bantuan kurang berhasil, maka pembimbing dapat merubah tindakan atau mengembangkan bantuan kedalam bentuk yang berbeda.[46]
G.  BENTUK-BENTUK BK KELOMPOK.
1)  Jenis kelompok
-       Menurut Prayitno (1999: 24-25) bahwa dalam penyelenggaraan bimbingan kelompok dikenal dua jenis kelompok, yaitu kelompok bebas dan kelompok tugas :
a)    Kelompok bebas
Dalam kegiatannya para anggota bebas mengemukakan segala pikiran dan perasaanya dalam kelompok. Selanjutnya apa yang disampaikan mereka dalam kelompok itulah yang menjadi pokok bahasan kelompok.
b)   Kelompok tugas
Dalam penyelenggaraan bimbingan kelompok tugas arah dan isi kegaiatannya tidak ditentukan oleh para anggota, melainkan diarahkan kepada penyelesaiannya suatu tugas. Pemimpin kelompok mengemukakan suatu tugas untuk selanjutnya dibahas dan diselesaikan oleh anggota kelompok.
-          Kelompok primer dan kelompok skunder
Kelompok primer diwarnai oleh hubungan pribadi secara akrab dan kerja sama yang terus menerus diantara para anggotanya. Contoh keluarga, teman sepermainan, sekelompok remaja, dan lain-lain.
-            Kelompok sosial dan kelompok psikososial
Kelompok sosial dan kelompok psikososial ini dibedakan pada dasar tujuan pokok yang ingin dicapai. Pada kelompok sosial, tujuan yang ingin dicapai adalah tujuan bersama untuk kepentingan bersama. Sedangkan kelompok psikososial pada dasarnya lebih bersifat pribadi. Pada anggota kelompok psikososial dalam memasuki kelompok biasanya didorong oleh kepentingan yang menyangkut hubungan antarpribadi.
-       Kelompok formal dan kelompok informal
Kelompok formal biasanya terbentuk berdasarkan tujuan dan aturan tertentu yang bersifat resmi (dan tertulis). Gerak dan kegiatan kelompok formal pun diatur dan tidak boleh menyimpang dari ketentuan yang telah dibuat. Sedangkan kelompok informal biasanya terbentuk secara kebetulan, jadi dalam kelompok informal tidak tidak terdapat suatu aturan dan tujuan tertentu yang bersifat resmi. [47]
2)  Anggota kelompok
Keanggotaan merupakan salah satu unsur pokok dalam proses kehidupan kelompok. Peranan kelompok itidak akan terwujud tanpa keikutsertaan aktif para angota kelompok, dan bahkan lebih dari itu. Peranan yang hendaknya dimainkan anggota kelompok sesuai yang diharapkan menurut Prayitno (1995:32) adalah sebagai berikut :
a)        Membantu terbinanya suasana keakraban dalam hubungan antar anggota    kelompok.
b)        Mencurahkan segenap perasaan dalam melibatkan diri dalamkeg iatan kelompok.
c)        Berusaha agar yang dilakukannya itu membantu tercapainya tujuan bersama.
d)       Membantu tersusunnya aturan kelompok dan berusaha mematuhinya dengan baik.
e)        Benar-benar berusaha untuk secara efektif ikut serta dalam seluruh kegiatan kelompok.
f)         Mampu mengkomunikasikan secara terbuka.
g)        Berusaha membantu orang lain.
h)        Memberikan kesempatan kepada anggota lain untuk juga menjalani peranannya.
i)          Menyadari pentingnya kegiatan kelompok tersebut.
Keanggotaan kelompok ada 2, yaitu:
·         Anggota kelompok yang bersifat sukarela, adalah anggota kelompok yang anggotanya lebih bebas dan peranan anggotanya lebih besar dalam menentukan gerak dan kegiatan kelompok tersebut.
·         Anggota kelompok yang bersifat tidak sukarela, adalah anggota kelompok yang anggotanya terbentuk atas dasar kedudukannya.

3)  Pembimbing kelompok
Pembimbing kelompok atau Pemimpin kelompok adalah orang yang mampu menciptakan suasana sehingga para anggota kelompok dapat belajar bagaimana mengatasi masalah-masalah mereka sendiri. Menurut Prayitno (1995: 35-36) peranan pemimpin kelompok dalam layanan bimbingan kelompok adalah sebagai berikut.:
  • Pemimpin kelompok dapat memberikan bantuan, pengarahan atau campur tangan langsung terhadap kegiatan kelompok.
  • Pemimpin kelompok memusatkan perhatian pada suasana perasaanyang berkembang dalam kelompok itu, baik perasaan anggotaanggota tertentu maupun keseluruhan kelompok.
  • Pemimpin kelompok dapat menanyakan suasana perasaan yang dialami oleh anggota kelompok. Jika kelompok tersebut tampak kurang menjurus ke arah yang dimaksudkan, maka pemimpin kelompok perlu memberikan arah yang dimaksudkan.
  • Pemimpin kelompok juga perlu memberikan tanggapan (umpan balik) tentang berbagai hal yang terjadi dalam kelompok, baik yang bersifat isi maupun proses kegiatan kelompok.
  • Pemimpin kelompok diharapkan mampu mengatur lalu lintas kegiatan kelompok, pemegang atauran permainan (menjadi wasit), pendamai dan pendorong kerjasama serta suasana kebersamaan.
Sifat kerahasiaan dari kelompok itu dengan segenap isi dan kejadian-kejadian yang timbul di dalamnya juga menjadi tanggung jawab pemimpin kelompok
H.  BENTUK-BENTUK BK INDIVIDU.
1)   Directing Counseling
Yaitu dimana pelayanan penyuluhan tertuju pada masalahnya, yaitu konselor yang membuka jalan pemecahan masalah yang dihadapi klien. Di sini konselor paling berperan dengan berusaha mengarahkan konseli sesuai dengan  masalahnya.
Dengan prosedur atau teknik pelayanan penyuluhan tertuju pada masalahnya, konselor yang membuka jalan pemecahan masalah yang dihadapi klien. Tokoh dari aliran WILIAMSON menunjukkan alasan bahwa:
a)    Anak yang belum matang mendiagnosa sendiri sukar memecahkan masalahnya, tanpa bantuan dari pihak lain yang berpengalaman.
b)   Anak yang berkesulitan, sekalipun sudah diberi petunjuk apa yang harus dilakukan, mereka tidak mau dan tidak berani.
c)    Mungkin ada masalah yang berat untuk dipecahkann oleh anak tanpa bantuan dari orang lain.[48]
2)   Nondirecting Counseling
Pelayanan bimbingan difokuskan pada anak yang bermasalah (klien). Ini juga disebut dengan Clien Centeret Counseling. Non Directive Counseling ini pelayanan bimbingan bukan pelayanan yang mengambil inisiatif, tetapi klien sendiri yang mengambil prakarsa, yang menentukan sendiri apakah dia membutuhkan pertolongan dari pihak lain. Konselor hanya menampung pembicaraan konseli. Konseli bebas berbicara, sedangkan konselor menampung dan mengarahkan. Tokoh dari aliran ini: CART ROGERS memaparkan alasan sebagai berikut:
a)    Bahwa setiap individu mempunyai kemampuan yang besar untuk menyesuaikan diri serta memiliki dorongan yang kuat untuk berdiri sendiri.
b)   Bahwa penyuluhan hanya sebagai pengantar dan membantu klien dalam menciptakan suasana damai, tenang, tidak tertekan, tidak merasa dipaksa dengan kesediaannya menyatakan kesulitannya kepada pembimbing.[49]
3)   Eclective Counseling
Teknik ini lebih luwes (fleksibel) jika dibandingkan kedua teknik tersebut di atas. Dengan eclective counseling pelayanan tidak dipusatkanpada penyuluh atau pada klien, tetapi masalah yang dihadapi itulah harus dihadapi secara luwes, sehingga tentang apa yang dipergunakan setiap waktu dapat diubah kalau memang diperlukan. Tokoh aliran ini: F.P. ROBINSON mengutarakan bahwa:
a)    Masalah dan situasi penyuluh selalu berbeda dan masalah yang tidak terbatas  pada satu bidang kehidupan.
b)   Langkah-langkah penyuluh harus disesuaikan dengan keperluan yang dituntut oleh situasi penyuluhan.[50]
I.     BENTUK-BENTUK BK INDIVIDU DAN KELOMPOK DALAM PEMBELAJARAN PERBAIKAN.
1)   Konsep Pembelajaran Perbaikan
            Remedial teaching atau pengajaran perbaikan aadalah suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau dengan singkat pengajaran yang membuat menjadi baik. Maka pengajaran perbaikan atau remedial teaching adalah bentuk khusus pengajaran yang berfungsi untuk menyembuhkan, membetulkan, atau membuat menjadi baik. [51]
Pembelajaran perbaikan adalah suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan atau pengajaran yang membuat anak menjadi lebih baik. Dalam proses belajar mengajar siswa diharapkan dapat mencapai hasil sebaik-baiknya, sehingga bila ternyata ada siswa yang belum berhasil sesuai dengan harapan maka diperlukan suatu proses pengajaran yang membantu agar dapat mencapai hasil yang diharapkan.[52]
2)   Pendekatan Pembelajaran Perbaikan
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. [53]
3)   Macam-Macam Pendekatan Pembelajaran Perbaikan
     Dalam pembelajaran perbaikan terdapat beberapa pendekatan di antaranya adalah:
a)        Pendekatan Yang Bersifat Kuratif
     Pendekatan ini diadakan mengingat kenyataannya ada seseorang atau sejumlah siswa, bahkan mungkin seluruh anggota kelompok belajar tidak mampu menyelesaikan program secara sempurna sesuai dengan kriteria keberhasilan dalam proses belajar mengajar.program dalam proses itu dapat diartikan untuk setiap pertemuan, unit pelajaran, atau satuan waktu tertentu. Untuk mencapai sasaran pencapaian dapat menggunakan pendekatan.
ð  Pengulangan
Pelaksanaanya dapat secara:
1)   Individual kalau ternyata yang mengalami kesulitan terbatas.
2)   Kelompok kalau ternyata sejumlah siswa dalam bidang studi tertentu mempunyai jenis/sifat kesalahan / kesulitan bersama.
Waktu dan cara pelaksanaannya:
1)       Bila sebagian/seluruh kelas mengalami kesulitan sama, diadakan pertemuan kelas biasa berikutnya.
2)      Diadakan diluar jam pertemuan biasa.
3)      Diadakan kelas remedial (kelas khusus)
ð Pengayaan/pengukuran
     Layanan ini dikenakan pada siswa yang kelemahannya ringan dan secara akademik mungkin termasuk dengan cara:
1)      Pemberian tugas/pekerjaan rumah
2)      Pemberian tugas/soal dikerjakan dikelas
ð Pencepatan (akselerasi)
     Layanan ini ditujukan kepada siswa yang berbakat tetapi menunjukkan kesulitan psikososial (ego emosional).
b)   Pendekatan Yang Bersifat Preventif
     Pendekatan ini ditujukan kepada siswa yang berdasarkan data/informasi diprediksikan atau patut diduga akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan suatu program studi tertentu yang akan ditempuhnya. Prediksi itu dikategorikan menjadi dua yaitu:
a)    Bagi yang termasuk kategori normal mampu menyelesaikan program belajar mengajar biasa sesuai dengan waktu  yang disediakan.
b)   Bagi mereka yang diperkirakan terlambat atau tidak menyelesaikan program dengan bata waktu yang ditetapkan. Berdasarkan prediksi tersebut maka layanan pengajaran perbaikan dapat dalam bentuk:
1)      Bentuk kelompok belajar homogen.
2)      Bentuk individual.
3)      Bentuk kelompok dengan kelas remedial.
c)    Pendekatan Yang Bersifat Perkembangan
            Pendekatan ini merupakan upaya yang dilakukan guru selama proses belajar mengajar berlangsung. Sasaran pokok dari pendekatan ini adalah agara siswa dapat mengatasi hambatan-hambatan atau kesulitan-kesulitan yang mungkin dialami selama proses belajar mengajar berlangsung. Karena itu diperlukan peranan bimbingan dan penyuluhan agar tujuan pengajaran yang telah dirumuskan berhasil.[54]


