BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia adalah makhluk yang dinamis, selalu berubah pada setiap kondisi
yang berbeda. Manusia dilahirkan sebagai makhluk yang paling sempurna, namun
dibalik itu semua masih banyak kekurangan dan membutuhkan kerjasama dengan
orang lain. Sebagai makhluk sosial manusia mempunyai permasalahan yang sangat
kompleks dan membutuhkan penyelesaian dengan segera.
Lahirnya bimbingan dan konseling
memberikan jawaban atas berbagai kesulitan manusia dalam memecahkan
permasalahan dalam hidupnya. Dalam perkembangannya Bimbingan dan konseling
telah diterapkan disekolah, memberikan beberapa layanan kepada siswa. Seperti
layanan konseling individu, bimbingan kelompok dan konseling kelompok.
Layanan bimbingan dan konseling kelompok dan individu
merupakan proses pemberian bantuan yang diberikan kepada para peserta didik
dalam rangka upaya menemukan pemahaman pribadi, mengenal lingkungan, dan
merencanakan masa depan.
SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo adalah sekolah dengan peserta
didik yang sangat heterogen. pelaksanaan pembelajaran dibagi menjadi 2, sekolah
pagi (klas intensiv) dan sekolah sore (klas regular). Tak sedikit diantara mereka berasal dari
kalangan atas, kalangan menegah ataupun dari kalangan bawah. Sehingga disana
sangat wajar jika sering terjadi permasalahan-permasalahan baik masalah
belajar, masalah social maupun masalah yang lain. Berawal dari permasalahan
tersebut SMA WAHID HASYIM 2 Sidoarjo mendirikan ruang dan berbagai fasilitas
bimbingan dan konseling yang dimaksudkan untuk memfasilitasi peserta didik
untuk mengembangkan potensi diri dan mengatasi permasalahan yang dialaminya.
B.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas dapat kami
simpulkan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah kondisi (gambaran) umum SMA Wahid
Hasyim 2 Sidoarjo?
2. Bagaimana Pelaksanaan Konseling Individu di
SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo?
3. Bagaimana Pelaksanaan Konseling kelompok di
SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo?
4. Bagaimana Pelaksanaan Bimbingan Kelompok di
SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo?
5. Bagaimanakah teknik pemberian layanan
informasi kepada siswa di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo?
C.
Tujuan
1. Mengetahui
kondisi (gambaran) umum SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo
2. Mengetahui Pelaksanaan Konseling Individu di
SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo
3. Mengetahui Pelaksanaan Konseling kelompok di
SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo
4. Mengetahui Pelaksanaan Bimbingan Kelompok di
SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo
5. Mengetahui teknik pemberian layanan informasi
kepada siswa di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo
D.
Manfaat Penelitian
Kegunaan
penelitian yang berjudul "Pelaksanaan Bimbingan Konseling Individu dan
Kelompok" dapat diklasifikasikan menjadi dua, yakni kegunaan secara
teoritis dan praktis.
- Kegunaan secara teoritis adalah untuk
menambah khasanah keilmuan di bidang bimbingan dan konseling . hasil
penelitian ini dapat menjadi bahan pustaka atau referensi bagi mahasiswa,
khususnya bagi guru pembimbing dan masyarakat luas pada umumnya serta
dapat dijadikan sebagai pijakan awal atau fundamen untuk penelitian
lanjutan.
2.
Sedangkan
kegunaan secara praktis adalah untuk mengetahui pelaksanaan bimbingan dan konseling
kelompok dan individu di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo. Kemudian mengkroscek
kesesuaian antara teori aplikasi pelaksanaan bimbingan dan konseling individu
dan kelompok di sekolah tersebut.
bagi peneliti sendiri,
penelitian ini bisa menambah wawasan
tentang ilmu ke-BK-an serta untuk memenuhi tugas penelitian dalam mata kuliah
“bimbingan konseling kelompok dan individu”.
E.
Metode Penelitian
Penelitian yang peneliti lakukan di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo
menggunakan penelitian kualitatif, yakni suatu bentuk penelitian yang
menghasilkan data deskriptif ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan
fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena yang bersifat alamiah ataupun
rekayasa manusia.
Pada penelitian ini peneliti langsung terjun ke lapangan untuk menyelidiki
objek penelitian yaitu SMA Wahid
Hasyim 2 Sidoarjo. Sedangkan dalam
pengumpulan data-datanya peneliti
menggunakan metode sebagai berikut:
- Metode
observasi
Metode
observasi yaitu pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala
yang tampak pada obyek penelitian.
- Metode
interview (wawancara)
Metode
Interview merupakan pengumpulan data atau informasi dengan cara mengajukan
sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula. Dalam interviu
ini peneliti secara langsung dengan menggunakan pertanyaan yang sesuai dengan
kajian yang ditujukan kepada pelaksana Bimbingan dan Konseling.
BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEP
BK
Bimbingan dan konseling merupakan serangkaian program layanan
yang diberikan oleh suatu lembaga pendidikan kepada peserta didik agar mereka
mampu berkembang lebih baik dan lebih optimal. Bimbingan konseling
diselenggarakan di sekolah-sekolah mulai dari tingkat dasar, bahkan pra sekolah
sampai dengan tingkat tinggi (Rahman, 2003: 11).
A.1
Pengertian Bimbingan
Secara
etimologis, kata bimbingan merupakan terjemahan dari kata “guidance”
yang artinya menunjukkan, membimbing, menuntun ataupun membantu. Sesuai dengan
istilahnya, maka secara umum bimbingan dapat diartikan sebagai suatu bantuan
atau tuntunan. Namun meskipun demikian,
tidak berarti semua bentuk bantuan atau tuntunan adalah bimbingan. Misalnya
seorang mahasiswa membantu seorang nenek yang ingin menyebrang. Bukan bantuan
seperti ini yang dimaksud.
Bimbingan
merupakan bantuan yang diberikan kepada individu dari seorang yang ahli. Akan
tetapi, tidak sesederhana itu untuk memahami pengertian bimbingan. Pengertian
bimbingan formal lebih diungkapkan orang setidaknya sejak abad ke-20, yang
diprakarsai oleh Frank Parson pada tahun 1908. sejak itu muncul rumusan tentang
bimbingan sesuai dengan perkembangan pelayanan bimbingan, sebagai suatu
pekerjaan yang khas yang ditekuni oleh para peminat dan ahlinya.
Banyak orang yang mengatakan bahwa bimbingan dapat dilakukan oleh
siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Pendapat tersebut dapat dikatakan benar
jika ditinjau dari segi bahasa secara umum, yaitu memberikan bantuan, namun
memberikan bantuan bukanlah berarti bimbingan. Seperti salah satu contohnya
adalah seorang guru membantu kesulitan anak dalam menjawab salah satu soal yang
sedang dikerjakan siswa. Perlakuan guru tersebut dikatakan memberikan bantuan
tetapi bukan merupakan bimbingan. Untuk memahami lebih jauh tentang pengertian
bimbingan, di bawah ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli.
ü Rachman
Natawidjaja (1988: 7) menyatakan bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian
bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu
tersebut dapat memahami dirinya sendiri, sehingga ia sanggup mengarahkan
dirinya dan dapat bertindak secara wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan
lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat serta kehidupan umumnya. Dengan
demikian ia dapat mengecap kebahagiaan hidup dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi kehidupan masyarakat umumnya.
Bimbingan membantu individu mencapai perkembangan diri secara optimal sebagai
makhluk sosial.
ü Bimbingan adalah proses bantuan yang diberikan kepada
seseorang agar ia mampu memahami diri, menyesuaikan diri dan mengembangkan diri
sehingga mencapai kehidupan yang sukses dan bahagia. Tujuan akhir dari layanan
bimbingan dan konseling itu adalah mencapai kehidupan yang tidak hanya sukses,
namun juga bahagia. Hal ini dicapai dengan 3M yaitu memahami, menyesuaikan dan
mengembangkan diri (Parson dalam Rahman, 2003: 13).
ü Bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan kepada
individu yang dilakukan secara terus menerus supaya individu tersebut dapat
memahami dirinya sendiri, sehingga ia sanggup mengarahkan diri dan dapat
bertindak wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga
dan masyarakat (Natawidjaja dalam Rahman, 2003: 13).
ü Hallen (2005: 5) memaparkan beberapa pengertian bimbingan
adalah sebagai berikut :
a. Suatu proses yang
berkesinambungan sehingga bantuan itu diberikan secara sistematis, berencana,
terus menerus dan terarah kepada tujuan tertentu.
b. Suatu proses membantu
individu. Membantu dalam hal ini berarti dalam kegiatan bimbingan tidak
terdapat adanya unsur paksaan.
c. Bantuan diberikan kepada
setiap individu yang memerlukannya di dalam proses perkembangannya. Hal ini
mengandung arti bahwa bimbingan memberikan bantuan kepada setiap individu baik
anak-anak, remaja maupun dewasa.
ü Proses bimbingan memiliki beberapa karakter khusus yang
membedakan bimbingan dengan kegiatan lain yaitu sebagaimana dijelaskan oleh
Prayitno dan Erman Amti (1994: 98) antara lain :
a. Bimbingan merupakan suatu
proses.
Hal ini berarti layanan bimbingan bukanlah aktivitas yang
sekali jadi, melainkan melalui perjalanan panjang penuk dinamika. Untuk itu
diperlukan kesabaran dan keuletan dari semua pihak baik dari konselor maupun
klien.
b. Bimbingan merupakan
pemberian bantuan
Sejak awal konselor harus berlapang dada untuk memberikan
bantuan dengan segenap kemampuan. Bantuan yang diberikan lebih bersifat non
materi yakni penyadaran individu untuk pengembangan pribadi lebih baik dan
penyadaran akan potensi yang dimiliki untuk dapat menyelesaikan masalah
sendiri.
c. Bantuan diberikan kepada
individu
Hal ini dilakukan baik secara perorangan atau individu maupun
secara perkelompok. Sasaran bimbingan adalah individu-individu, dapat diberikan
secara kelompok maupun individu. Hal ini disebabkan karena setiap orang
memiliki kepribadian yang berbeda, walaupun mereka berada dalam satu kelompok
yang sama.
d. Pemecahan masalah oleh
klien.
Pemecahan masalah dilakukan oleh klien sendiri bukan oleh
konselor. Tugas seorang konselor adalah mengembangkan kemampuan klien untuk
dapat menyelesaikan masalahnya sendiri dan mengembangkan diri, bukan untuk
mencarikan jalan keluar bagi kliennya. Sebab klien lebih berhak dalam
menentukan sendiri masa depan dirinya sendirri sesuai dengan keberadaannya.
e. Bimbingan diberikan kepada
semua siswa.
Semua siswa berhak mendapatkan layanan bimbingan baik
bermasalah ataupun tidak. Sebab tugas terpenting seorang konselor adalah bukan
membantu menyelesaikan masalah tetapi membantu mengembangkan diri, sebab semua
siswa memiliki potens yang berhak untuk dikembangkan.
ü Menurut Sukardi (1988: 2) bimbingan membantu individu
mencapai suatu kehidupan yang lebih bermakna dan memberikan kepuasan pribadi
dan bermakna bagi masyarakat. Menurut beliau, meskipun aspek pilihan jabatan
selalu ditekankan dalam bimbingan, tetapi ruang lingkup bimbingan jauh lebih
luas dari itu, yaitu menyangkut seluruh individu dalam semua aspek kehidupan
dan interaksinya antara individu dalam masyarakat.
ü Gunawan (1992: 41) menyatakan bahwa bimbingan merupakan suatu
proses penemuan diri dan dunianya sehingga individu dapat memilih,
merencanakan, memutuskan, memecahkan masalah, menyesuaikan secara bijaksana dan
berkembang sepenuh kemampuan dan kesanggupannya. Individu juga diharapkan dapat
memimpin diri sendiri sehingga individu dapat menikmati kebahagiaan batin yang
sedalam-dalamnya dan produktif bagi lingkungannya.
ü
Bimbingan adalah upaya
membantu individu untuk memahami dan menggunakan secara luas
kesempatan-kesempatan pendidikan, jabatan dan pribadi yang mereka miliki atau
dapat mereka kembangkan. Bimbingan juga sebagai suatu bentuk bantuan yang
sistematis untuk dapat memperoleh penyesuaian yang baik terhadap sekolah dan
kehidupannya (Miller, dalam Rahman, 2003: 12).
ü Bimbingan terjemahan dari guidance yang didalamnya terkandung
beberapa makna. Sertzer dan Stone (1966:3) mengemukakan bahwa guidance berasal
dari kata guide yang mempunyai arti to direct, pilot, manager, or steer,
artinya: menunjukkan,mengarahkan,menentukan, mengatur, atau
mengemudikan.(Victoria Neufedt, Ed., 1988: 599)
ü Menurut Lefever, dalam Mc Daniel, 1995
Bimbingan adalah bagian dari proses pendidikan yang teratur dan
sistematik guna membantu pertumbuhan anak muda atas kekuatannya dalam
menentukan dan mengarahkan hidupnya sendiri, yang pada akhirnya ia dapat
memperoleh pengalaman-pengalaman yang dapat memberikan sumbangan yang berarti
dalam masyarakat.
ü Manurut Chiskolm
“Bimbingan membantu individu untuk bias mengenali informasi tentang
dirinya sendiri.”