4)   Metode Pembelajaran Perbaikan
            Metode yang digunakan dalam pengajaran perbaikan yaitu metode yang dilaksanakan dalam kesekuruhan kegiatan bimbingan belajar mulai dari tingkat identifikasi kasus sampai dengan tindak lanjut. Metode yang dapat digunakan, yaitu:
a)    Tanya jawab
            Metode ini digunakan dalam rangka pengenalan kasus untuk mengetahui jenis dan sifat kesulitannya.
Tanya jawab ini dilakukan secara individu maupun secara kelompok. Kebaikan metode ini dalam rangka pengajaran perbaikan yaitu memungkinkan terbinanya hubungan guru-siswa.
-       Meningkatkan motivasi belajar;
-       Merupakan kondisi yang menunjang pelaksnaan penyuluhan;
-       Menumbuhkan rasa harga diri.[55]
b)   Diskusi
            Metode ini dengan memanfaatkan interaksi antar individu  dalam kelompok untuk memperbaiki kesulitan belajar  yang dialami oleh siswa. Kebaikan metode ini dalam pengajaran perbaikan adalah:
-       Setiap individu dalam kelompok dapat mengenal diri dan kesulitannya dan menemukan jalam pemecahannya.
-       Interksi dalam kelompok menumbuhkan sikap percaya mempercayai.
-       Mengembangkan kerja sama antar pribadi.
-       Menumbuhkan kepercayaan diri.
-       Menumbuhkan rasa tanggung jawab.
c)    Tugas
            Metode ini dapat digunakan dalam rangka mengenal,kasus dan dalam rangka pemberian bantuan. Dengan pemberian tugas-tugas tertentu baik secara individual maupun secara kelompok siswa yang mengalami kesulitan dapat ditolong.
Dengan metode ini diharapkan siswa dapat:
-       Lebih memahami dirinya;
-        Dapat memperluas/memperdalam materi yang dipelajari;
-       Dapat memperbaiki cara-cara belajar yang pernah dialami.
d)   Kerja kelompok
            Metode ini bersamaan dengan metode pemberian tugas dan metode diskusi. Yang penting adalah interaksi diantara anggota kelompok dengan harapan terjadi perbaikan pada diri siswa yang mengalami kesulitan belajar karena:
-       Adanya pengaruh anggota kelompok yang cakap dan berpengalaman.
-       Kehidupan kelomppok dapat meningkatkan minat belajar. Kehidupan kelompok memupuk tanggung jawab, salling memahami diri.
e)    Tutor
            Tutor adalah siswa yang sebaya tang ditunjuk/ditugaskan membantu temannya yang mengalami kesulitan belajar, karena hubungan antara teman umumnya lebih dekat dibandingkan hubungan guru-siswa. Dengan petunjuk-petunjuk dari guru tutor ini membantu temannya yang mengalami kesulitan. Pemilihan tutor ini didasarkan antar prestasi, punya hubungan sosial baik dan cukup disenangi oleh teman-temannya. Tutor berperan sebagai pemimpin dalam kegiatan kelompok sebagai pengganti guru. Dengan tutor ini ada kebaikannya, yaitu sebagai berikut:
-       Adanya hubungan yang lebih dekat dan akrab.
-       Tutor sendiri kegiatannya merupakan pengayaan dan menambah motivasi belajar.
-       Dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri.
f)    Pengajaran individual
            Pengajaran individual adalah interaksi antara guru dan siswa secara individual dalam proses belajar-mengajar. Pendekatan metode ini bersifat individual sesuai dengan kesulitan yang dihadapi siswa. Materi yang diberikan pengulangan, mnkin materi baru dan mungkin pengayaan apa yang telah dimiliki siswa.
     Pengajaran individual ini bersifat teraputik, artinya mempunyai sifat penyembuhan dengan cara memperbaiki cara-cara belajar siswa. Untuk melaksanakan pengajaran individual ini guru dituntut memiliki kemampuan membimbing dan bersikap sabar, ulet, rela, bertanggung jawab, menerima dan memahami, dan sebagainya.
Hasil yang diharapkan dalam pengajaran ini disamping adanya perubahan dalam pemahaman diri siswa.[56]
5)   Prosedur Pembelajaran Perbaikan
a.       Meneliti kasus dengan permasalahannya sebagai titik tolak kegiatan-kegiatan berikutnya. Tujuannya adalah agar memperoleh gambaran yang jelas mengenai kasus tersebut, serta cara dan kemungkinan pemecahannya.
b.      Menentukan tindakan yang harus dilakukan.
c.       Pemberian layanan khusus yaitu bimbingan dan konseling. Tujuannya adalah mengusahakan agar siswa terbebas dari hambatan mental emosional (ketegangan batin), sehingga kemudian siap menghadapi kegiatan belajar secara wajar.
d.      Langkah pelaksanaan pembelajaran perbaikan. Sasaran pokoknya adalah peningkatan prestasi maupun kemampuan menyesuaikan diri sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh guru.
e.       Melakukan pengukuran kembali terhadap prestasi belajar.
f.       Melakukan re-evaluasi.[57] 
    