ü Menurut Bernard&Fullmer, 1969
“Bimbingan merupakan kegiatan yang bertujuan meningkatkan realisasi
pribadi setiap individu.”
ü Menurut Mathewson, 1969
“Bimbingan merupakan pedidikan dan pengembangan yang menekankan
proses belajar yang sistematik .”
ü Dalam peraturan pemerintah No. 29 tahun 1990 tentang pendidikan
menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada
peserta didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan
merencanakan masa depan.”
Berdasarkan
pengertian diatas, dapat dipahami bahwa bimbingan pada prinsipnya adalah proses
pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau
beberapa orang individu dalam hal memahami dirinya sendiri, menghubungkan
pemahaman tentang dirinya sendiri dengan linkungan, memilih, menentukan, dan
menyusun rencana sesuai dengan konsep dirinya dan tuntutan lingkungan
berdasarkan norma-norma ynag berlaku.
A.2 Pengertian Konseling
Istilah
konseling berasal dari bahasa Inggris “to counsel” yang secara
etimologis berarti “to give advice” atau memberi saran dan nasehat
(Hallen, 2005: 9). Disamping itu, istilah bimbingan selalu dirangkaikan dengan
istilah konseling. Hal ini disebabkan karena bimbingan dan konseling merupakan
suatu yang integral. Konseling merupakan salah satu teknik dalam pelayanan
bimbingan di antara beberapa teknik lannya. Bimbingan itu lebih luas dari
istilah konseling, dan konseling merupakan alat yang paling penting dari usaha
pelayanan bimbingan.
Agar lebih jelas mengenai defenisi konseling, di bawah ini akan dipaparkan
pendapat para ahli mengenai konseling.
Pada awal
perkembangan di Indonesia, istilah yang dikenal sebelum konseling adalah
penyuluhan. Namun sejak tahun 1980-an istilah penyuluhn diubah menjadi
konseling. Hal ini dimaksudkan untuk membedakan dengan istilah penyuluhan
pertanian, penyuluhan hukum, penyuluhan keluarga berencana dan sebagainya.
ü Rahman
(2003: 15) berpendapat bahwa konseling adalah kegiatan dimana semua fakta
dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk
di atasi sendiri oleh yang bersangkutan dimana ia diberi bantuan pribadi dan
langsung dalam pemecahan masalah tersebut. Konselor tidak memecahkan masalah untuk klien, konseling harus ditujukan
pada perkembangan yang progresif dari individu untuk memecahkan masalahnya
sendiri tanpa bantuan.
ü Counseling is series of direct contacs with the individual
which aims offer him a assistance in changing his attitude and behaviour”. Konseling adalah serangkaian hubungan langsung dengan
individu yang bertujuan untuk membantu dia dalam mengubah sikap dan tingkah
lakunya (Roger dalam Hallen, 2005: 9).
ü Konseling merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan
dimana proses pemberian bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam
serangkaian pertemuan langsung dan tatap muka antara guru pembimbing dengan
klien dengan tujuan agar klien mampu untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik
terhadap dirinya, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu
mengarahkan dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki ke arah
perkembangan yang optimal, sehingga ia dapat mencapai kebahagiaan pribadi dan
kemanfaatan sosial (Robinson dalam Hallen, 2005: 10).
ü Menurut Donald G. Mprtenson & Alan M, Sch muller
Konseling dapat diartikan sebagai suatu proses hubungan seorang
dengan seorang, dimana seorang tersebut dibantu oleh yang lain untunk
meningkatkan kemampuannya dalam menghadapi masalahnya.
ü ASCA(American School Counselor Assosiation) mengemukakan:
Konseling adalah hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh
dengan sifat penerimaan dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien. Konselor mempergunakan kemampuannya untuk
membantu klien mengatasi masalah-masalahnya.
ü Menurut Prayitno Dan Erman Amti (2004:105)
Konseling adalah proses
pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli
(disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah yang
bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
ü Menurut Winkel (2005:34)
Konseling
sebagai serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu
klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab
sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus.
Dari beberapa
pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa konseling adalah upaya bantuan
yang diberikan seorang konselor yang terlatih dan berpengalaman, terhadap
individu-individu yang membutuhkannya, agar individu tersebut berkembang
potensinya secara optimal, mampu mengatasi masalah, dan mampu menyesuaikan diri
terhadap lingkungan yang selalu berubah.
A.1.1
Konsep BK Individu
Bimbingan konseling individu merupakan salah satu cara pemberian
bantuan secara perseorangan. Pemberian
bantuan dilaksanakan secara face
to face relationship (hubungan langsung muka ke muka atau hubungan langsung
empat mata), antara konselor dan klien.biasanya masalah-masalah yang dipecahkan
melalui teknik ini adalah masalah-masalah yang besifat pribadi.
Layanan konseling perorangan
bertujuan memungkinkan klien mendapatkan layanan langsung secara tatap muka
dengan guru pembimbing dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan.
Materi yang dapat diangkat melalui layanan konseling perorangan ini tidak
terbatas. Layanan ini dilaksanakan untuk segenap masalah siswa secara
perorangan dalam segenap bidang bimbingan, yaitu bimbingan pribadi, belajar,
sosial dan karir.
Setiap Klien secara perorangan
dapat membawa masalah yang dialaminya kepada guru pembimbing. Lebih lanjut guru
pembimbing akan melayani semua siswa dengan berbagai permasalahanya itu tanpa
membedakan pribadi siswa atau permasalah yang dihadapinya.
A.1.2
Konsep BK Kelompok
Kelompok adalah serangkaian individu
yang mempunyai persamaa-persamaan yang saling berdekatan dan yang terlibat
dalam suatu tugas bersama. Jadi anggota-anggota kelompok merasa saling
tergantung dalam mencapai suatu tujuan bersama. Dengan demikian, sekumpulan
orang masing-masing bekerja sendiri-sendiri tidaklah tergolong kelompok dalam
devinisi fiedler ini.
a.
Pengertian Bimbingan Kelompok
ü Menurut Dewa Ketut Sukardi (2002 :48),bimbingan kelompok yaitu layanan
bimbingan yang memungkinkan sejumlah peserta didik secara bersama-sama
memperoleh berbagai bahan dari nara sumber tertentu (terutama dari pembimbing/
konselor) yang berguna untuk menunjang kehidupannya sehari-hari baik individu
maupun sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat serta untuk
pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
ü Menurut Prayitno ( 1995 : 62 ) menyatakan Bimbingan kelompok berarti
memanfaatkan dinamika untuk mencapai tujuan-tujuan bimbingan dan konseling.
Bimbingan kelompok lebih merupakan suatu upaya bimbingan kepada
individu-individu melalui kelompok.
ü Menurut Juntika (2003 : 31),bimbingan kelompok merupakan bantuan terhadap
individu yang dilaksanakan dalam situasi kelompok. Bimbingan kelompok dapat
berupa penyampaian informasi ataupun aktivitas kelompok membahas
masalah-masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi dan sosial.
ü Menurut Prof. Mungin (2005 : 17) menyatakan bimbingan kelompok adalah suatu
kegiatan kelompok di mana pimpinan kelompok menyediakan informasi-informasi dan
mengarahkan diskusi agar anggota kelompok menjadi lebih sosial atau untuk
membantu anggota-anggota kelompok untuk mencapai tujuan-tujuan bersama.
ü Menurut W.S.Winkel dan M.M. Sri Hastuti. (2004:111). Bimbingan kelompok
dilakukan bilamana siswa yang dilayani lebih dari satu orang. Bimbingan
kelompok dapat terlaksana dengan berbagai cara, misalnya dibentuk kelompok
kecil dalam rangka layanan Konseling (konseling kelompok), dibentuk kelompok
diskusi, diberikan bimbingan karier kepada siswa-siswi yang tergabung dalam
satu kesatuan kelas di SMA. Dalam bimbingan kelompok merupakan sarana untuk
menunjang perkembangan optimal masing-masing siswa, yang diharapkan dapat
mengambil manfaat dari pengalaman pendidikan ini bagi dirinya sendiri.
Jadi dapat disimpulkan kegiatan bimbingan kelompok merupakan salah satu
layanan bimbingan dan konseling yang diberikan kepada sejumlah individu dalam
bentuk kelompok dengan memanfaatkan dinamika kelompok untuk membahas topik
tertentu yang dipimpin oleh pemimpin kelompok bertujuan menunjang
pemahaman, pengembangan dan pertimbangan pengambilan keputusan/ tindakan
individu.
b. Pengertian Konseling Kelompok
ü
Menurut Dewa Ketut
Sukardi (2003) konseling kelompok merupakan konseling yang di selenggarakan
dalam kelompok, dengan memanfaatkan dinamika kelompok yang terjdi di dalam
kelompok itu. Masalah-masalah yang dibahas
merupakan masalah perorangan yang muncul di dalam kelompok itu, yang meliputi
berbagai masalah dalam segenap bidang bimbingan (bidang bimbingan
pribadi, sosial, belajar dan karir).
ü
Menurut Heru Mugiarso (2007) konseling kelompok merupakan layanan konseling
yang diselenggarakan dalam suasana kelompok. Materi umum layanan konseling
kelompok diselenggarakan dalam kelompok yang memanfaatkan dinamika kelompok
yang meliputi segenap bidang bimbingan. Masalah tersebut dilayani melalui
pembahasan yang intensif oleh seluruh anggota kelompok.
ü
Menurut Prayitno (2004) layanan konseling kelompok pada dasarnya adalah
layanan konseling perorangan yang dilaksanakan didalam suasana kelompok. Disana
ada konselor dan ada klien, yaitu para anggota kelompok (yang jumlahnya minimal
dua orang). Disana terjadi hubungan konseling dalam suasana yang diusahakan
sama seperti dalam konseling perorangan yaitu hangat, permisif, terbuka dan
penuh keakraban. Dimana juga ada pengungkapan dan pemahaman masalah klien,
penelusuran sebab-sebab timbulnya masalah, upaya pemecahan masalah (jika perlu
dengan menerapkan metode-metode khusus), kegiatan evaluasi dan tindak lanjut.
ü
Menurut Winkel (2007) konseling kelompok adalah suatu proses antarpribadi
yang dinamis, yang terpusat pada pemikiran dan perilaku yang disadari.
ü
Menurut Tatik Romlah (2001)
konseling kelompok adalah upaya untuk membantu individu agar dapat menjalani
perkembangannya dengan lebih lancar, upaya itu bersifat pencegahan serta
perbaikan agar individu yang bersangkutan dapat menjalani perkembangannya
dengan lebih mudah.
ü
Menurut Gazda (1989) dalam Tatik Romlah (2001) konseling kelompok adalah
suatu proses antar pribadi yang dinamis yang memusatkan diri pada pikiran dan
perilaku yang sadar dan melibatkan fungsi-fungsi seperti sikap permisif,
orientasi pada kenyataan, katarsis, saling pengertian, saling menerima dan
membantu.
Dari uraian-uraian yang disampaikan beberapa ahli di atas maka dapat
disimpulkan bahwasannya konseling kelompok merupakan salah satu layanan
konseling yang di selenggarakan dalam suasana kelompok yang memanfaatkan
dinamika kelompok, serta terdapat hubungan konseling yang hangat, terbuka,
permisif dan penuh keakraban. Hal ini merupakan upaya individu untuk membantu
individu agar dapat menjalani perkembangannya dengan lebih lancar, upaya itu
bersifat preventif dan perbaikan. Sebab, pada konseling kelompok juga ada
pengungkapan dan pemahaman masalah klien, penelusuran sebab-sebab timbulnya
masalah, upaya pemecahan masalah, kegiatan evaluasi dan tindak lanjut.
A.1.2.1 Tujuan Bimbingan dan Konseling Kelompok
a. Tujuan Bimbingan kelompok
1) Tujuan Umum
Secara umum layanan bimbingan kelompok bertujuan untuk pengembangan kemampuan
bersosialisasi, khususnya kemampuan berkomunikasi perserta layanan (siswa).
2) Tujuan Khusus
Secara lebih khusus
layanan bimbingan
kelompok bertujuan untuk
mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang
menunjang perwujudan tingkah laku yang lebih efektif, yaitu peningkatan
kemampuan berkomunikasi baik verbal maupun non verbal para siswa.
Menurut Prayitno (1995
: 70) tujuan yang ingin dicapai dalam bimbingan kelompok yaitu penguasaan
informasi untuk tujuan yang lebih luas, pengembangan pribadi, dan pembahasan
masalah atau topik-topik umum secara luas dan mendalam yang bermanfaat bagi
para anggota kelompok
Menurut Mungin Eddy Wibowo, (2005:17).Tujuan bimbingan kelompok adalah
untuk memberi informasi dan data untuk mempermudah pembuatan keputusan dan
tingkah laku.
b. Tujuan Konseling Kelompok
1) Menurut Mungin Eddy
Wibowo, (2005:20). Tujuan yang ingin dicapai dalam konseling kelompok, yaitu
pengembangan pribadi, pembahasan dan pemecahan masalah pribadi yang dialami
oleh masing-masing anggota kelompok, agar terhindar dari masalah dan masalah
terselesaikan dengan cepat melalui bantuan anggota kelompok yang lain.