6)   Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam pembelajaran perbaikan
a.       Faktor efektifitas, yaitu ketepatan tercapainya tujuan pembelajaran perbaikan
b.      Faktor efisiensi, yaitu sedikitnya tenaga, bea, dan waktu yang dipergunakan, namun hasilnya semaksimal mungking.
c.       Faktor kesusilaan dengan jenis masalah, sifat individu, fasilitas dan kesempatan yang tersedia.    
J.    Bentuk-bentuk BK kelompok dan individu & assismen
a)      Pengertian Asesmen
Menurut Azalia, dkk (2011) “Asesmen yaitu mengukur suatu proses konseling yang harus dilakukan konselor sebelum, selama, dan setelah konseling tersebut dilaksanakan atau berlangsung”. Assesmen merupakan suatu proses pengukuran atau penelitian yang diadakan pada sebelum, sedang dan sesudah proses konseling sebagai penyedia informasi yang nyata agar nkonselor dapat menganalisis permasalahan yang terjadi pada konseli. Assesmen harus ada dalam suatu layanan BK agar konselor dapat menganalisis dan mengetahui kebutuhan dan permasalahan konseli sesungguhnya.[58]
Asesmen merupakan salah satu bagian terpenting dalam seluruh kegiatan yang ada dalam konseling (baik konseling kelompok maupun konseling individual). Karena itulah maka  asesmen dalam bimbingan dan konseling merupakan bagian yang
terintegral dengan proses terapi maupun semua kegiatan bimbingan/konseling itu sendiri. Asesmen dilakukan untuk menggali dinamika  dan faktor penentu yang mendasari munculnya masalah. Hal ini sesuai dengan tujuan asesmen dalam bimbingan dan konseling, yaitu mengumpulkan informasi yang memungkinkan bagi konselor untuk menentukan masalah dan memahami latar belakang serta situasi yang ada pada masalah klien. Asesmen yang dilakukan sebelum, selama dan setelah konseling berlangsung dapat memberi informasi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi konselee. Dalam prakteknya, asesmen dapat digunakan sebagai alat untuk menilai keberhasilan sebuah konseling, namun juga dapat digunakan sebagai sebuah terapi untuk menyelesaikan masalah konsele.
Asesmen merupakan kegiatan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan/kompetensi yang dimiliki oleh konselee dalam memecahkan masalah.  Asesmen yang dikembangkan adalah asesmen yang baku dan meliputi  beberapa aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor dalam kompetensi dengan menggunakan indicator-indikator yang  ditetapkan dan dikembangkan  oleh  guru BK/konselor sekolah. Asesmen yang diberikan kepada konselee merupakan pengembangan  dari area kompetensi dasar pada diri konselee yang akan dinilai, yang kemudian akan dijabarkan dalam bentuk indikator-indikator. Pada umumnya asesmen bimbingan konseling dapat dilakukan dalam bentuk laporan diri, performance test, tes psikologis, observasi, wawancara, dan sebagainya. Dalam pelaksanaannya, asesmen merupakan hal yang penting dan harus  dilakukan dengan berhati-hati sesuai dengan kaidahnya. Kesalahan dalam mengidentifikasi masalah karena asesmen yang tidak memadai  akan menyebabkan tritmen gagal; atau bahkan dapat memicu munculnya konsekuensi dari tritmen yang merugikan diri konselee.  Meskipun menjadi dasar dalam melakukan tritmen pada konselee, tidak berarti konselor harus menilai (to assess) semua latar belakang dan situasi yang dihadapi klien pada saat itu jika tidak perlu. Kadangkala konselor menemukan bahwa ternyata   “hidup” konselee sangat menarik. Namun demikian tidaklah efisien dan tidak etis untuk menggali semuanya selama hal tersebut tidak relevan dengan tritmen yang diberikan untuk mengatasi masalah konselee. Karena itu, setiap guru pembimbing/konselor perlu berpegang pada pedoman pertanyaan sebelum melakukan asesmen; yaitu “Apa saja yang perlu kuketahui mengenai klien?”. Hal itu berkaitan dengan apa saja yang relevan untuk mengembangkan intervensi atau tritmen yang efektif, efisien, dan berlangsung lama bagi konselee.
Hood & Johnson (1993) menjelaskan ada beberapa fungsi asesmen, diantaranya adalah untuk:
a.       menstimulasi konselee maupun konselor mengenai berbagai isu permasalahan
b.      menjelaskan masalah yang senyatanya
c.       memberi alternatif solusi untuk masalah
d.      menyediakan metode untuk dengann memperbandingkan alternatif shg dapat diambil keputusan
e.       memungkinkan evaluasi efektivitas konseling
Selain itu, asesmen juga diperlukan untuk memperoleh informasi yang membedakan antara apa ini (what is) dengan apa yang  diinginkan (what is desired) sesuai dengan kebutuhan dan hasil  konseling.
Asesmen memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan perencanaan dan pelaksanaan model-model pendekatan konseling. Jika kedua komponen tersebut didesain dengan pendekatan “client centered” atau “bottom up”,  asesmen akan mengarah pada inovasi. Hal ini memiliki makna bahwa  asesmen tidak hanya berorientasi pada hasil/produk akhir, tetapi justru akan lebih terfokus pada proses konseling, yaitu mulai dari membuka konseling sampai dengan mengakhiri konseling; atau setidak-tidaknya akan ada keseimbangan antara proses konseling dengan  hasil konseling. Dengan demikian asesmen akan benar-benar bisa memenuhi kriteria objektivitas dan keadilan, sehingga keputusan yang akan diambil oleh konselee dapat benar-benar sesuai dengan kemampuan diri  konselee itu sendiri.
Asesmen yang tidak dilakukan secara objektif, akan berpengaruh pada pelayanan konseling oleh konselor sekolah/ guru bimbingan konseling.  Hal ini akan berakibat tidak baik pada diri konselee, bahkan terhadap konselor itu sendiri untuk  jangka panjang maupun jangka pendek.Asesmen dalam bimbingan dan konseling adalah asesmen yang berbasis individu dan  berkelanjutan. Semua indikator bukan diukur dengan soal seperti dalam pembelajaran, tetapi diukur secara kualitatif, kemudian hasilnya dianalisis untuk mengetahui kemampuan konselee dalam mengambil keputusan pada akhir konseling, dalam melaksanakan keputusan setelah  konseling, serta melihat kendala/masalah yang dihadapi konselee dalam proses konseling maupun kendala dalam melaksanakan keputusan yang telah ditetapkannya.
Ruang lingkup dalam asesmen (assesment need areas) dalam bimbingan dan konseling ada lima, yaitu:
1.   Systems assessment, yaitu asesmen yang dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai  status dari suatu sistem, yang membedakan antara apa ini (what is it) dengan apa yang  diinginkan (what is desired) sesuai dengan kebutuhan dan hasil konseling; serta tujuan yang sudah dituliskan/ditetapkan atau outcome yang diharapkan dalam konseling.
2. Program planning, yaitu perencanaan program untuk memperoleh informasi-informasi yang dapat digunakan untuk membuat keputusan dan untuk menyeleksi bagian–bagian program yang efektif dalam pertemuan-pertemuan antara konselor dengan konselee; untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan khusus pada tahap pertama. Di sinilah muncul fungsi evaluator dalam asesmen, yang memberikan informasi-informasi  nyata  yang potensial. Hal inilah yang kemudian membuat asesmen menjadi efektif, yang dapat membuat konselee mampu  membedakan  latihan yang dilakukan pada saat konseling dan penerapannya di kehidupan
nyata dimana konselee harus membuat suatu keputusan, atau memilih alternatif-altenatif yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalahnya.
 3. Program Implementation, yaitu bagaimana asesmen dilakukan untuk menilai pelaksanaan program dengan memberikan informasi-informasi nyata; yang menjadikan program-program tersebut dapat dinilai apakah sesuai dengan pedoman.
4.  Program Improvement, dimana asesmen dapat digunakan dalam dalam perbaikan program, yaitu yang berkenaan dengan: (a) evaluasi terhadap informasi-informasi yang nyata, (b) tujuan yang akan dicapai dalam program, (c)  program-progam yang berhasil, dan (d) informasi-informasi yang mempengaruhi proses pelaksanaan program-program yang lain.
5.  Program certification, yang merupakan akhir kegiatan. Menurut Center for the Study of Evaluation (CSE), program sertifikasi adalah suatu evaluasi sumatif, hal ini memberikan makna bahwa pada akhir kegiatan akan  dilakukan evaluasi akhir  sebagai dasar untuk memberikan sertifikasi kepada konselee. Dalam hal ini evaluator berfungsi  pemberi informasi mengenai hasil evaluasi yang akan digunakan  sebagai dasar untuk mengambil keputusan.
B). Tujuan Dan Kegunaan Assesment
Asesmen mempunyai beberapa tujuan dalam proses konseling, diantaranya yaitu :
1)      Melancarkan proses pengumpulan informasi
2)      Memungkinkan konselor membuat diagnosis yang akurat
3)      Memfasilitasi perkembangan dari suatu rencana tindakan yang efektif
4)      Menentukan tepat atau tidaknya seseorang untuk suatu program tindakan tertentu
5)      Menyederhanakan pencapaian sasaran dan pengukuran kemajuan
6)      Meningkatkan wawasan mengenai kepribadian seseorang dan mengklarifikasi konsep diri
7)      Menilai lingkungan atau konteks
8)      Meningkatkan konseling dan diskusi yang lebih terfokus dan relevan
9)      Mengindikasikan kemungkinan bahwa peristiwa tertentu akan terjadi seperti sukses dalam akademik
10)  Meningkatkan terjemahan dari minat, kemampuan dan dimensi kepribadian dalam peristilahan ukopasional
11)  Menghasilkan opsi dan alternatif
12)  Memfasilitasi perencanaan dan pembuatan keputusan.[59]
                       