2) Menurut Dewa Ketut Sukardi, (2002:49).Tujuan konseling kelompok meliputi:
a) Melatih anggota kelompok agar berani berbicara
dengan orang banyak
b) Melatih anggota kelompok dapat bertenggang rasa
terhadap teman sebayanya
c) Dapat mengembangkan bakat dan minat masing-masing
anggota kelompok
d) Mengentaskan permasalahan - permasalahan
kelompok.
3) Menurut Prayitno, (1997:80). Konseling kelompok memungkinkan siswa memperoleh
kesempatan bagi pembahasan dan pengentasan masalah yang dialami melalui
dinamika kelompok.
B. MASALAH
BK INDIVIDU DAN KELOMPOK
1)
Masalah
belajar
Bimbingan belajar merupakan aspek yang di
bahas dalam layanan bimbingan konseling dan penting diselenggarakan di sekolah.
Beberapa pengalaman menunjukkan bahwa kegagalan yang dialami oleh para siswa
dalam belajar tidak selalu dikarenakan oleh kebodohan atau rendahnya tingkat kepandaian(intelegensi). Sesungguhnya
kegagalan sering terjadi disebabkan mereka tidak mendapatkan layanan dan bimbingan yang memadai.
Oleh sebab itu maka penting diadakan layanan bimbingan belajar di sekolah agar
peserta didik dalam mengembangkan diri sesuai dengan kebiasaan dan sikap belajar mereka, meliputi materi
belajar mana yang cocok, kecepatan dan kesulitan belajar apa yang dialami siswa
tersebut. Sehingga dapat sesuai dengan tujuan
dan cita-cita pendidikan.
Pengenalan
siswa tentang sekolah(orientasi) penting untuk menghindari masalah belajar yang
berat. Disekolah terdapat siswa yang
berprestasi dalam hal peajaran terdapat pula siswa yang belum berhasil seperti
nilai rapor yang rendah, tidak naik kelas, tidak lulus ujian dan lain
sebagainya. Secara umum contoh yang di sebutkan diatas dipandang sebagai
masalah belajar namun jika di pandang lebih luas maka masalah belajar tidak
sebatas itu saja. Secara lebih luas masalah belajar memiliki banyak bentuk dan
ragamnya. Ragam dari masalah belajar seperti:
· Keterlambatan akademik maksudnya
siswa memiliki tingkat intelegensi yang tinggi namun tidak dapat memanfaatkan
secara optimal.
· Ketercepatan dalam belajar maksudnya
memerlukan tugas khusus untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajar yang
tinggi.
· Sangat lamban dalam belajar
· Kurang motivasi dalam belajar
· Bersikap dan berkebiasaan buruk
dalam belajar.
Siswa yang mengalami masalah belajar seperti yang
telah disebutkan dapat dikenali melalui tes hasil belajar, tes kemampuan dasar,
skala pengungkapan sikap dan kebiasan belajar dan pengamatan.
2)
Masalah
pendidikan
Mencakup apa, bagaimana, dimana, kapan siswa akan melanjutkan proses
belajarnya.bimbingan ini memiliki tujuan untuk memberi bimbingan kepada siswa
tentang manfaat melanjutkan pendidikan, dan akibat bila menghentikan pendidikan
mereka. Layanan bimbingan ini juga memberikan informasi kepada siswa tentang perguruan tinggi, akademi,
universitas, institut atau kursus-kursus yang dapat mengembangkan kemampuan
dari siswa tersebut.
3)
Masalah
pekerjaan
Masalah-masalah ini berhubungan dengan pemilihan pekerjaan.
Misalnya, dalam memilih jenis-jenis pekerjaan
yang cocok dengan dirinya, memilih latihan tertentu untuk suatu
pekerjaan, mendapatkan informasi tentang jenis pekerjaan dan kesullitan untuk
menyesuaikan diri dalam lingkungan pekerjaan.
4)
Masalah
penggunaan waktu luang
Dalam masalah ini yang dirasakan oleh siswa
dalam menghadapi waktu-waktu luang yang tidak terisi oleh suatu kegiatan. Yang
menjadi masalah yaitu bagaimana cara mengisi waktu-waktu tersebut dengan
kegiatan-kegiatan yang bermanfaat atau produktip, baik bagi dirinya sendiri
maupun bagi masyarakat. Ketidak mampuan dalam menggunakan waktu luang
kadang-kadang dapat menimbulkan masalah-masalah seperti: gejala kenakalan anak,
menganggu ketertiban, pelanggaran disiplin, melamun, dan sebagainya. Masalah
penggunaan waktu luang misalanya: merencanakan suatu kegiatan dalam waktu
luang, mengisi waktu, membuat pembagian waktu, dan memilih kegiatan yang cocok.
5)
Masalah
sosial
Berbagai masalah sosial yang dihadapi oleh siswa dalam lingkungan sekolah yang bersangkutan dengan hubungan antar individu atau
hubungan antara individu dan lingkungan sosialnya, misalnya: kemampuan dalam berkomunikasi untuk
kelancaran hubungan sosial, kemampuan menerima dan menyampaikan pendapat, kesulitan dalam mencari teman, bertingkah laku baik dirumah dan lingkungan
masyarakat secara dinamis, harmonis dan sopan santun,
Pemahaman kondisi dan peraturan sekolah.
6)
Masalah
pribadi
Masalah-masalah pribadi dalam lingkup sekolah umumnya bercikal
bakal dari dalam pribadi individu yang berhadapan dengan lingkungan sekitarnya.
Misalnya: ingin menyendiri, cepat bosan, agresif, emosi yang meninggi,
hilangnya kepercayaan diri, dan lain-lain.
C. TEKNIK
MEMAHAMI MURID
ü Interview (Wawancara)
Interview
atau wawancara ialah suatu metode untuk mendapatkan data dengan mengadakan face to face relation.
Wawancara merupakam teknik untuk mengumpulkan informasi melalui komunikasi
langsung dengan responden atau orang yang diminta informasi. Teknik wawancara
atau interview memiliki kelebihan dan kekurangan, diantaranya adalah sebagai
berikut.
Kelebihannya yaitu:
-
merupakan teknik yang paling tepat untuk mengungkap keadaan pribadi murid
-
dapat dilakukan terhadap setiap tingkatan umur
-
dapat dilaksanakan serempak dengan kegiatan observasi
-
digunakan untuk pelengkap data yang dikumpulkan dengan teknik lain
Kekuranganya
yaitu:
-
tidak efisien, yaitu tidak dapat menghemat waktu
-
sangat bergantung terhadap kesediaan kedua belah pihak
-
menuntut penguasaan bahasa dari pihak pewawancara
ü Observasi
Observasi
yaitu suatu cara untuk mengumpulkan data yang diinginkan dengan mengadakan
pengamatan secara langsung. Dalam hal ini pelaksanaan penyelidikan dilakukan
dengan panca indera secara aktif, terutama penglihatan dan pendengaran.
Penyelidik langsung mendatangi sasaran-sasaran penyelidikan, melihat,
mendengarkan, serta membuat catatan untuk dianalisis.
Observasi
yaitu teknik atau cara mengamati suatu keadaan atau suatu kegiatan (tingkah
laku). Yang paling berperan disini adalah panca indra atau pengindraan terutama
indra penglihatan, dan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
-
dilakukan sesuai dengan tujuan yang dirumuskan terlebih dahulu
-
direncanakan secara sistematis
-
hasilnya dicatat dan diolah sesuai tujuan
-
perlu diperiksa ketelitiannya.
Teknik
observasi ini dapat dikelompokan kedalam beberapa jenis yaitu:
a. Observasi sehari-hari
b. Observasi
sistematis
c. Observasi partisipatif, disini pengamat ikut serta
dalam kegiatan yang dilakukan oleh orang yang damati.
d. Observasi
nonpartisifatif, disini pengamat tidak ikut serta dalam kegiatan yang dilakukan
oleh orang yang diamati.
ü Angket
Angket
atau kuisioner atau Questionnaire
adalah seperangkat pertanyaan yang harus dijawab oleh responden, yang digunakan
untuk mengubah berbagai keterangan yang langsung diberikan oleh responden
menjadi data, dan dapat pula digunakan untuk mengungkapakan
pengalaman-pengalaman yang telah dialami pada saat ini.
Keterangan-keterangan yang diberikan oleh responden ini dapat diubah menjadi
data kuantitatif (angka-angka) dengan cara menghitung jumlah responden yang
memberikan jawaban.
Angket
(kuesioner) merupakan alat pengumpul data melalui komunikasi tidak langsuang,
yaitu melalui tulisan. Angket ini berisi daftar pertanyaan yang bertujuan untuk
mengumpulkan keterangan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan responden.
Beberapa petunjuk untuk menyusun angket:
-
gunakan kata-kata yang tidak mempunyai arti lengkap
-
susun kalimat sederhana tapi jelas
-
hindari kata-kata yang sulit dipahami
-
pertanyaan jangan bersifat memaksa untuk dijawab
-
hindarkan kata-kata yang negatif dan menyinggung perasaan responden
ü Sosiometri
Sosiometri menunjukkan kepada kita tentang
ukuran berteman. Jadi, dengan
sosiometri dapat kita lihat bagaimana hubungan sosial atau hubungan bergaul
atau berteman. Dengan demikian besar, besar sekali bantuan sosiometri untuk
mendapatkan data anak-anak, terutama dalam hubungan atau kontrak sosialnya.Dengan
sosiometri guru dapat mengetahui tentang:
-
murid yang populer (banyak disenangi teman).
-
murid yang terisolir (tidak dipilih/disukai teman).
-
klik (kelompok kecil, 2-3 orang murid).
Sosiometri
juga dapat digunakan untuk:
-
memperbaiki hubungan insani diantara anggota-anggota kelompok tertentu
-
menentukan kelompok kerja
-
meneliti kemampuan memimpin seorang individu dalam kelompok tertentu untuk
suatu kegiatan tertentu.
ü Pemeriksaan Fisik Dan Kesehatan
Teknik pengumpulan data mengenai keadaan fisik
dan kesehatan ialah dengan memeriksakan fisik dan kesehatannya seseorang.
Pemeriksaan secara medis ini dilakukan oleh seorang ahli kesehatan yang
mempunyai alat-alat yang cukup lengkap seperti
dokter, perawat, dan sebagainya yang bertujuan untuk mengetahui apakah
individu tersebut mempunyai penyakit-penyakit tertentu.
Sedangkan konselor hanya melakukan pemeriksaan yang
tidak bersifat medis, seperti menimbang berat badan, mengukur tinggi badan,
mencatat ciri-ciri fisik.Pemeriksaan fisik dan kesehatan ini dapat dilakukan
secara periodik, misalnya pada awal tahun, tengah tahun atau akhir tahun, atau
bisa juga dilakukan secara insidentil sesuai dengan kebutuhan atau masalah yang
dihadapi.
ü Tes Hasil Belajar (Achiement Test)
Tes hasil belajar merupakan data yang amat penting dalam rangka
memberikan bimbingan kepada siswa. Dengan melihat hasil belajar yang dicapai,
kita dapat menetapkan jenis bimbingan yang diperlukan oleh siswa. Angka hasil
belajar yang dicapai siswa menggambarkan masalah yang dihadapinya. Misalnya,
anak yang menunjukkan hasil belajar yang kurang, menggambarkan kemungkinan anak
itu menghadapi suatu kesulitan dalam belajar.
Tes belajar adalah teknik yang digunakan untuk mengukur apa yang
telah dipelajari diberbagai bidang studi. Ada tes yang khusus meneliti
penguasaan materi mata pelajaran tertentu saja; ada pula tes yang meliputi
materi beberapa pelajaran dalam lingkup agak luas, yang menghasilkan skor-skor
terpisah (subtest) untuk saling dibandingkan (survey test).
Tes Hasil Belajar yaitu suatu alat (tes) yang
disusun untuk mengukur hasil-hasil pengajaran.Tujuan utama penggunaan tes
prestasi belajar adalah agar guru dapat membuat keputusan-keputusan
seleksi dan klasifikasi serta menentukan keefektifan pengajaran.Tes ini
meliputi:
1). Tes
diagnostik,yang dirancang agar guru dapat mengetahui letak kesulitan murid,
terutama dalam berhitung dan membaca.
2). Tes
prestasi belajar kelompok yang baku.
3). Tes
prestasi belajar yang disusun guru.
ü
Tes
Psikologi Atau Tes Kepribadian
Yaitu teknik yang digunakan untuk mengukur ciri-ciri kepribadian
yang bukan khas bersifat kognitif, seperti sifat karakter, sifat temperamen,
corak kehidupan emosional, kesehatan mental, relasi sosial dengan orang lain serta
bidang-bidang kehidupan yang menimbulkan kesukaran dalam penyesuaian diri.
Tes Psikologi Yaitu suatu tes untuk mengetahui kepribadian
seseorang yang terorganisasi secara dinamis dan sistem-sistem psikologis dalam
sisi individu yang menentukan penyesuaian-penyesuain yang unik dengan
lingkungan.
Kepribadian dapat diukur dengan jalan melihat:
- Apa yang seseorang katakan tentang keadaan
dirinya sendiri.
- Apa yang orang lain katakan tentang keadaan
diri seseorang.
- Apa yang seseorang lakukan dalam situasi
tertentu.
ü
Biografi
Atau Catatan Harian
Biografi
atau riwayat hidup dan catatan harian merupakan salah satu teknik untuk
mengumpulkan data tentang murid. Murid disuruh mencatat berbagai kejadian
tentang dirinya, baik yang sudah dialami, sedang dialami, atau yang masih
menjadi cita-cita.
ü
Studi
Dokumenter
Studi dokumenter adalah salah satu metode pengumpulan
data yang dipergunakan pembimbing dengan jalan melihat/meneliti data-data
dokumen siswa yang tersimpan di sekolah/tempat lain. Data pada studi dokumenter
adalah data masa lalu, namun demikian dapat untuk meramalkan atau mengungkapkan
keadaan/kondisi sekarang. Walapun demikian, tidak semua keadaan/kondisi
sekarang dapat diketahui dari data masa lalu. Sumber data studi dokumenter
dapat dilihat dari : Buku induk, Buku pribadi/kartu pribadi, Rapor,
Surat-surat keterangan, Buku absen, Kartu pembayaran SPP, OSIS, BP-3,
Hasil pengisian angket, cek list, rating scale, hasil karyanya, seperti
lukisan, karangan, ketrampilan tangan dll. Dan studi documenter dapat dijadikan
bahan pemahaman siswa.
Cara mengumpulkan data melalui peninggalan
tertulis, seperti arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat,
teori, dalil atau hukum-hukum, dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah
penelitian disebut teknik dokumenter atau studi dokumenter. Dalam penelitian
kualittif teknik ini merupkan alat pengumpul data yang utama karena pembuktian
hipotesisnya yang diajukan secara logis dan rasional melalui pendapat, teori
dan hukum-hukum yang diterima, baik mendukung maupun yang menolong hipotesis
tersebut.
ü
Studi
Kasus
Studi kasus atau case studi adalah suatu metode penyelidikan untuk
mempelajari kejadian mengenai perorangan. Dengan kata lain, suatu metode untuk
menyelidiki riwayat hidup seseorang. Dalam melaksanakan studi kasus ini dapat
ditempuh langkah-langkah :
a. Menemukan murid yang
bermasalah, contoh: prestasi belajarnya sangat rendah,
nakal, sering bertengkar dan sering bolos.
b. Memperoleh data
Cara
untuk memperoleh data:
1).
Wawancara dengan guru lain
2). Home
visit, yaitu kunjungan kerumah orang tua murid
3).
Wawancara langsung dengan siswa yang bersangkutan
c. Menganalisis data
Berbagai
faktor yang mungkin terjadi penyebab anak mengalami kelainan:
- kondisi keluarga yang tidak harmonis
-
tingkat kecerdasan rendah
-
motivasi belajar rendah
-
sering sakit-sakitan
-
kurang mengetahui konsep-konsep dasar atau pengetahuan tentang mata pelajaran
tertentu
d. Memberikan layanan bantuan
Apabila
berdasarkan analisis ternyata faktor penyebabnya itu kurang menguasai konsep-konsep
dasar dalam mata pelajaran tertentu, maka caranya yaitu dengan mengajar kembali
tentang konsep-konsep dasar mata pelajaran tertentu.
D. MEMAHAMI
TEKNIK BIMBINGAN INDIVIDU DAN KELOMPOK
1) Home room program
Yaitu
suatu program kegiatan yang dilakukan dengan tujuan agar guru dapat mengenal
murid-muridnya lebih baik, sehingga dapat membantunya secara efisien. Kegiatan
ini dilakukan dalam kelas dalam bentuk pertemuan antara guru dengan murid
diluar jam-jam pelajaran untuk membicarakan beberapa hal yang dianggap perlu.
Dalam
program home room ini hendaknya diciptakan suatu situasi yang bebas dan
menyenangkan, sehingga murid-murid dapat mengutarakan perasaannya seperti
dirumah. Dalam kesempatan ini diadakan Tanya jawab, merencanakan suatu
kegiatan, menampung pendapat,dsb. Dalam contoh digambarkan guru merencanakan
peninjauan keproyek jalan raya. Murid-murid diberikan kebebasan untuk
berbicara, bertanya dan mengajukan usul.
Dalam teknik ini kegiatan bimbingan dilakukan oleh guru
bersama murid di dalam ruang kelas di luar jam pelajaran. Kegiatan home room
dapat dilakukan secara periodik, misalnya seminggu sekali. Dalam kegiatan ini
pembimbing/konselor sekolah dengan murid dapat lebih dekat, seperti dalam
situasi rumah.
Kegiatan ini dapat pula digunakan sebagai
suatu cara dalam bimbingan belajar, melalui kegiatan ini pembimbing dan murid
dapat berdiskusi tentang berbagai aspek tentang belajar
2) Karyawisata (field trip)
Dalam teknik ini murid dapat mengenal dan mengamati secara langsung dari
dekat obyek situasi yang menarik perhatiannya, dan hubungannya dengan pelajaran
di sekolah. Dengan karya wisata para siswa mendapatkan kesempatan untuk
memperoleh penyesuaian dalamkehidupan kelompok, berorganisasi, kerja sama dan
tanggung jawab.
Karyawisata
atau field trip selain berfungsi sebagai kegiatan rekreasi atau metode
mengajar, dapat pula berfungsi sebagai salah satu tehnik dalam bimbingan
kelompok. Dengan berkaryawisata murid mendapat kesempatan meninjau objek-objek
yang menarik dan mereka mendapat informasi yang lebih baik dari objek itu.
Disamping itu murid-murid mendapat kesempatan untuk memperoleh penyesuaian
dalam kehidupan kelompok, misalnya dalam berorganisasi, kerja sama, rasa
tanggungjawab, percaya pada diri sendiri. Juga dapat mengembangkan bakat dan
cita-cita yang ada. Dalam contoh seorang anak dapat kesempatan untuk
mengembangkan kesenangannya dan bakatnya dalam peninjauan keproyek jalan raya.
Ia dapat menunjukkan kemampuannya kepada teman-temannya dan mengembalikan harga
dirinya.
3) Diskusi kelompok
Diskusi kelompok adalah percakapan yang telah direncanakan antara tiga
orang atau lebih dengan tujuan untuk memecahkan masalah atau untuk memperjelas
suatu persoalan.
Dinkmeyer dan Munro dalam Romlah (2001: 89) menyebutkan tiga macam tujuan
diskusi kelompok yaitu :
(1) untuk mengembangkan terhadap diri sendiri,
(2) untuk mengembangkan kesadaran tentang
diri,
(3) untuk mengembangkan
pandangan baru mengenai hubungan antar manusia.
Diskusi kelompok merupakan suatu cara dimana murid-murid
akanmendapat kesempatan untuk memecahkan masalah bersama-sama. Setiap murid
dapat menyumbangkan pikiran masing-masing dalam memecahkan suaru masalah. Dalam
diskusi itu dapat tertanam pula rasa tanggungjawab dan harga diri. Masalah yang
mungkin dapat diduskusikan antara lain:
ü pembagian
kerja dalam suatu kegiatan kelompok
ü perencanaan
suatu kegiatan
ü masalah-masalah
pekerjaan
ü masalah
belajar
ü masalah
penggunaan waktu senggang
ü masalah
persahabatan, keluarga dsb.
4) Kegiatan kelompok
Kegiatan
kelompok merupakan tehnik yang baik dalam bimbingan, karena kelompok memberikan
kesempatan kepada individu untuk berpatisipasi dengan sebaik-baiknya. Banyak
kegiatan tertentu yang lebih berhasil jika dilakukan dalam kelompok. Untuk
mengembangkan bakat-bakat dan menyalurkan dorongan-dorongan. Juga dapat
menembangkan tanggungjawab. Tehnik sosiometri dapat banyak menolong dalam
pembentukan kelompok.
Dengan adanya kegiatan bersama, dapat mendorong anak
saling membantu sehingga relasi sosial positif dapat dikembangkan dengan baik.
Kegiatan bersama yang bisa dilakukan oleh anak misalnya: bermain bersama,
melaksanakan kebersihan bersama, rekreasi bersama, piket bersama, dll.
5) Sosiodrama
Sosiodrama
dipergunakan sebagai suatu tehnik didalam memecahkan masalah-masalah social
dengan melalui kegiatan bermain peranan. Di dalam sosiodrama ini individu akan
memerankan suatu peranan tertentu dari suatu masalah social. Dalam kesempatan
itu individu akan menghayati secara langsung situai masalah yang dihadapinya.
Dari pementasan itu kemudian diadakan diskusi mengenai cara-cara pemecahan
masalahnya.
Teknik sosiodarama adalah suatu cara dalam bimbingan
yang memberikan kesempatan pada murid-murid untuk mendramatisasikan sikap, tingkah
laku, atau penghayatan seseorang seperti yang dilakukan dalam hubungan sosial
sehari-hari di masyarakat.
Adapun tujuan penggunaan sosiodrama dalam teknik
bimbingan adalah:
-
Menggambarkan bagaimana seseorang atau beberapa orang dalam
menghadapi situasi sosial
-
Bagaimana menggambarkan cara memecahkan suatu masalah sosial
-
Menumbuhkan dan mengembangkan sikap kritis terhadap tingkah laku
yang harus atau jangan sampai diambil dalam situasi sosial tertentu
-
Memberikan pengalaman atau menghayati situasi tertentu
Memberikan kesempatan tertentu meninjau situasi sosial dari
berbagai sudut pandang
6) Psikodrama
Jika
sosiodrama merupakan tehnik memecahkan masalah social, maka psikodrama adalah
tehnik untuk memecahkan masalah-masalah psychis yang dialami oleh individu. Dengan
memerankan suatu peranan tertentu, konflik atau ketegangan yang ada dalam
dirinya dapat dikurangi atau dihindari. Kepada sekelompok murid dikemukakan
suatu cerita yang didalamnya tergambarkan adanya ketegangan psyshis yang
dialami individu. Kemudian murid-murid diminta untuk memainkan dimuka kelas.
Bagi murid yang mengalami ketegangan, permainan dalam peranan itu dapat
mengurangi ketegangannya.
E.
Layanan Pemberian Informasi
1.
Konsep
Informasi
Layanan informasi adalah kegiatan bimbingan yang bermaksud membantu
siswa untuk mengenal lingkungannya, yang sekiranya dapat dimanfaatkan untuk
masa kini maupun masa akan datang.
Layanan informasi ini bertujuan untuk membekali individu dengan
berbagai pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna untuk
mengenal diri, merencanakan, dan mengembangkan pola kehidupan sebagai pelajar,
anggota keluarga, dan masyarakat.
Sasaran layanan informasi
adalah:
a. Mengembangkan pandangan yang
luas dan realistis mengenai kesempatan-kesempatan dan masalah-masalah kehidupan
pada setiap tingkatan pendidikan.
b. Menciptakan kesadaran akan
kebutuhan dan keinginan yang aktif untuk memperoleh informasi yang tepat
mengenai pendidikan, pekerjaan, dan sosial pribadi.
c. Mengembangkan ruang lingkup
yang luas mengenai kegiatan pendidikan, pekerjaan, dan sosial pribadi.
d. Membantu siswa untuk
menguasai teknik memperoleh dan menafsirkan informasi agar siswa semakin maju
dalam mengarahkan dan memimpin dirinya sendiri.
e. Mengembangkan sifat dan
kebiasaan yang akan membantu siswa dalam megambil keputusan, penyesuaian yang
produktif dan memberikan kepuasan pribadi.
f. Menyediakan bantuan untuk
membuat pilihan tertentu yang progresif terhadap aktivitas khusus sesuai dengan
kemampuan ,bakat dan minat individu.
Jenis-jenis informasi di
antaranya adalah:
1.
Informasi Pendidikan
Informasi yang harus
disampaikan oleh konselor kepada para siswa adalah sebagai berikut:
-
Peraturan sekolah.
-
Kegiatan ekstrakurikuler.
-
Kebiasaan dan keterampilan belajar.
-
Jenjang pendidikan selanjutnya.
-
Tuntutan dan persyaratan masuk perguruan
tinggi.
-
Mata pelajaran yang dituntut untuk
memasuki perguruan tinggi.
-
Biaya untuk memasuki perguruan tinggi.
-
Ciri-ciri khas dari berbagai perguruan
tinggi.
-
Pendidikan dan pelatihan untuk berbagai
lapangan pekerjaan.
2. Informasi Pekerjaan
Informasi yang harus
disampaikan oleh konselor kepada para siswa adalah sebagai berikut:
-
bentuk-bentuk atau jenis-jenis
pekerjaan.
-
Struktur dunia kerja dan kelompok
pekerjaan yang besar.
-
Kecenderungan kerja, termasuk di
dalamnya penyediaan tenaga kerja, perubahan penduduk, tuntutan masyarakat akan
mutu pekerjaan, perkembangan teknologi.
-
Pekerjaan yang utama dan penting.
-
Tugas-tugas dalam pekerjaan tertentu dan
sifat pekerjaan.
-
Kualifikasi yang diperlukan untuk dunia
kerja dalam berbagai lapangan pekerjaan.
-
Persiapan yang diperlukan untuk berbagai
lapangan pekerjaan.
3. Informasi Sosial Pribadi
Informasi yang harus
disampaikan oleh konselor kepada para siswa adalah sebagai berikut:
-
Informasi tentang hubungan anak
laki-laki dan perempuan.
-
Penampilan pribadi.
-
Cara dan etika bergaul.
-
Aktivitas dan penggunaan waktu luang.
-
Keterampilan sosial.
-
Hubungan dalam keluarga.
2.