Hood & Johnson (1993) menjelaskan bahwa asesmen dalam bimbingan dan konseling mempunyai beberapa tujuan, yaitu:
  1. Orientasi masalah, yaitu untuk membuat konselee mengenali dan menerima permasalahan yang dihadapinya, tidak mengingkari bahwa ia bermasalah
  2. Identifikasi masalah, yaitu membantu baik bagi konselee maupun konselor dalam mengetahui masalah yang dihadapi konselee secara mendetil
  3. Memilih alternatif solusi dari berbagai alternatif penyelesaian masalah yang dapat dilakukan oleh konselee
  4. Pembuatan keputusan alternatif pemecahan masalah yang paling menguntungkan dengan memperhatikan konsekuensi paling kecil dari beberapa alternatif  tersebut
  5. Verifikasi untuk menilai apakah konseling telah berjalan efektif dan telah mengurangi beban masalah konselee atau belum
Selain itu, asesmen digunakan pula untuk menentukan variabel pengontrol dalam permasalahan yang dihadapi konselee, untuk memilih/mengembangkan intervensi  terhadap area yang bermasalah, atau dengan kata lain menjadi dasar untuk mendesain dan mengelola terapi, untuk membantu mengevaluasi intervensi, serta untuk menyediakan informasi yang relevan untuk pertanyaan-pertanyaan  yang muncul untuk setiap fase konseling.
Pada asesmen berbasis individu, asesmen dipakai  untuk mengumpulkan informasi asli atau autentik mengenai  konselee sehingga diperoleh informasi menyeluruh tentang diri konselee  secara utuh, dan untuk memberikan penilaian yang objektif. Selain itu, secara terperinci asesmen berbasis individu  bertujuan untuk:
  1. Mengembangkan cara konselee merespon (verbal dan/atau non verbal) pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh guru BK.
  2. Melatih konselee untuk  berpikir dalam upaya pemecahan masalah
  3. Membentuk kemandirian konselee dalam berbagai masalah atau membentuk  individu  menjadi mandiri.
  4. Melatih konselee mengemukakan apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakan. melalui proses konseling.
  5. Membentuk individu yang terbuka  dalam berbagai hal, termasuk membuka diri dalam konseling
  6. Membina kerjasama yang baik dalam memecahkan masalah yang dihadapi. 
  7. Membelajarkan konselee untuk menilai terhadap cara melaksanakan keputusannya secara konsekuen.
Asesmen berbasis individu akan  mengukur seluruh kemampuan konselee, baik keterampilan personal (personal skills), keterampilan social (social skills), keterampilan memecahkan masalah (problem solving skills), dan keterampilan memilih alternative (Choice alternative  skills). Jika hal ini
dilakukan maka asesmen akan dapat:
a.    membantu sekolah dan guru dalam melaksanakan pembelajaran  karena konselee sebagai siswa dapat berkonsentrasi dalam mengikuti pembelajaran,
b.    memudahkan guru  dalam pembelajaran di kelas karena siswa tidak banyak masalah,
c.    memudahkan guru bimbingan dan konseling dalam melaksanakan tugas bimbingan dan konseling –  khususnya dalam konseling,
d.   membantu kepala sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah,
e.    mendorong konselee  untuk memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling dalam berbagai hal (seperti mendapatkan informasi studi, pekerjaan, dan memecahkan  masalah (masalah pribadi, sosial, belajar, dan karir), dan
f.     menyajikan informasi berkesinambungan tentang kegiatan kegiatan layanan bimbingan dan konseling.
Dalam tiap fase konseling, asesmen (menurut Hood & Johnson, 1993)  mempunyai tujuan yang bisa jadi berbeda-beda. Hal ini terlihat dalam tabel berikut ini:
       Fase treetmen
Pertanyaan yang ditujukan  bagi  asesmen
Skrining awal
a.       Apakah konselee  tepat untuk layanan ini?
b.       Jika tidak tepat, dirujuk kemana?
Identifikasi dan analisis
masalah
a.       Apa masalah konselee?
b.      Apakah masalah konselee  mengundang
masalah tritmen?
c.       Faktor apa yang membuat masalah konselee terus
berlangsung?
Seleksi tritmen
a.       Alternatif tritmen apa yang membuat konselee
nyaman?
b.      Alternatif tritmen apa yang membuat
lingkungan  konselee nyaman?
c.       Alternatif tritmen apa yang membuat terapis
nyaman?
d.      Tritmen mana yang optimum dalam menyelesaikan masalah konselee?
Evaluasi tritmen
a.       Apakah evaluasi tritmen dapat dipercaya?
b.      Perubahan apa yang terjadi pada masalah dan
perilaku?
c.       Apakah perubahan terjadi karena tritmen?
d.      Biaya apa yang harus dikeluarkan untuk
tritmen?
e.       Apakah keuntungan yang didapat dari tritmen
memadai dengan biayanya?
f.        Apakah tritmen harus dihentikan atau dilanjutkan?
Sedangkan kegunaan assesmen adalah:
1)      Mengukur kemajuan anak-anak sebagai bentuk evaluasi program
2)      Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan pengembangan staf dan perencanaan pembelajaran di masa yang akan datang
3)      Membantu anak-anak berkembang secara optimal, baik fisik, sosial, emosional, intelektual maupun spiritual
4)      Mendeteksi keterlambatan-keterlambatan perkembangan atau kebutuhan-kebutuhan khusus yang mungkin dimiliki anak-anak.
C). Penyusunan Instrumen Assesment
·         Interview
Interview merupakan dasar dalam asesmen dan merupakan sumber yang sangat luas. Ada beberapa kelebihan interview antara lain:
Ø  Merupakan hal biasa dalam interaksi sosial sehingga memungkinkan untuk mengumpulkan sampel tentang perilaku verbal atau non verbal individu bersama-sama.
Ø  Tidak membutuhkan peralatan atau perlengkapan khusus dan dapat dilakukan dimanapun juga.
Ø  Mempunyai tingkat fleksibilitas yang tinggi, bebas untuk melakukan inquiry (pendalaman) terhadap topik pembicaraan yang mungkin dapat membantu proses asesmen.
·         Tes
Seperti interview, tes juga memberikan sampel perilaku individu, hanya saja dalam tes stimulus yang direspon klien lebih terstandardisasikan daripada interview. Bentuk tes yang sudah standar tersebut membantu untuk mengurangi bias yang mungkin muncul selama proses asesmen berlangsung. Respon yang diberikan biasanya dapat diubah dalam bentuk skor dan dibuat analisis kuantitatif. Hal itu membantu konselor untuk memahami klien. Skor yang didapat kemudian diinterpretasi sesuai dengan norma yang ada.
·         Observasi
Tujuan observasi adalah untuk mengetahui lebih jauh di luar apa yang dikatakan klien. Banyak yang mempertimbangkan bahwa observasi langsung mempunyai tingkat validitas yang tertinggi dalam asesmen. Hal itu berhubungan dengan kelebihan observasi antara lain:
Ø  Observasi dilakukan secara langsung dan mempunyai kemampuan untuk menghindari permasalahan yang muncul selama interview dan tes seperti  masalah memori, jenis respon, motivasi dan bias situasional.
Ø  Relevansinya terhadap perilaku yang menjadi topik utama. Misalnya perilaku agresif anak dapat diobservasi sebagaimana perilaku yang ditunjukkan dalam lingkungan bermain dimana masalah itu telah muncul.
Ø  Observasi dapat mengases perilaku dalam konteks sosialnya. Misalnya untuk memahami seorang pasien yang kelihatan depresi setelah dikunjungi keluarganya, akan lebih bermakna dengan mengamati secara langsung daripada bertanya, “Apakah Anda pernah depresi?”.
Ø  Dapat mendeskripsikan perilaku secara khusus dan detail.
·         Life record
Asesmen yang dilakukan melalui data-data yang dimiliki seseorang baik berupa ijazah sekolah, arsip pekerjaan, catatan medis, tabungan, buku harian, surat, album foto, catatan kepolisian, penghargaan, dan sebagainya. Banyak hal dapat dipelajari dari life record tersebut. Pendekatan ini tidak meminta klien untuk memberi respon yang lebih banyak seperti melalui interview, tes atau observasi. Selama proses ini, data dapat lebih terhindar dari distorsi memori, jenis respon, motivasi atau faktor situasional.

D). Contoh-Contoh Rubrik
            Terlampir.....
K. Perlengkapan dan tata laksana bimbingan kelompok dan individu
ü  Instrument Pengumpulan Data
Untuk dapat terselenggaranya pelayanan BK yang sebaik-baiknya perlu adanya perlengkapan bagi terselenggaranya pelayanan bimbingan. Perlengkapan itu harus tersedia agar kegiatankegiatan pelayanan dapat terselenggara dengan baik.
Perlengkapan tatalaksana bimbingan dan konseling yang diperlukan disekolah meliputi :
1.Yang berhubungan dengan pengumpulan data murid.
2.Yang berhubungan dengan peyimpanan data murid.
3.Yang berhubungan dengan pelaksanaan bimbingan.
4.Yang berhubungan dengan administrasi bimbingan.
5.Yang berhubungan dengan fasilitas fisik.
Agar pelayanan dan program dapat berjalan dengan baik, maka perlu mempersiapkan alat-alat atau perlengkapan yang berhubungan dengan pengumpulan data.
Perlengkapan tersebut ialah alat-alat pengumpul data, antara lain : pedoman wawancara, pedoman observasi, angket, cheklist, sosiometri, blanko pemeriksaan kesehatan, blanko laporan studi kasus, beberapa test (kalau memungkinkan) seperti test inteligensi, test kepribadian, tet hasil belajar, dan sebagainya.[60]
ü  Perlengkapan Penyimpanan Data Bimbingan Kelompok Dan Individu
Data murid yang telah terkumpul perlu disimpan dengan baik agar mempermudah jika sewaktu-waktu diperlukan kembali. Penyimpanan data ini dapat bersifat individual dan dapat bersifat berkelompok (misalnya menurut kelas, jenis kelamin, jurusan, masalah, dsbnya). Alat penyimpanan data dapat berupa :
a. Kartu.
Bentuknya hanya satu lembar (satu halaman atau dua halaman). Penggunaannya untuk mencatat data murid mengenai aspek-aspek tertentu, misalnya : kesehatan, absensi, kemajuan akademis, kejadian-kejadian khusus, data sosiometri, masalah-maslah khusus, dsbnya.
b. Folders.
Bentuknya hampir sama dengan kartu, tetapi dapat dilipat sehingga menjadi empat halaman. Penggunaannya hampir sama dengan kartu. Folder menuangkan, mencatat data yang lebih banyak daripada kartu. Dibuat dalam bentuk dan ukuran serta warna tertentu dan disusun dalam suatu kotak secara teratur.
c. Booklets.
Lebih lengkap dari folder, merupakan suatu buku kecil, artinya lembarannya lebih dari empat halaman. Data dapat dicatat lebih banyak lagi, dan lebih luas, seperti nilai-nilai hasil belajar, kegiatan-kegiatan kelompok, kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler, dsbnya. Salah satu booklet misalnya buku rapor.
d. Commulative record atau buku pribadi
Banyak data yang harus dicatat, maka dirasakan perlu ada suatu alat pencatatan yang menampung seluruh aspek data murid, alat tersebut dinamakan COMMULATIVE RECORD (catatan komulatif) dalam bentuk buku dan disebut buku pribadi. Buku ini terdiri atas beberapa halaman, tergantung kepada jumlah aspek data yang dapat dicatat didalamnya.
e. Map
Digunakan untuk menyimpan data yang tidak dapat tersimpan dalam alatseperti tersebut diatas.