Layanan
Informasi Kehidupan Sekolah Atau Perguruan Tinggi
Norris (1972) mendefinisikan informasi pendidikan sebagai berikut:
per bedaan karakteristik perguruan tinggi dan program pendidikan yang lainnya,
keterampilan dan kebiasaan belajar beasiswa kemudahan dan fasilitas pendidikan
setelah lulus, akreditasi program kependidikan, penyesuaian sekolah, program
dan kesempatan latihan kerja. Depdikbd (1996) menyatakan materi informasi
belajar meliputi:
a)
Tugas-tugas
perkembangan masa remaja berkenaan dengan pengembangan diri, keterampilan, ilmu
pengetahuan, teknologi, dan kesenian.
b)
Perlunya
pengembangan sikap dan pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik,
belajar mandiri maupun berkelompok.
c)
Cara
belajar di perpustakaan, meringkas buku, membuat catatan dan mengulang
pelajaran.
d)
Kemungkinan
timbulnya berbagai masalah belajar dan upaya pengentasannya.
e)
Pengajaran
perbaikan dan pengayaan.
f)
Pelaksanaan
pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya meningkatkan kegiatan dan hasil
belajar siswa.
g)
Kursus
dan sekolah yang mungkin dimasuki setelah tamat.
3.
Langkah-Langkah
Pemberian Informasi
I.
Langkah
persiapan
a)
Menetapkan
tujuan dan isi informasi beserta alasannya.
b)
Mengidentifikasi
sasaran siswa yang akan menerima informasi.
c)
Mengetahui
sumber-sumber informasi.
d)
Menetapkan
teknik penyampaian informasi.
e)
Menetapkan
jadwal dan waktu kegiatan.
f)
Menetapkan
ukuran keberhasilan.
II.
Langkah
pelaksanaan
Hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan layanan informasi:
a.
Usahakan
menarik minat dan perhatian siswa.
b.
Berikan
informasi secara sistematis dan sederhana sehingga jelas isi dan manfaatnya.
c.
Berikan
contoh yang berhubunga dengan kehidupan siswa sehari-hari.
d.
Bila menggunakan teknik karya wisata dan pemberian
tugas perlu persiapan sebaik-baiknya sehingga setiap siswa mengetahui apa yang
harus diperhatikan, apa yang harus dicatat dan apa yang harus dilakukan.
e.
Layanan
informasi merupakan bagian penting dalam program bimbingan di sekolah. Para
siswa memerlukan informasi sebanyak-banyaknya tentang dirinya sendiri dan
lingkungan. Layanan informasi membantu siswa meningkatkan kesempatan mengelola
masa depannya dengan baik.
f.
Penyajian
informasi harus direncanakan sesuai dengan kebutuhan siswa.
g.
Pemberi
infornasi hendaknya disesuaikan dengan kualifikasi personil staf bimbingan.
III.
Langkah
evaluasi
Guru pembimbing hendaknya mengevaluasi tiap kegiatan layanan
informasi. Langkah evaluasi ini sering kali dilupakan sehingga tidak diketahui
sejauh mana siswa mampu menangkap informasi.
Kriteria
keberhasilan layanan informasi adalah sebagai berikut:
a.
Jika
para siswa telah dapat menyesuaikan diri sebaik-baiknya dengan lingkungannya.
b.
Jika
para siswa telah memperoleh sebanyak-banyaknya sumber informasi.
F.
LANGKAH-LANGKAH PEMBERIAN BANTUAN BK KELOMPOK DAN INDIVIDU :
Agar memudahkan Anda melakukan
layanan bimbingan dan konseling di sekolah, hendaknya perlu diketahui
langkah-langkah yang harus dilakukan dalam memberikan layanan Bimbingan
Konseling pada siswa Anda terutama mereka yang mempunyai masalah. Adapun
langkah-langkah tersebut meliputi:
ü Identifikasi Kasus
Langkah ini dimaksudkan
untuk mengenal anak beserta gejala-gejala yang tampak. Dalam langkah ini,
pembimbing mencatat anak-anak yang perlu mendapat bimbingan dan memilih anak
yang perlu mendapat bimbingan lebih dahulu.
Pada langkah
ini yang harus diperhatikan guru adalah mengenal gejala-gejala awal dari suatu
masalah yang dihadapi siswa. Maksud dari gejala awal disini adalah apabila
siswa menujukkan tingkah laku berbeda atau menyimpang dari biasanya. Untuk
mengetahui gejala awal tidaklah mudah, karena harus dilakukan secara teliti dan
hati-hati dengan memperhatikan gejala-gejala yang nampak, kemudian dianalisis
dan selanjutnya dievaluasi. Apabila siswa menunjukkan tingkah laku atau hal-hal
yang berbeda dari biasanya, maka hal tersebut dapat diidentifikasi sebagai
gejala dari suatu masalah yang sedang dialami siswa. Sebagai contoh, Benin
seorang siswa yang mempunyai prestasi belajar yang bagus, untuk semua mata
pelajaran ia memperoleh nilai diatas rata-rata kelas. Dia juga disenangi
teman-teman maupun guru karena pandai bergaul, tidak sombong, dan baik hati.
Sudah dua bulan ini Benin berubah menjadi agak pendiam, prestasi belajarnyapun
mulai menurun. Sebagai guru Bimbingan Konseling, ibu Heni mengadakan pertemuan
dengan guru untuk mengamati Benin. Dari hasil laporan dan pegamatan yang
dilakukan oleh beberapa orang guru, ibu Heni kemudian melakukan evaluai
berdasarkan masalah Benin dengan gejala yang nampak. Selanjutnya dapat
diperkirakan jenis dan sifat masalah yang dihadapi Benin tersebut. Karena dalam
pengamatan terlihat prestasi belajar Benin menurun, maka dapat diperkirakan
Benin sedang mengalmi masalah ” kurang menguasai materi pelajaran “.
Perkiraan tersebut dapat dijadikan sebagai acuan langkah selanjutnya yaitu
diagnosis.
ü Diagnosis
Langkah diagnosis
yaitu langkah untuk menetapkan masalah yang dihadapi anak beserta
latarbelakangnya. Dalam langkah ini, kegiatan yang dilakukan ialah mengumpulkan
data dengan mengadakan studi terhadap anak, menggunakan berbagai studi terhadap
anak, menggunakan berbagai tenik pengumpulan data. Setelah data terkumpul,
ditetapkan masalah yang dihadapi serta latar belakangnya.
Pada langkah diagnosis yang
dilakukan adalah menetapkan ” masalah ” berdasarkan analisis latar belakang
yang menjadi penyebab timbulnya masalah. Dalam langkah ini dilakukan kegiatan
pengumpulan data mengenai berbagai hal yang menjadi latar belakang atau yang
melatarbelakangi gejala yang muncul. Pada kasus Benin, dilakukan pengumpulan
informasi dari berbagai pihak. Yaitu dari orang tua, teman dekat, guru dan juga
Benin sendiri. Dari informasi yang terkumpul, kemudian dilakukan analisis
maupun sistesis dan dilanjutkan dengan menelaah keterkaitan informasi latar
belakang dengan gejala yang nampak. Dari informasi yang didapat, Benin terlihat
menjadi pendiam dan prestasi belajamya menurun. Dari informasi keluarga didapat
keterangan bahwa kedua orang tua Benin telah bercerai. Berdasarkan analisis dan
sistesis, kemudian diperkirakan jenis dan bentuk masalah yang ada pada diri
Benin yaitu karena orang tuanya telah bercerai menyebabkan Benin menjadi
pendiam dan prestasi belajarnya menurun, maka Benin sedang mengalami masalah pribadi.
ü Prognosis
Langkah prognosis, yaitu langkah untuk menetapkan jenis
bantuan yang akan dilaksanakan untuk membimbing anak. Langkah prognosis ini
ditetapkan berdasarkan kesimpulan dalam langkah diagnosis, yaitu setelah
ditetapkan masalahnya dan latar belakangnya. Langkah prognosis ini, ditetapkan
bersama setelah mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan berbagai faktor.
Langkah prognosis ini pembimbing menetapkan alternatif tindakan bantuan
yang akan diberikan. Selanjutanya melakukan perencanaan mengenai jenis dan
bentuk masalah apa yang sedang dihadapi individu. Seperti rumusan kasus Benin,
maka diperkirakan Benin menghadapi masalah, rendah diri karena orang tua telah
bercerai sehingga merasa kurang mendapat perhatian dari mereka. Dari rumusan
jenis dan bentuk masalah yang sedang dihadapi Benin, maka dibuat alternatif
tindakan bantuan, seperti memberikan konseling individu yang bertujuan untuk
memperbaiki perasaan kurang diperhatikan, dan rendah diri. Dalam hal ini
konselor menawarkan alternatif layanan pada orang tua Benin dan juga Benin
sendiri untuk diberikan konseling. Penawaran tersebut berhubungan dengan
kesediaan individu Benin sebagai orang yang sedang mempunyai masalah (klien).
Dalam menetapkan prognosis, pembimbing perlu memperhatikan: 1) pendekatan yang
akan diberikan dilakukan secara perorangan atau kelompok 2) siapa yang akan
memberikan bantuan, apakah guru, konselor, dokter atau individu lain yang lebih
ahli 3) kapan bantuan akan dilaksanakan, atau hal-hal apa yang perlu
dipertimbangkan.
Apabila
dalam memberi bimbingan guru mengalami kendala, yaitu tidak bisa diselesaikan
karena terlalu sulit atau tidak bisa ditangani oleh pembimbing, maka penanganan
kasus tersebut perlu dialihkan penyelesainnya kepada orang yang lebih
berwenang, seperti dokter, psikiater atau lembaga lainnya. Layanan
pemindahtanganan karena masalahnya tidak mampu diselesaikan oleh pembimbing
tersebut dinamakan dengan layanan referal. Pada dasarnya bimbingan merupakan
proses memberikan bantuan kepada pihak siswa agar ia sebagai pribadi memiliki
pemahaman akan diri sendiri dan sekitarnya, yang selanjutnya dapat mengambil
keputusan untuk melangkah maju secara optimal guna menolong diri sendiri dalam
menghadapi dan memecahkan masalah, dan siswa atau individu yang mempunyai masalah
tersebut menetukan alternatif yang sesuai dengan kemampuannya.
ü Pemecahan / Terapi / Treatment
Langkah terapi, yaitu
langkah pelaksanaan bantuan atau bimbingan. Langkah ini merupakan pelaksanaan
yang ditetapkan prognosis. Pelaksanaan ini tentu memakan banyak waktu, proses
yang kontinu dan sistematis, serta memerlukan pengamatan yang amat cermat.
Setelah guru merencanakan pemberian
bantuan, maka dilanjutkan dengan merealisasikan langkah-langkah alternatif
bentuk bantuan berdasarakn masalah dan latar belakang yang menjadi penyebanya.
Langkah pemberian bantuan ini dilaksanakan dengan berbagai pendekatan dan
teknik pemberian bantuan. Pada kasus Benin telah direncanakan pemberian bantuan
secara individual. Pada tahap awal diadakan pendekatan secara pribadi,
pembimbing mengajak Benin menceritakan masalahnya, mungkin pada awalnya Benin
akan sangat sulit menceritakan masalahnya, karena masih memiliki perasaan takut
atau tidak percaya terhadap pembimbing.
Dalam hal ini pembimbing dituntut
kesabarannya untuk bisa membuka hati Benin agar mau menceritakan masalahnya,
dan menyakinkan kepada Benin bahwa masalahnya tidak akan diceritakan pada orang
lain serta akan dibantu menyelesaikannya. Pemberian bantuan ini dilakukan tidak
hanya sekali atau dua kali pertemuan saja, tetapi perlu waktu yang
berulang-ulang dan dengan jadwal dan sifat pertemuan yang tidak terikat, kapan
Benin sebagai individu yang mempunyai masalah mempunyai waktu untuk
menceritakan masalahnya dan bersedia diberikan bantuan. Oleh sebab itu seorang
pembimbing harus dapat menumbuhkan transferensi yang positif dimana klien mau
memproyeksikan perasaan ketergantungannya kepada pembimbing (konselor).
ü Langkah evaluasi dan follow up.
Langkah ini dimaksudkan
untuk menilai atau mengetahui sejauh
manakah terapi yang telah dilakukan dan telah mencapai hasilnya. Dalam langkah
follow up atau tindak lanjut, dilihat perkembangan selanjutnya dalam jangka
waktu yang lebih jauh.
Setelah pembimbing dan klien
melakukan beberapa kali pertemuan, dan mengumpulkan data dari beberapa
individu, maka langkah selanjutnya adalah melakukan evaluasi dan tindak lanjut.
Evaluasi dapat dilakukan selama proses pemberian bantuan berlangsung sampai
pada akhir pemberian bantuan. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan
menggunakan beberapa teknik, seperti melalui wawancara, angket, observasi
diskusi, dokumentasi dan sebagainya.
Dalam kasus Benin, pengumpulan data dilakukan
dengan wawancara antara pembimbing dengan Benin sendiri, pembimbing dengan
orang tua Benin, teman dekat atau sahabat Benin, dan beberapa orang guru.
Observasi juga dilakukan terhadap Benin pada jam istirahat, bagaimana Benin
bergaul dengan temannya, bagaimana teman-temannya memperlakukan Benin dan
sebagainya. Sedang observasi yang dilakukan baik oleh pembimbing maupun guru,
yaitu untuk mengetahui aktivitas Benin dalam menerima pelajaran, sikapnya di
dalam kelas saat mengikuti pembelajaran. Pembimbing juga berkunjung kerumah
Benin guna mengetahui kondisi rumah Benin sekaligus mewawancarai orang tuanya
mengenai sikap Benin di rumah Dari beberapa data yang telah tekumpul, kemudian
pembimbing mengadakan evaluasi untuk mengetahui sampai sejauh mana upaya
pemberian bantuan telah dilaksanakan dan bagaimana hasil dari pemberian bantuan
tersebut, bagaimana ketepatan pelaksanaan yang telah diberikan. Dari evaluasi
tersebut dapat diambil langkah-langkah selanjutnya; apabila pemberian bantuan
kurang berhasil, maka pembimbing dapat merubah tindakan atau mengembangkan
bantuan kedalam bentuk yang berbeda.
G. BENTUK-BENTUK
BK KELOMPOK.
1) Jenis kelompok
- Menurut Prayitno (1999: 24-25) bahwa dalam penyelenggaraan bimbingan
kelompok dikenal dua jenis kelompok, yaitu kelompok bebas dan kelompok tugas :
a) Kelompok bebas
Dalam kegiatannya para anggota bebas mengemukakan segala pikiran dan
perasaanya dalam kelompok. Selanjutnya apa yang disampaikan mereka dalam
kelompok itulah yang menjadi pokok bahasan kelompok.
b) Kelompok tugas
Dalam penyelenggaraan bimbingan kelompok tugas arah dan isi kegaiatannya
tidak ditentukan oleh para anggota, melainkan diarahkan kepada penyelesaiannya
suatu tugas. Pemimpin kelompok mengemukakan suatu tugas untuk selanjutnya
dibahas dan diselesaikan oleh anggota kelompok.
-
Kelompok primer dan kelompok skunder
Kelompok primer diwarnai oleh hubungan pribadi secara akrab dan
kerja sama yang terus menerus diantara para anggotanya. Contoh keluarga, teman
sepermainan, sekelompok remaja, dan lain-lain.
-
Kelompok sosial dan kelompok psikososial
Kelompok sosial dan kelompok psikososial ini dibedakan pada dasar
tujuan pokok yang ingin dicapai. Pada kelompok sosial, tujuan yang ingin
dicapai adalah tujuan bersama untuk kepentingan bersama. Sedangkan kelompok
psikososial pada dasarnya lebih bersifat pribadi. Pada anggota kelompok
psikososial dalam memasuki kelompok biasanya didorong oleh kepentingan yang
menyangkut hubungan antarpribadi.
- Kelompok
formal dan kelompok informal
Kelompok formal biasanya terbentuk berdasarkan tujuan dan aturan
tertentu yang bersifat resmi (dan tertulis). Gerak dan kegiatan kelompok formal
pun diatur dan tidak boleh menyimpang dari ketentuan yang telah dibuat.
Sedangkan kelompok informal biasanya terbentuk secara kebetulan, jadi dalam
kelompok informal tidak tidak terdapat suatu aturan dan tujuan tertentu yang
bersifat resmi.
2) Anggota kelompok
Keanggotaan merupakan salah satu unsur pokok dalam proses kehidupan
kelompok. Peranan kelompok itidak akan terwujud tanpa keikutsertaan aktif para
angota kelompok, dan bahkan lebih dari itu. Peranan yang hendaknya dimainkan
anggota kelompok sesuai yang diharapkan menurut Prayitno (1995:32) adalah
sebagai berikut :
a)
Membantu terbinanya
suasana keakraban dalam hubungan antar anggota kelompok.
b)
Mencurahkan segenap
perasaan dalam melibatkan diri dalamkeg iatan kelompok.
c)
Berusaha agar yang
dilakukannya itu membantu tercapainya tujuan bersama.
d) Membantu tersusunnya aturan kelompok dan berusaha mematuhinya dengan baik.
e)
Benar-benar berusaha
untuk secara efektif ikut serta dalam seluruh kegiatan kelompok.
f)
Mampu mengkomunikasikan
secara terbuka.
g)
Berusaha membantu orang
lain.
h)
Memberikan kesempatan
kepada anggota lain untuk juga menjalani peranannya.
i)
Menyadari pentingnya
kegiatan kelompok tersebut.
Keanggotaan
kelompok ada 2, yaitu:
·
Anggota
kelompok yang bersifat sukarela, adalah anggota kelompok yang anggotanya lebih
bebas dan peranan anggotanya lebih besar dalam menentukan gerak dan kegiatan
kelompok tersebut.
·
Anggota
kelompok yang bersifat tidak sukarela, adalah anggota kelompok yang anggotanya
terbentuk atas dasar kedudukannya.
3) Pembimbing kelompok
Pembimbing kelompok atau Pemimpin kelompok
adalah orang yang mampu menciptakan suasana sehingga para anggota kelompok
dapat belajar bagaimana mengatasi masalah-masalah mereka sendiri. Menurut
Prayitno (1995: 35-36) peranan pemimpin kelompok dalam layanan bimbingan
kelompok adalah sebagai berikut.:
- Pemimpin kelompok dapat memberikan bantuan, pengarahan atau campur
tangan langsung terhadap kegiatan kelompok.
- Pemimpin kelompok memusatkan perhatian pada suasana perasaanyang
berkembang dalam kelompok itu, baik perasaan anggotaanggota tertentu
maupun keseluruhan kelompok.
- Pemimpin kelompok dapat menanyakan suasana perasaan yang dialami oleh
anggota kelompok. Jika kelompok tersebut tampak kurang menjurus ke arah
yang dimaksudkan, maka pemimpin kelompok perlu memberikan arah yang
dimaksudkan.
- Pemimpin kelompok juga perlu memberikan tanggapan (umpan balik)
tentang berbagai hal yang terjadi dalam kelompok, baik yang bersifat isi
maupun proses kegiatan kelompok.
- Pemimpin kelompok diharapkan mampu mengatur lalu lintas kegiatan
kelompok, pemegang atauran permainan (menjadi wasit), pendamai dan
pendorong kerjasama serta suasana kebersamaan.
Sifat kerahasiaan dari kelompok itu dengan segenap isi dan
kejadian-kejadian yang timbul di dalamnya juga menjadi tanggung jawab pemimpin
kelompok
H. BENTUK-BENTUK
BK INDIVIDU.
1)
Directing
Counseling
Yaitu dimana pelayanan penyuluhan tertuju pada masalahnya, yaitu
konselor yang membuka jalan pemecahan masalah yang dihadapi klien. Di sini
konselor paling berperan dengan berusaha mengarahkan konseli sesuai dengan masalahnya.
Dengan
prosedur atau teknik pelayanan penyuluhan tertuju pada masalahnya, konselor
yang membuka jalan pemecahan masalah yang dihadapi klien. Tokoh dari aliran
WILIAMSON menunjukkan alasan bahwa:
a)
Anak
yang belum matang mendiagnosa sendiri sukar memecahkan masalahnya, tanpa
bantuan dari pihak lain yang berpengalaman.
b)
Anak
yang berkesulitan, sekalipun sudah diberi petunjuk apa yang harus dilakukan,
mereka tidak mau dan tidak berani.
c)
Mungkin
ada masalah yang berat untuk dipecahkann oleh anak tanpa bantuan dari orang
lain.
2)
Nondirecting
Counseling
Pelayanan bimbingan difokuskan pada anak yang
bermasalah (klien). Ini juga disebut dengan Clien
Centeret Counseling. Non Directive
Counseling ini pelayanan
bimbingan bukan pelayanan yang mengambil inisiatif, tetapi klien sendiri yang
mengambil prakarsa, yang menentukan sendiri apakah dia membutuhkan pertolongan
dari pihak lain. Konselor hanya menampung pembicaraan konseli. Konseli bebas berbicara,
sedangkan konselor menampung dan mengarahkan. Tokoh dari aliran ini: CART ROGERS memaparkan alasan sebagai
berikut:
a)
Bahwa
setiap individu mempunyai kemampuan yang besar untuk menyesuaikan diri serta
memiliki dorongan yang kuat untuk berdiri sendiri.
b)
Bahwa
penyuluhan hanya sebagai pengantar dan membantu klien dalam menciptakan suasana
damai, tenang, tidak tertekan, tidak merasa dipaksa dengan kesediaannya
menyatakan kesulitannya kepada pembimbing.
3)
Eclective
Counseling
Teknik
ini lebih luwes (fleksibel) jika dibandingkan kedua teknik tersebut di atas.
Dengan eclective counseling pelayanan tidak dipusatkanpada penyuluh atau pada
klien, tetapi masalah yang dihadapi itulah harus dihadapi secara luwes,
sehingga tentang apa yang dipergunakan setiap waktu dapat diubah kalau memang
diperlukan. Tokoh aliran ini: F.P. ROBINSON mengutarakan bahwa:
a)
Masalah
dan situasi penyuluh selalu berbeda dan masalah yang tidak terbatas pada satu bidang kehidupan.
b)
Langkah-langkah
penyuluh harus disesuaikan dengan keperluan yang dituntut oleh situasi
penyuluhan.
I.
BENTUK-BENTUK BK INDIVIDU DAN KELOMPOK DALAM PEMBELAJARAN
PERBAIKAN.
1)
Konsep
Pembelajaran Perbaikan
Remedial teaching
atau pengajaran perbaikan aadalah suatu bentuk pengajaran yang bersifat
menyembuhkan atau dengan singkat pengajaran yang membuat menjadi baik. Maka
pengajaran perbaikan atau remedial teaching adalah bentuk khusus pengajaran
yang berfungsi untuk menyembuhkan, membetulkan, atau membuat menjadi baik.
Pembelajaran perbaikan adalah suatu bentuk
pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau
membetulkan atau pengajaran yang membuat anak menjadi lebih baik. Dalam proses
belajar mengajar siswa diharapkan dapat mencapai hasil sebaik-baiknya, sehingga
bila ternyata ada siswa yang belum berhasil sesuai dengan harapan maka
diperlukan suatu proses pengajaran yang membantu agar dapat mencapai hasil yang
diharapkan.
2)
Pendekatan
Pembelajaran Perbaikan
Pendekatan
pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya
suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi,
menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan
teoretis tertentu.
3)
Macam-Macam
Pendekatan Pembelajaran Perbaikan
Dalam pembelajaran
perbaikan terdapat beberapa pendekatan di antaranya adalah:
a)
Pendekatan
Yang Bersifat Kuratif
Pendekatan ini diadakan
mengingat kenyataannya ada seseorang atau sejumlah siswa, bahkan mungkin
seluruh anggota kelompok belajar tidak mampu menyelesaikan program secara
sempurna sesuai dengan kriteria keberhasilan dalam proses belajar
mengajar.program dalam proses itu dapat diartikan untuk setiap pertemuan, unit
pelajaran, atau satuan waktu tertentu. Untuk mencapai sasaran pencapaian dapat
menggunakan pendekatan.
ð Pengulangan
Pelaksanaanya dapat secara:
1)
Individual
kalau ternyata yang mengalami kesulitan terbatas.
2)
Kelompok
kalau ternyata sejumlah siswa dalam bidang studi tertentu mempunyai jenis/sifat
kesalahan / kesulitan bersama.
Waktu dan cara pelaksanaannya:
1)
Bila sebagian/seluruh kelas mengalami
kesulitan sama, diadakan pertemuan kelas biasa berikutnya.
2)
Diadakan
diluar jam pertemuan biasa.
3)
Diadakan
kelas remedial (kelas khusus)
ð Pengayaan/pengukuran
Layanan ini dikenakan
pada siswa yang kelemahannya ringan dan secara akademik mungkin termasuk dengan
cara:
1)
Pemberian
tugas/pekerjaan rumah
2)
Pemberian
tugas/soal dikerjakan dikelas
ð Pencepatan (akselerasi)
Layanan ini ditujukan
kepada siswa yang berbakat tetapi menunjukkan kesulitan psikososial (ego
emosional).
b)
Pendekatan
Yang Bersifat Preventif
Pendekatan ini ditujukan kepada siswa yang berdasarkan
data/informasi diprediksikan atau patut diduga akan mengalami kesulitan dalam
menyelesaikan suatu program studi tertentu yang akan ditempuhnya. Prediksi itu
dikategorikan menjadi dua yaitu:
a)
Bagi
yang termasuk kategori normal mampu menyelesaikan program belajar mengajar
biasa sesuai dengan waktu yang
disediakan.
b)
Bagi
mereka yang diperkirakan terlambat atau tidak menyelesaikan program dengan bata
waktu yang ditetapkan. Berdasarkan prediksi tersebut maka layanan pengajaran
perbaikan dapat dalam bentuk:
1)
Bentuk
kelompok belajar homogen.
2)
Bentuk
individual.
3)
Bentuk
kelompok dengan kelas remedial.
c)
Pendekatan
Yang Bersifat Perkembangan
Pendekatan ini
merupakan upaya yang dilakukan guru selama proses belajar mengajar berlangsung.
Sasaran pokok dari pendekatan ini adalah agara siswa dapat mengatasi
hambatan-hambatan atau kesulitan-kesulitan yang mungkin dialami selama proses
belajar mengajar berlangsung. Karena itu diperlukan peranan bimbingan dan penyuluhan
agar tujuan pengajaran yang telah dirumuskan berhasil.