ü  Perlengkapan Pelaksanaan Bimbingan Konseling Kelompok Dan Individu
Untuk kelancaran pelaksanaan tekhnis bimbingan dan konseling, maka perlu dipersiapkan alat-alat, sebagai berikut :
      1.            Bentuk surat, seperti surat panggilan murid, surat panggilan orang tua, surat pemberitahuan home visit, surat panggilan guru, dan sebagainya.
      2.            Kartu konseling, yang digunakan untuk mencatat segala kegiatan dan proses konseling untuk setiap murid.
      3.            Kartu konsultasi, yang dipergunakan untuk mencatat kegiatan dan proses konsultasi baik dengan orang tua, guru-guru maupun pihak-pihak lain.
      4.            Daftar kasus, yang berisi nama-nama kasus beseta masalahnya serta jadwal bimbingannya.
      5.            Catatan case conference, yang digunakan untuk mencatat kegiatan dan proses case conference.
      6.            Catatan bimbingan kelompok, yang digunakan untuk mencatat kegiatan dan proses bimbingan kelompok.
      7.            Kotak masalah, yaitu kotak yang disediakan untuk menampung masalah baik dari murid, guru, ataupun dari pihak lain ditulis dalam selembar kertas yang kemudian dimasukkan kedalam kotak masalah.
      8.            Papan pengumuman, digunakan untuk mengumumkan segala sesuatu yang dianggap perlu dalam hubungan dengan kegiatan bimbingan.[61]
ü  Perlengkapan Administrasi Bimbingan Kelompokan Dan Individu
Untuk kelancaran kegiatan administrasi BK perlu dipersiapkan perlengkapan administrasi seperti :
   1.     Alat tulis menulis.
   2.     Blanko surat seperti laporan bulanan, laporan mingguan, surat undangan, dan sebagainya.
   3.     Agenda surat keluar-masuk.
   4.     Arsip surat-surat.
   5.     Catatan kegiatan harian.
   6.     Buku tamu.
   7.     Perlengkapan Fisik.
Perlengkapan fisik yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan BK antara lain ruangan beserta perlengkapannya. Perlengkapan ruangan yang diperlukan untuk pelaksanaan BK antara lain :
1)      Ruang kerja konselor : tempat konselor melakukan kegiatan.
2)      Ruang konseling : tempat untuk melakukan konseling.
3)      Ruang konsultasi : tempat untuk kegiatan konsultasi dengan orang tua, guru, teman dan sebagainya.
4)      Ruang tunggu dan tamu : tempat untuk menunggu, baik bagi murid, guru, ataupun orang tua, serta tamu lainnya.
5)      Ruang bimbingan kelompok atau ruang rapat : ruang yang digunakan untuk bimbingan
6)      kelompok, rapat, diskusi, dan case conference.
7)      Ruang perpustakaan : ruangan yang berisi buku-buku, majalah, brosur, atau bahan literatur kasusnya yang diperlukan.[62]
L.  Evaluasi bimbingan.
ü  Konsep Evaluasi BK Kelompok Dan Individu
Evaluasi program bimbingan, menurut W.S Winkel (1991; 135), adalah usaha menilai efiseinsi dan efektifitas pelayanan bimbingan aitu sendiri demi peningkatan mutu program bimbingan.
Adapun menurut Dewa Ketut Sukardi (1990; 47) evaluasi program bimbingan adalah segala upaya tindakan atau proses untuk mendapatkan derajat kualitas kemajuan kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan program bimbingan dan konseling disekolah dengan mengacu pada kreteria atau patokan-patokan tertentu sesuai dengan program bimbingan yang dilaksanakan. Jadi, evaluasi pelaksanaan program bimbingan merupakan suatu usaha untuk menilai efisiensi dan efektifitas pelayanan bimbingan konseling demi peningkatan mutu program bimbingan dan konseling.[63]
Evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan konseling ialah usaha penelitian dengan cara mengumpulkan data secara sistematis, menarik, kesimpulan atas dasar data yang diperoleh secara objektif, mengadakan penafsiran, dan merencanakan langkah-langkah perbaikan, pengembangan, dan pengarahan staf. (Fitri Wahyuni, 2009)
Dalam buku, “Bimbingan dan Konseling di Sekolah,” terbitan Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Departemen Pendidikan Nasional (2008; 27), dijelaskan penilaian merupakan langkah penting dalam manajemen program bimbingan. Tanpa Penilaian, keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan program bimbingan yang telah direncanakan tidak mungkin diketahui/diidentifikasi.
Penilaian program bimbingan merupakan usaha untuk menilai sejauh mana pelaksanaan program itu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain keberhasilan program dalam pencapaian tujuan merupakan suatu kondisi yang hendak dilihat melalui kegiatan penilaian.
Evaluasi dapat pula diartikan sebagai proses pengumpilan informasi (data) untuk mengetahui efektivitas (keterlaksanaan dan ketercapaian) kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan dalam upaya mengambil keputusan. Pengertian lain evaluasi adalah suatu usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari perkembangan sikap dan perilaku atau tugas-tugas perkembangan para siswa melalui program kegiatan yang telah dilaksanakan.[64]
ü  Tujuan Dan Kegunaan Evaluasi
Menurut Fitri Wahyuni, 2009 secara umum, penyelenggaraan evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan konseling bertujuan sebagai berikut :
a)      Mengetahui kemajuan program bimbingan dan konseling atau subjek yang telah memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling.
b)      Mengetahui tingkat efisiensi dan efektifitas strategi pelaksanaan program bimbingan dan konseling yang telah dilaksanakan dalam kurum waktu tertentu.
c)      Secara operasional, penyelenggaraan  evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan konseling diantaranya ditujukan untuk :
·         Meneliti secara berkala hasil pelaksanaan program bimbingan dan konseling.
·         Mengetahui tingkat efisiensi dan efektivitas layanan bimbingan dan konseling.
·         Membantu mengembangkan kurikulum sekolah untuk kesesuaian dengan kebutuhan.
Fungsi atau kegunaan evaluasi antara lain sebagai berikut :
a)      Memberikan umpan balik (feed back) kepada guru pembimbing (konselor) untuk memperbaiki atau mengembangkan program bimbingan dan konseling
b)      Memberikan informasi kepada pihak pimpinan sekolah, guru matapelajaran, dan orang tua siswa tentang perkembangan siswa agar secara bersinergi atau berkolaborasi meningkatkan kualitas implementasi program BK disekolah.[65]
ü  Teknik-Teknik Evaluasi Dalam BK Kelompok Dan Individu.
Kegiatan penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah meliputi banyak aspek baik yang menyangkut SDM maupun instrumen pendukung kegiatan lainnya, yaitu sebagai berikut :
a)      Lingkungan bimbingan, sarana yang ada, dan situasi daerah
b)      Program kegiatan bimbingan
c)      Personal atau ketenagaan
d)     Fasilitas teknis dan fisik
e)      Pengelolaan dan administrasi bimbingan
f)       Pembiayaan
g)      Partisipassi personal
h)      Proses kegiatan
i)        Akibat sampingan[66]