4)
Metode
Pembelajaran Perbaikan
Metode yang
digunakan dalam pengajaran perbaikan yaitu metode yang dilaksanakan dalam
kesekuruhan kegiatan bimbingan belajar mulai dari tingkat identifikasi kasus
sampai dengan tindak lanjut. Metode yang dapat digunakan, yaitu:
a)
Tanya
jawab
Metode ini
digunakan dalam rangka pengenalan kasus untuk mengetahui jenis dan sifat
kesulitannya.
Tanya jawab ini dilakukan secara individu maupun secara kelompok.
Kebaikan metode ini dalam rangka pengajaran perbaikan yaitu memungkinkan
terbinanya hubungan guru-siswa.
- Meningkatkan motivasi belajar;
- Merupakan kondisi yang menunjang pelaksnaan penyuluhan;
- Menumbuhkan rasa harga diri.
b)
Diskusi
Metode ini dengan
memanfaatkan interaksi antar individu
dalam kelompok untuk memperbaiki kesulitan belajar yang dialami oleh siswa. Kebaikan metode ini
dalam pengajaran perbaikan adalah:
- Setiap individu dalam kelompok dapat mengenal diri dan kesulitannya
dan menemukan jalam pemecahannya.
- Interksi dalam kelompok menumbuhkan sikap percaya mempercayai.
- Mengembangkan kerja sama antar pribadi.
- Menumbuhkan kepercayaan diri.
- Menumbuhkan rasa tanggung jawab.
c)
Tugas
Metode ini dapat
digunakan dalam rangka mengenal,kasus dan dalam rangka pemberian bantuan.
Dengan pemberian tugas-tugas tertentu baik secara individual maupun secara
kelompok siswa yang mengalami kesulitan dapat ditolong.
Dengan metode ini diharapkan siswa dapat:
- Lebih memahami dirinya;
- Dapat memperluas/memperdalam
materi yang dipelajari;
- Dapat memperbaiki cara-cara belajar yang pernah dialami.
d)
Kerja
kelompok
Metode ini
bersamaan dengan metode pemberian tugas dan metode diskusi. Yang penting adalah
interaksi diantara anggota kelompok dengan harapan terjadi perbaikan pada diri
siswa yang mengalami kesulitan belajar karena:
- Adanya pengaruh anggota kelompok yang cakap dan berpengalaman.
- Kehidupan kelomppok dapat meningkatkan minat belajar. Kehidupan
kelompok memupuk tanggung jawab, salling memahami diri.
e)
Tutor
Tutor adalah siswa
yang sebaya tang ditunjuk/ditugaskan membantu temannya yang mengalami kesulitan
belajar, karena hubungan antara teman umumnya lebih dekat dibandingkan hubungan
guru-siswa. Dengan petunjuk-petunjuk dari guru tutor ini membantu temannya yang
mengalami kesulitan. Pemilihan tutor ini didasarkan antar prestasi, punya
hubungan sosial baik dan cukup disenangi oleh teman-temannya. Tutor berperan
sebagai pemimpin dalam kegiatan kelompok sebagai pengganti guru. Dengan tutor
ini ada kebaikannya, yaitu sebagai berikut:
- Adanya hubungan yang lebih dekat dan akrab.
- Tutor sendiri kegiatannya merupakan pengayaan dan menambah motivasi
belajar.
- Dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri.
f)
Pengajaran
individual
Pengajaran
individual adalah interaksi antara guru dan siswa secara individual dalam
proses belajar-mengajar. Pendekatan metode ini bersifat individual sesuai
dengan kesulitan yang dihadapi siswa. Materi yang diberikan pengulangan, mnkin
materi baru dan mungkin pengayaan apa yang telah dimiliki siswa.
Pengajaran individual ini
bersifat teraputik, artinya mempunyai sifat penyembuhan dengan cara memperbaiki
cara-cara belajar siswa. Untuk melaksanakan pengajaran individual ini guru
dituntut memiliki kemampuan membimbing dan bersikap sabar, ulet, rela, bertanggung
jawab, menerima dan memahami, dan sebagainya.
Hasil yang diharapkan dalam pengajaran ini disamping adanya
perubahan dalam pemahaman diri siswa.
5)
Prosedur
Pembelajaran Perbaikan
a. Meneliti kasus dengan
permasalahannya sebagai titik tolak kegiatan-kegiatan berikutnya. Tujuannya
adalah agar memperoleh gambaran yang jelas mengenai kasus tersebut, serta cara
dan kemungkinan pemecahannya.
b. Menentukan tindakan yang
harus dilakukan.
c. Pemberian layanan khusus
yaitu bimbingan dan konseling. Tujuannya adalah mengusahakan agar siswa
terbebas dari hambatan mental emosional (ketegangan batin), sehingga kemudian
siap menghadapi kegiatan belajar secara wajar.
d. Langkah pelaksanaan
pembelajaran perbaikan. Sasaran pokoknya adalah peningkatan prestasi maupun
kemampuan menyesuaikan diri sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan
sebelumnya oleh guru.
e. Melakukan pengukuran kembali
terhadap prestasi belajar.
f. Melakukan re-evaluasi.
6)
Faktor-faktor
yang dipertimbangkan dalam pembelajaran perbaikan
a.
Faktor
efektifitas, yaitu ketepatan tercapainya tujuan pembelajaran perbaikan
b.
Faktor
efisiensi, yaitu sedikitnya tenaga, bea, dan waktu yang dipergunakan, namun
hasilnya semaksimal mungking.
c.
Faktor
kesusilaan dengan jenis masalah, sifat individu, fasilitas dan kesempatan yang
tersedia.
J.
Bentuk-bentuk BK kelompok dan individu & assismen
a)
Pengertian Asesmen
Menurut Azalia, dkk
(2011) “Asesmen yaitu mengukur suatu proses konseling yang harus dilakukan
konselor sebelum, selama, dan setelah konseling tersebut dilaksanakan atau
berlangsung”. Assesmen merupakan suatu proses pengukuran atau penelitian yang
diadakan pada sebelum, sedang dan sesudah proses konseling sebagai penyedia
informasi yang nyata agar nkonselor dapat menganalisis permasalahan yang
terjadi pada konseli. Assesmen harus ada dalam suatu layanan BK agar konselor
dapat menganalisis dan mengetahui kebutuhan dan permasalahan konseli
sesungguhnya.
Asesmen merupakan salah
satu bagian terpenting dalam seluruh kegiatan yang ada dalam konseling (baik
konseling kelompok maupun konseling individual). Karena itulah maka
asesmen dalam bimbingan dan konseling merupakan bagian yang
terintegral dengan proses terapi maupun semua kegiatan bimbingan/konseling itu
sendiri. Asesmen dilakukan untuk menggali dinamika dan faktor penentu
yang mendasari munculnya masalah. Hal ini sesuai dengan tujuan asesmen dalam
bimbingan dan konseling, yaitu mengumpulkan informasi yang memungkinkan bagi
konselor untuk menentukan masalah dan memahami latar belakang serta situasi
yang ada pada masalah klien. Asesmen yang dilakukan sebelum, selama dan setelah
konseling berlangsung dapat memberi informasi yang dapat digunakan untuk
memecahkan masalah yang dihadapi konselee. Dalam prakteknya, asesmen dapat
digunakan sebagai alat untuk menilai keberhasilan sebuah konseling, namun juga
dapat digunakan sebagai sebuah terapi untuk menyelesaikan masalah konsele.
Asesmen
merupakan kegiatan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan/kompetensi yang
dimiliki oleh konselee dalam memecahkan masalah. Asesmen
yang dikembangkan adalah asesmen yang baku dan meliputi beberapa aspek
yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor dalam kompetensi dengan menggunakan
indicator-indikator yang ditetapkan dan dikembangkan oleh
guru BK/konselor sekolah. Asesmen yang diberikan kepada konselee merupakan
pengembangan dari area kompetensi dasar pada diri konselee yang akan
dinilai, yang kemudian akan dijabarkan dalam bentuk indikator-indikator. Pada
umumnya asesmen bimbingan konseling dapat dilakukan dalam bentuk laporan diri, performance
test, tes psikologis, observasi, wawancara, dan sebagainya. Dalam
pelaksanaannya, asesmen merupakan hal yang penting dan harus dilakukan
dengan berhati-hati sesuai dengan kaidahnya. Kesalahan dalam mengidentifikasi
masalah karena asesmen yang tidak memadai akan menyebabkan tritmen gagal;
atau bahkan dapat memicu munculnya konsekuensi dari tritmen yang merugikan diri
konselee. Meskipun menjadi dasar dalam melakukan tritmen pada konselee,
tidak berarti konselor harus menilai (to assess) semua latar
belakang dan situasi yang dihadapi klien pada saat itu jika tidak perlu.
Kadangkala konselor menemukan bahwa ternyata “hidup” konselee
sangat menarik. Namun demikian tidaklah efisien dan tidak etis untuk menggali
semuanya selama hal tersebut tidak relevan dengan tritmen yang diberikan untuk
mengatasi masalah konselee. Karena itu, setiap guru pembimbing/konselor perlu
berpegang pada pedoman pertanyaan sebelum melakukan asesmen; yaitu “Apa saja
yang perlu kuketahui mengenai klien?”. Hal itu berkaitan dengan apa saja yang
relevan untuk mengembangkan intervensi atau tritmen yang efektif, efisien, dan
berlangsung lama bagi konselee.
Hood & Johnson
(1993) menjelaskan ada beberapa fungsi asesmen, diantaranya adalah untuk:
a. menstimulasi konselee maupun konselor mengenai berbagai isu permasalahan
b. menjelaskan masalah yang senyatanya
c. memberi alternatif solusi untuk masalah
d. menyediakan metode untuk dengann memperbandingkan alternatif shg dapat
diambil keputusan
e. memungkinkan evaluasi efektivitas konseling
Selain
itu, asesmen juga diperlukan untuk memperoleh informasi yang membedakan antara
apa ini (what is) dengan apa yang diinginkan (what is desired)
sesuai dengan kebutuhan dan hasil konseling.
Asesmen memiliki
hubungan yang sangat signifikan dengan perencanaan dan pelaksanaan model-model
pendekatan konseling. Jika kedua komponen tersebut didesain dengan pendekatan “client
centered” atau “bottom up”, asesmen akan mengarah pada
inovasi. Hal ini memiliki makna bahwa asesmen tidak hanya berorientasi
pada hasil/produk akhir, tetapi justru akan lebih terfokus pada proses
konseling, yaitu mulai dari membuka konseling sampai dengan mengakhiri
konseling; atau setidak-tidaknya akan ada keseimbangan antara proses konseling
dengan hasil konseling. Dengan demikian asesmen akan benar-benar bisa
memenuhi kriteria objektivitas dan keadilan, sehingga keputusan yang akan
diambil oleh konselee dapat benar-benar sesuai dengan kemampuan diri
konselee itu sendiri.
Asesmen
yang tidak dilakukan secara objektif, akan berpengaruh pada pelayanan konseling
oleh konselor sekolah/ guru bimbingan konseling. Hal ini akan berakibat
tidak baik pada diri konselee, bahkan terhadap konselor itu sendiri untuk
jangka panjang maupun jangka pendek.Asesmen dalam bimbingan dan konseling adalah asesmen yang berbasis individu
dan berkelanjutan. Semua indikator bukan diukur dengan soal seperti dalam
pembelajaran, tetapi diukur secara kualitatif, kemudian hasilnya dianalisis
untuk mengetahui kemampuan konselee dalam mengambil keputusan pada akhir
konseling, dalam melaksanakan keputusan setelah konseling, serta melihat
kendala/masalah yang dihadapi konselee dalam proses konseling maupun kendala
dalam melaksanakan keputusan yang telah ditetapkannya.
Ruang lingkup dalam
asesmen (assesment need areas) dalam bimbingan dan konseling ada
lima, yaitu:
1.
Systems assessment, yaitu asesmen yang dilakukan untuk mendapatkan informasi
mengenai status dari suatu sistem, yang membedakan antara apa ini (what
is it) dengan apa yang diinginkan (what is desired) sesuai
dengan kebutuhan dan hasil konseling; serta tujuan yang sudah
dituliskan/ditetapkan atau outcome yang diharapkan dalam konseling.
2.
Program planning, yaitu perencanaan program untuk memperoleh
informasi-informasi yang dapat digunakan untuk membuat keputusan dan untuk
menyeleksi bagian–bagian program yang efektif dalam pertemuan-pertemuan antara
konselor dengan konselee; untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan khusus
pada tahap pertama. Di sinilah muncul fungsi evaluator dalam asesmen, yang
memberikan informasi-informasi nyata yang potensial. Hal inilah yang kemudian membuat
asesmen menjadi efektif, yang dapat membuat konselee mampu
membedakan latihan yang dilakukan pada saat konseling dan penerapannya di
kehidupan
nyata dimana konselee harus membuat suatu keputusan, atau memilih
alternatif-altenatif yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalahnya.
3.
Program Implementation, yaitu bagaimana asesmen dilakukan untuk menilai
pelaksanaan program dengan memberikan informasi-informasi nyata; yang
menjadikan program-program tersebut dapat dinilai apakah sesuai dengan pedoman.
4.
Program Improvement, dimana asesmen dapat digunakan dalam dalam
perbaikan program, yaitu yang berkenaan dengan: (a) evaluasi terhadap
informasi-informasi yang nyata, (b) tujuan yang akan dicapai dalam program,
(c) program-progam yang berhasil, dan (d) informasi-informasi yang
mempengaruhi proses pelaksanaan program-program yang lain.