BAB III
LAPORAN PENELITIAN
A.    Gambaran Umum Objek Penelitian
SMA Wachid Hasyim 2 adalah suatu lembaga pendi­dikan yang bernaung di bawah yayasan pendidikan dan Sosial Ma’arif Sepanjang. Yayasan ini berdiri pada tahun 1964,sedangkan SMA WAHID HASYIM 2 berdiri tahun 1970. Untuk SMA WACHID HASYIM memang memiliki sedikit perbedaan dengan nama yayasannya. Hal itu dilatar belakangi ketika YPM akan mendirikan Sekolah Menengah Atas, menemui hambatan-hambatan yang sangat sulit, sampai akhirnya pengurus YPM memutuskan dalam pendi­dikan SMA harus bergabung dengan yayasan WACHID HASYIM di Surabaya.
Namun dalam perjalanan­nya SMA yang dikelola oleh YPM mengalami peningkatan sehigga yayasan WAHID HASYIM Surabaya  menyerahkan sepenuhnya pengelolaan SMA filial itu kepada YPM di beri nama WACHID HASYIM 2. Hal ini sebagai jasa baik, yayasan WACHID HASYIM, maka nama WACHID HASYIM di abadikan sebagai Nama SMA di YPM.
Sebagai sekolah favorit SMA ini menyediakan berbagai layanan, salah satunya adalah layanan Bimbingan dan konseling. pelaksanaan Bimbingan dan konseling sangat efektif, melibatkan semua pihak sekolah mulai dari satpam, guru mata pelajaran, wali kelas dan kepala sekolah.  SMA WAHID HASYIM 2 Sepanjang mempunyai 1 koordinator guru BK yaitu bapak H. Amir Mahmud, S.Psi dan 2 guru BK yaitu Ani Nuriko S.Pd dan Agung Nugroho S.Pd. system administrasinya mengikuti aturan ISO (internasional standart organization).
B. Pelaksanaan konseling individu
Paradigma mayoritas siswa di SMA Wahid hasyim 2 sidoarjo  guru BK. Bukan sebagai polisi sekolah melainkan sebagai sahabat mereka. Hal ini terbukti dengan banyaknya siswa yang datang ke guru BK baik hanya sekedar main atau curhat. Dengan kemajuan teknologi Konseling individu tidak hanya terbatas oleh jam sekolah, bahkan diluar itupun Guru Bk bersedia memberikan konseling via phone atau facebook.
            Teknik pelaksanaannya dilakukan dengan directive counseling dan non directive counseling. Directive counseling atau teacher center counseling diterapkan bagi klien atau siswa yang memiliki karakteristik sebagai berikut tertutup, pemalu dan mempunyai kemampuan yang kurang baik dalam menyampaikan masalah. Guru BK menyediakan semacam buku anecdotal record bagi siswa-siswa tersebut, siswa yang ingin mendapat konseling individu bisa mengisi buku itu dengan menyertakan hari dan jam yang diinginkan.
            Directive counseling atau teacher center counseling diterapkan bagi klien atau siswa yang memiliki karakteristik sebagai berikut tertutup, pemalu dan mempunyai kemampuan yang kurang baik dalam menyampaikan masalah Siswa datang sendiri keruang BK untuk mendapat layanan ini, mereka secara antusias menyampaikan beberapa masalah yang dirasa perlu untuk disharekan.
C.Pelaksanaan bimbingan kelompok
Bimbingan kelompok memungkinkan sejumlah peserta didik secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari narasumber tertentu (terutama dari pembimbing dan konselor) yang berguna untuk menunjang kehidupannya sehari-hari baik individu maupun pelajar.
Pola pemberian bimbingan kelompok di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo ini dilakukan secara langsung dengan memberi pemahaman dan pengarahan kepada siswa di kelas. Meliputi masalah-masalah pribadi, social, belajar dan karier. Bimbingan karier lebih difokuskan pada siswa kelas 3.
Pemberian bimbingan kelompok diawali dengan penjelasan dari guru mengenai tema yang akan dibahas. Pada siswa kelas 3 tema pokok yang dibahas mengenai perguruan tinggi ( Universitas, institute, sekolah tinggi, dll). Adapun langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut :
1.      Menentukan tema
2.      Memahami tujuan kegiatan
3.      Semua siswa disuruh menulis beberapa perguruan tinggi baik negeri ataupun swasta yang mereka ketahui
4.      Siswa menulis salah satu program studi atau jurusan yang dikehendaki setelah lulus nanti.
5.      Siswa yang mempunyai pilihan yang sama dikelompokan menjadi 1.
6.      Diskusi kelompok
7.      Menyimpulkan hasil diskusi dan menyerahkan kepada guru BK.
Setelah kegiatan tersebut guru BK mengevaluasi hasil diskusi. Jika masih ada permasalahan yang belum terpecahkan maka dilakukan follow up.
D. Pelaksanaan konseling kelompok
sebelum melaksanaan bimbingan dan konseling ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh siswa, antara lain :
a.       Membangun kebersamaan dalam kelompok
b.      Merasa sungguh-sungguh terlibat dalam kelompok
c.       Terbuka terhadap berbagai masalah yang dihadapi(extrofet)
d.      Bersedia menerima pendapat dari orang lain.
e.        Bertanggung jawab terhadap kelompoknya.(ungkap Agung, salah satu guru BK).
         Idealnya 1 guru BK maksimal menangani 150 siswa, namun di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo 1 guru BK menagani 600 siswa. Jumlah siswa yang sangat banyak itu menghambat pelakasanaan konseling kelompok, sehingga guru BK memberikan konseling kelompok pada perwakilan kelas ( ketua kelas dan sekretaris). Ketua kelas bertanggungjawab atas kondisi kelas, kenyamanan kelas, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kenyamanan belajar. Sedandkan sekretaris bertanggungjawab atas absensi siswa dikelas tersebut.
                 Langkah-langkah pelaksanaan konseling kelompok di SMA WAHID HASYIM 2 Sidoarjo, antara lain :
§  Guru BK mengumpulkan ketua kelas dan sekretaris di ruang BK
§  Masing-masing perwakilan kelas melaporkan keadaan kelasnya serta permasalahan yang dialami dikelas tersebut.
§  Perwakilan kelas lain memberikan pendapat tentang pemecahan masalah yang telah diungkapkan, begitu seterusnya secara bergiliran. (kegiatan ini dilakukan 1x dalam 1 bulan).
E.Teknik pemberian layanan informasi
layanan informasi merupakan layanan bimbngan yang memungkinkan peserta didik dan pihak-pihak lain yng dapat memberikan pengaruh yang besar kepada peserta didik menerima dan memahami informasi yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan.
Di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo layanan ini diberikan dengan beragam cara dan meliputi informasi pendidikan, pekerjaan dan perguruan tinggi. Informsi pendidikan yaitu informsi mengenai system penjurusan, kenaikan kelas, syarat-syarat kenaikan kelas dan info beasiswa. Informasi pekerjaan khususnya diberikan kepada siswa yang tidak melanjutkan studinya. Sedangkan informasi tentangn perguruan tunggi diberikan melalui bimbingan dalam kelas, download dari internet an brifing dari universitas-universitas favorit,






























BAB IV
KASIMPULAN
           
SMA Wachid Hasyim 2 adalah suatu lembaga pendi­dikan yang bernaung di bawah yayasan pendidikan dan Sosial Ma’arif Sepanjang. Yayasan ini berdiri pada tahun 1964,sedangkan SMA WAHID HASYIM 2 berdiri tahun 1970. Sebagai sekolah favorit SMA ini menyediakan berbagai layanan, salah satunya adalah layanan Bimbingan dan konseling. pelaksanaan Bimbingan dan konseling sangat efektif, melibatkan semua pihak sekolah mulai dari satpam, guru mata pelajaran, wali kelas dan kepala sekolah. SMA WAHID HASYIM 2 Sepanjang mempunyai 1 koordinator guru BK yaitu bapak H. Amir Mahmud, S.Psi dan 2 guru BK yaitu Ani Nuriko S.Pd dan Agung Nugroho S.Pd. system administrasinya mengikuti aturan ISO (internasional standart organization).
            Konseling individu dilaksanakan dengan directive counseling dan non directive counseling. Directive counseling atau teacher center counseling diterapkan bagi klien atau siswa yang memiliki karakteristik sebagai berikut tertutup, pemalu dan mempunyai kemampuan yang kurang baik dalam menyampaikan masalah. Directive counseling atau teacher center counseling diterapkan bagi klien atau siswa yang memiliki karakteristik sebagai berikut tertutup, pemalu dan mempunyai kemampuan yang kurang baik dalam menyampaikan masalah.
                 Pola pemberian bimbingan kelompok di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo ini dilakukan secara langsung dengan memberi pemahaman dan pengarahan kepada siswa di kelas. Meliputi masalah-masalah pribadi, social, belajar dan karier. Bimbingan karier lebih difokuskan pada siswa kelas 3.
Pemberian bimbingan kelompok diawali dengan penjelasan dari guru mengenai tema yang akan dibahas. Pada siswa kelas 3 tema pokok yang dibahas mengenai perguruan tinggi ( Universitas, institute, sekolah tinggi, dll). Adapun langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut :
1.      Menentukan tema
2.      Memahami tujuan kegiatan
3.      Semua siswa disuruh menulis beberapa perguruan tinggi baik negeri ataupun swasta yang mereka ketahui
4.      Siswa menulis salah satu program studi atau jurusan yang dikehendaki setelah lulus nanti.
5.      Siswa yang mempunyai pilihan yang sama dikelompokan menjadi 1.
6.      Diskusi kelompok
7.      Menyimpulkan hasil diskusi dan menyerahkan kepada guru BK.
                 Langkah-langkah pelaksanaan konseling kelompok di SMA WAHID HASYIM 2 Sidoarjo, antara lain :
§  Guru BK mengumpulkan ketua kelas dan sekretaris di ruang BK
§  Masing-masing perwakilan kelas melaporkan keadaan kelasnya serta permasalahan yang dialami dikelas tersebut.
Perwakilan kelas lain memberikan pendapat tentang pemecahan masalah yang telah diungkapkan, begitu seterusnya secara bergiliran. (kegiatan ini dilakukan 1x dalam 1 bulan).
Di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo layanan ini diberikan dengan beragam cara dan meliputi informasi pendidikan, pekerjaan dan perguruan tinggi. Informsi pendidikan yaitu informsi mengenai system penjurusan, kenaikan kelas, syarat-syarat kenaikan kelas dan info beasiswa. Informasi pekerjaan khususnya diberikan kepada siswa yang tidak melanjutkan studinya. Sedangkan informasi tentangn perguruan tunggi diberikan melalui bimbingan dalam kelas, download dari internet dan brifing dari universitas-universitas favorit.


§   












DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu & Drs. Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2008.
Djumhur, Bimbingan Dan Penyuluhan Di Sekolah, Bandung: C.V. Ilmu, 1975.
Latipun, Psikologi Konseling, Malang: UMM Press, 2005.
Lesmana, Jeannete Murad, Dasar-Dasar Koseling, Jakarta: Universitas Indonesia/ UI-Press, 2005.
Nurihsan, A. Juntika, Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan, Bandung: PT. Revika Aditama, 2006.
Nursalim, Mochamad, Layanan Bimbingan dan Konseling, Surabaya: Unesa University Press, 2002.
Prayitno, Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok, Ghalia Indonesia:Padang, 1995.
Salahudin, Anas, Bimbingan & Konseling, Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2010.
Sarwono, Sarlito Wirawan, Teori-Teori Psikologi Sosial, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998.
Sukardi , Dewa Ketut, Proses Bimbingan Dan Penyuluhan Di Sekolah, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1995.
Surya, Mohammmad, Psikologi konseling, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2003.
Tim Penyusun Yusuf Gunawan. Et al, Pengantar Bimbingan Dan Konseling,  Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992.
Winkel, W.S. dan M.M. Sri Hastuti, Bimbingan dan Konseling di Institusi pendidikan, Yogyakarta: Media Abadi, 2006.
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/09/12/pendekatan-strategi-metode-teknik-dan-model-pembelajaran/
www.google//bimbingankonselingkelompok//.com
 http://konselorindonesia.blogspot.com/2010/11/bimbingan-kelompok-dan-konseling.html
http://konselingindonesia.com/index.php?option=com_content&task=blogcategory&id=85&Itemid=45
http://dinamukarromah.blogspot.com/2011/07/bentuk-bentuk-bk-kelompok.html
 http://misscounseling.blogspot.com/2011/03/bimbingan-kelompok.html
http://massofa.wordpress.com/2008/10/30/langkah-langkah-dalam-memberikan-bimbingan-konseling-di-sekolah/
http://ilmupsikologi.wordpress.com/2010/01/14/pengertian-bimbingan-kelompok/
http://arf88.blogspot.com/2010_02_01_archive.html


[1] Dewa Ketut Sukardi, Managemen Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah, (Bandung: Alfabetha 2002) Hal. 44-54  
[2]Nana Saodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosda  Karya, 2005), hlm. 72
[3] Prayitno.” Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok Dasar Dan Profil”, Jakarta : Ghalia Indonesia. 1995.hlm.2
[4] Dewa, Ketut S. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling”,Jakarta: Rineka Cipta. 2002.hlm.1
[5] http://konselorindonesia.blogspot.com/2010/11/bimbingan-kelompok-dan-konseling.html

[6] Drs. Anas Salahudin, M.Pd., Bimbingan dan Konseling, Pustaka Setia: Bandung, 2010. hal 13
[7] Ibid hal 14-16
[8] Fenti hikmawati,”Bimbingan Konseling”, Jakarta: Rajawali Pers, 2010, Hlm.2
[9]http://konselingindonesia.com/index.php?option=com_content&task=blogcategory&id=85&Itemid=45


[10] Dr. Ahmad Juntika Nurihsan, M.Pd, Bimbingan dan Konseling Dalam Berbagai Latar Kehidupan, PT.Refika Aditama: Bandung, 2006. hal 11
[11]ibid. hal 15
[12] ibid
[13] Drs. Anas salahudin, M.Pd, “ Bimbingan dan Konseling.” Bandung: Pustaka setia, 2010. Hal 98
[14] Prayitno, Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok (Ghalia Indonesia:Padang, 1995) Hal. 45
[15] Sarlito Wirawan Sarwono, Teori-Teori Psikologi Sosial, (Jakarta: Raja Grafindo Persada) 1998.
[16] Ibid.
[17] http://konselingindonesia.com/index.php?option=com_content&task=blogcategory&id=85&Itemid=45
[18] Sukardi, Dewa Ketut.” Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah”. Jakarta : Rineka Cipta. 2002.hlm.4

[19] Ibid.hlm12

[20] Drs. Anas salahudin, M.Pd, “ Bimbingan dan Konseling.” Bandung: Pustaka setia, 2010. Hal  67
[21] Ibid.  Hal 66
[22] Anas Salahuddin, “Bimbingan Dan Konseling”, Bandung : CV.Pustaka Setia,2010, cet.II, Hlm.79
[23] Anas Salahuddin, “Bimbingan Dan Konseling”, Bandung : CV.Pustaka Setia,2010, cet.II, Hlm.72
[24] http://wordpress.com/2008/10/29/teknik-teknik-memahami-perkembangan-anak-2/
[25] Dewa ketut sukardi, “Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan Dan Konseling diSekolah”. Jakarta : PT. Rineka Cipta,2008.cet II. Hal.190
[26] http://.wordpress.com/2008/10/29/teknik-teknik-memahami-perkembangan-anak-2/
[27] Anas Salahuddin, “Bimbingan Dan Konseling”, Bandung : CV.Pustaka Setia,2010, cet.II, Hlm.81
[28]  Ibid, hal 60
[29] Dewa ketut sukardi, “Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan Dan Konseling diSekolah”. Jakarta : PT. Rineka Cipta,2008.cet II..hal 204
[30] http://.wordpress.com/2008/10/29/teknik-teknik-memahami-perkembangan-anak-2/
[31]  Ibid, hal 61
[32] http://mza6bk.blogspot.com/2011/03/teknik-teknik-memahami-murid.html
[33] http://riswantobk.wordpress.com/category/bk-dan-psikologi/bk-kelompok-bk-dan-psikologi/
[34] Drs. Mochamad Nursalim, “Layanan Bimbingan dan Konseling.” Surabaya: Unesa University Press,2002. Hal.22
[35] Tim Penyusun Yusuf Gunawan. Et al, Pengantar Bimbingan Dan Konseling,  (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992), Hlm. 89-94.
[36] Ibid 23-24
[37] Ibid. Hal.26-28
[38] Anas Salahuddin, “Bimbingan Dan Konseling”, Bandung : CV.Pustaka Setia,2010, cet.II, Hlm.95
[39] http://massofa.wordpress.com/2008/10/30/langkah-langkah-dalam-memberikan-bimbingan-konseling-di-sekolah/
[40]Anas Salahuddin, “Bimbingan Dan Konseling”, Bandung : CV.Pustaka Setia,2010, cet.II, Hlm.95
[41] Anas Salahuddin, “Bimbingan Dan Konseling”, Bandung : CV.Pustaka Setia,2010, cet.II, Hlm.96
[42] http://massofa.wordpress.com/2008/10/30/langkah-langkah-dalam-memberikan-bimbingan-konseling-di-sekolah/
[43] Anas Salahuddin, “Bimbingan Dan Konseling”, Bandung : CV.Pustaka Setia,2010, cet.II, Hlm.96
[44] http://massofa.wordpress.com/2008/10/30/langkah-langkah-dalam-memberikan-bimbingan-konseling-di-sekolah/
[45] Anas Salahuddin, “Bimbingan Dan Konseling”, Bandung : CV.Pustaka Setia,2010, cet.II, Hlm.96
[46] http://massofa.wordpress.com/2008/10/30/langkah-langkah-dalam-memberikan-bimbingan-konseling-di-sekolah/
[47]  Prof. Dr. Pryitno, layanan Bimbingan Dan Konseling kelompok (dasar profil), (Ghalia Indonesia, 1995), hal 18-20
[48] Abu Ahmadi, Widodo Supriyopno,”Psikologi Belajar.” Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1991. Hal.113-114
[49] Ibid. Hal. 114
[50] Ibid. Hal. 114-115
[51] Drs. H. Abu Ahmadi, “Psikologi Belajar”. Jakarta:PT RINEKA CIPTA, 2008. Hal. 152-153
[52]  Drs. H. Abu Ahmadi & Drs. Widodo Supriyono, Psikologi Belajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm. 152-153.
[53]  http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/09/12/pendekatan-strategi-metode-teknik-dan-model-pembelajaran/
[54] Ibid. Hal 179-181
[55] Ibid. Hal. 182
[56] Drs. H. Abu Ahmadi & Drs. Widodo Supriyono, Psikologi Belajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), Hal 181-184
[57] Ibid, hlm. 185.
[58]http://gesharandiansyah.blogspot.com/2011/05/aplikasi-ti-dalam-assesmen-bk.html
[59] Jeannete Murad Lesmana, Dasar-Dasar Koseling, (Jakarta: Universitas Indonesia/ UI-Press), 2005. Hlm 120.
[60] http://arf88.blogspot.com/2010_02_01_archive.html
[61]http://arf88.blogspot.com/2010_02_01_archive.html
[62] Ibid
[63] Anas Salahuddin, “Bimbingan Dan Konseling”, Bandung : CV.Pustaka Setia,2010, cet.II, Hlm217
[64] Ibid.hlm. 218
[65] Ibid.hlm 220
[66] Ibid hlm.224