5. Program
certification, yang merupakan akhir kegiatan. Menurut Center for the
Study of Evaluation (CSE), program sertifikasi adalah suatu evaluasi
sumatif, hal ini memberikan makna bahwa pada akhir kegiatan akan
dilakukan evaluasi akhir sebagai dasar untuk memberikan sertifikasi
kepada konselee. Dalam hal ini evaluator berfungsi pemberi informasi
mengenai hasil evaluasi yang akan digunakan sebagai dasar untuk mengambil
keputusan.
B). Tujuan Dan
Kegunaan Assesment
Asesmen
mempunyai beberapa tujuan dalam proses konseling, diantaranya yaitu :
1)
Melancarkan proses pengumpulan informasi
2)
Memungkinkan konselor membuat diagnosis yang akurat
3)
Memfasilitasi perkembangan dari suatu rencana tindakan yang
efektif
4)
Menentukan tepat atau tidaknya seseorang untuk suatu program
tindakan tertentu
5)
Menyederhanakan pencapaian sasaran dan pengukuran kemajuan
6)
Meningkatkan wawasan mengenai kepribadian seseorang dan
mengklarifikasi konsep diri
7)
Menilai lingkungan atau konteks
8)
Meningkatkan konseling dan diskusi yang lebih terfokus dan relevan
9)
Mengindikasikan kemungkinan bahwa peristiwa tertentu akan terjadi
seperti sukses dalam akademik
10) Meningkatkan terjemahan dari minat, kemampuan dan
dimensi kepribadian dalam peristilahan ukopasional
11) Menghasilkan opsi dan alternatif
12) Memfasilitasi perencanaan dan pembuatan keputusan.
Hood & Johnson
(1993) menjelaskan bahwa asesmen dalam bimbingan dan konseling mempunyai
beberapa tujuan, yaitu:
- Orientasi masalah, yaitu untuk membuat konselee mengenali dan menerima
permasalahan yang dihadapinya, tidak mengingkari bahwa ia bermasalah
- Identifikasi masalah, yaitu membantu baik bagi konselee maupun
konselor dalam mengetahui masalah yang dihadapi konselee secara mendetil
- Memilih alternatif solusi dari berbagai alternatif penyelesaian
masalah yang dapat dilakukan oleh konselee
- Pembuatan keputusan alternatif pemecahan masalah yang paling
menguntungkan dengan memperhatikan konsekuensi paling kecil dari beberapa
alternatif tersebut
- Verifikasi untuk menilai apakah konseling telah berjalan efektif dan
telah mengurangi beban masalah konselee atau belum
Selain itu, asesmen
digunakan pula untuk menentukan variabel pengontrol dalam permasalahan yang
dihadapi konselee, untuk memilih/mengembangkan intervensi terhadap area
yang bermasalah, atau dengan kata lain menjadi dasar untuk mendesain dan
mengelola terapi, untuk membantu mengevaluasi intervensi, serta untuk
menyediakan informasi yang relevan untuk pertanyaan-pertanyaan yang
muncul untuk setiap fase konseling.
Pada asesmen berbasis
individu, asesmen dipakai untuk mengumpulkan informasi asli atau autentik
mengenai konselee sehingga diperoleh informasi menyeluruh tentang diri
konselee secara utuh, dan untuk memberikan penilaian yang objektif.
Selain itu, secara terperinci asesmen berbasis individu bertujuan untuk:
- Mengembangkan cara konselee merespon (verbal dan/atau non verbal) pertanyaan-pertanyaan yang
disampaikan oleh guru BK.
- Melatih konselee untuk berpikir dalam upaya pemecahan masalah
- Membentuk kemandirian konselee dalam berbagai masalah atau
membentuk individu menjadi mandiri.
- Melatih konselee mengemukakan apa yang dipikirkan dan apa yang
dirasakan. melalui proses konseling.
- Membentuk individu yang terbuka dalam berbagai hal, termasuk
membuka diri dalam konseling
- Membina kerjasama yang baik dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
- Membelajarkan konselee untuk menilai terhadap cara melaksanakan
keputusannya secara konsekuen.
Asesmen berbasis
individu akan mengukur seluruh kemampuan konselee, baik keterampilan
personal (personal skills), keterampilan social (social skills),
keterampilan memecahkan masalah (problem solving skills), dan
keterampilan memilih alternative (Choice alternative skills). Jika
hal ini
dilakukan maka asesmen akan dapat:
a. membantu sekolah dan guru dalam melaksanakan pembelajaran karena
konselee sebagai siswa dapat berkonsentrasi dalam mengikuti pembelajaran,
b. memudahkan guru dalam pembelajaran di kelas karena siswa tidak banyak
masalah,
c. memudahkan guru bimbingan dan konseling dalam melaksanakan tugas bimbingan
dan konseling – khususnya dalam konseling,
d. membantu kepala sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah,
e. mendorong konselee untuk memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling
dalam berbagai hal (seperti mendapatkan informasi studi, pekerjaan, dan
memecahkan masalah (masalah pribadi, sosial, belajar, dan karir), dan
f. menyajikan informasi berkesinambungan tentang kegiatan kegiatan layanan
bimbingan dan konseling.
Dalam tiap fase
konseling, asesmen (menurut Hood & Johnson, 1993) mempunyai tujuan
yang bisa jadi berbeda-beda. Hal ini terlihat dalam tabel berikut ini:
|
Fase treetmen
|
Pertanyaan yang ditujukan bagi asesmen
|
|
Skrining awal
|
a. Apakah
konselee tepat untuk layanan ini?
b. Jika tidak tepat, dirujuk kemana?
|
|
Identifikasi dan analisis
masalah
|
a. Apa
masalah konselee?
b. Apakah
masalah konselee mengundang
masalah tritmen?
c. Faktor apa
yang membuat masalah konselee terus
berlangsung?
|
|
Seleksi tritmen
|
a. Alternatif
tritmen apa yang membuat konselee
nyaman?
b. Alternatif
tritmen apa yang membuat
lingkungan konselee nyaman?
c. Alternatif
tritmen apa yang membuat terapis
nyaman?
d. Tritmen
mana yang optimum dalam menyelesaikan masalah konselee?
|
|
Evaluasi tritmen
|
a. Apakah
evaluasi tritmen dapat dipercaya?
b. Perubahan
apa yang terjadi pada masalah dan
perilaku?
c. Apakah
perubahan terjadi karena tritmen?
d. Biaya apa
yang harus dikeluarkan untuk
tritmen?
e. Apakah
keuntungan yang didapat dari tritmen
memadai dengan biayanya?
f. Apakah tritmen harus dihentikan atau
dilanjutkan?
|
Sedangkan kegunaan assesmen adalah:
1)
Mengukur
kemajuan anak-anak sebagai bentuk evaluasi program
2)
Mengidentifikasi
kebutuhan-kebutuhan pengembangan staf dan perencanaan pembelajaran di masa yang
akan datang
3)
Membantu
anak-anak berkembang secara optimal, baik fisik, sosial, emosional, intelektual
maupun spiritual
4)
Mendeteksi
keterlambatan-keterlambatan perkembangan atau kebutuhan-kebutuhan khusus yang
mungkin dimiliki anak-anak.
C). Penyusunan
Instrumen Assesment
·
Interview
Interview merupakan dasar dalam asesmen dan
merupakan sumber yang sangat luas. Ada beberapa kelebihan interview antara
lain:
Ø
Merupakan hal biasa dalam interaksi sosial sehingga
memungkinkan untuk mengumpulkan sampel tentang perilaku verbal atau non verbal
individu bersama-sama.
Ø
Tidak membutuhkan peralatan atau perlengkapan khusus dan
dapat dilakukan dimanapun juga.
Ø
Mempunyai tingkat fleksibilitas yang tinggi, bebas untuk
melakukan inquiry (pendalaman) terhadap topik pembicaraan yang mungkin dapat
membantu proses asesmen.
·
Tes
Seperti interview, tes juga memberikan sampel
perilaku individu, hanya saja dalam tes stimulus yang direspon klien lebih
terstandardisasikan daripada interview. Bentuk tes yang sudah standar tersebut
membantu untuk mengurangi bias yang mungkin muncul selama proses asesmen
berlangsung. Respon yang diberikan biasanya dapat diubah dalam bentuk skor dan
dibuat analisis kuantitatif. Hal itu membantu konselor untuk memahami klien.
Skor yang didapat kemudian diinterpretasi sesuai dengan norma yang ada.
·
Observasi
Tujuan observasi adalah untuk mengetahui lebih
jauh di luar apa yang dikatakan klien. Banyak yang mempertimbangkan bahwa
observasi langsung mempunyai tingkat validitas yang tertinggi dalam asesmen.
Hal itu berhubungan dengan kelebihan observasi antara lain:
Ø Observasi dilakukan secara langsung dan
mempunyai kemampuan untuk menghindari permasalahan yang muncul selama interview
dan tes seperti masalah memori, jenis
respon, motivasi dan bias situasional.
Ø Relevansinya terhadap perilaku yang menjadi
topik utama. Misalnya perilaku agresif anak dapat diobservasi sebagaimana
perilaku yang ditunjukkan dalam lingkungan bermain dimana masalah itu telah
muncul.
Ø Observasi dapat mengases perilaku dalam
konteks sosialnya. Misalnya untuk memahami seorang pasien yang kelihatan
depresi setelah dikunjungi keluarganya, akan lebih bermakna dengan mengamati
secara langsung daripada bertanya, “Apakah Anda pernah depresi?”.
Ø Dapat mendeskripsikan perilaku secara khusus
dan detail.
·
Life record
Asesmen yang dilakukan melalui data-data yang dimiliki seseorang baik
berupa ijazah sekolah, arsip pekerjaan, catatan medis, tabungan, buku harian,
surat, album foto, catatan kepolisian, penghargaan, dan sebagainya. Banyak hal
dapat dipelajari dari life record tersebut. Pendekatan ini tidak meminta klien
untuk memberi respon yang lebih banyak seperti melalui interview, tes atau
observasi. Selama proses ini, data dapat lebih terhindar dari distorsi memori,
jenis respon, motivasi atau faktor situasional.
D).
Contoh-Contoh Rubrik
Terlampir.....
K. Perlengkapan
dan tata laksana bimbingan kelompok dan individu
ü Instrument
Pengumpulan Data
Untuk dapat terselenggaranya pelayanan BK yang sebaik-baiknya perlu adanya
perlengkapan bagi terselenggaranya pelayanan bimbingan. Perlengkapan itu harus
tersedia agar kegiatankegiatan pelayanan dapat terselenggara dengan baik.
Perlengkapan tatalaksana bimbingan dan konseling yang diperlukan disekolah
meliputi :
1.Yang berhubungan
dengan pengumpulan data murid.
2.Yang berhubungan
dengan peyimpanan data murid.
3.Yang berhubungan
dengan pelaksanaan bimbingan.
4.Yang berhubungan
dengan administrasi bimbingan.
5.Yang berhubungan
dengan fasilitas fisik.
Agar pelayanan dan program dapat berjalan dengan baik, maka perlu
mempersiapkan alat-alat atau perlengkapan yang berhubungan dengan pengumpulan
data.
Perlengkapan tersebut ialah alat-alat pengumpul data, antara lain : pedoman
wawancara, pedoman observasi, angket, cheklist, sosiometri, blanko pemeriksaan
kesehatan, blanko laporan studi kasus, beberapa test (kalau memungkinkan)
seperti test inteligensi, test kepribadian, tet hasil belajar, dan sebagainya.
ü
Perlengkapan Penyimpanan Data Bimbingan Kelompok Dan Individu
Data murid yang telah terkumpul perlu disimpan dengan baik agar mempermudah
jika sewaktu-waktu diperlukan kembali. Penyimpanan data ini dapat bersifat
individual dan dapat bersifat berkelompok (misalnya menurut kelas, jenis
kelamin, jurusan, masalah, dsbnya). Alat penyimpanan data dapat berupa :
a. Kartu.
Bentuknya hanya satu lembar (satu halaman atau dua halaman). Penggunaannya
untuk mencatat data murid mengenai aspek-aspek tertentu, misalnya : kesehatan,
absensi, kemajuan akademis, kejadian-kejadian khusus, data sosiometri,
masalah-maslah khusus, dsbnya.
b. Folders.
Bentuknya hampir sama dengan kartu, tetapi dapat dilipat sehingga menjadi
empat halaman. Penggunaannya hampir sama dengan kartu. Folder menuangkan,
mencatat data yang lebih banyak daripada kartu. Dibuat dalam bentuk dan ukuran
serta warna tertentu dan disusun dalam suatu kotak secara teratur.
c. Booklets.
Lebih lengkap dari folder, merupakan suatu buku kecil, artinya lembarannya
lebih dari empat halaman. Data dapat dicatat lebih banyak lagi, dan lebih luas,
seperti nilai-nilai hasil belajar, kegiatan-kegiatan kelompok,
kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler, dsbnya. Salah satu booklet misalnya buku
rapor.
d. Commulative record atau buku pribadi
Banyak data yang harus dicatat, maka dirasakan perlu ada suatu alat
pencatatan yang menampung seluruh aspek data murid, alat tersebut dinamakan
COMMULATIVE RECORD (catatan komulatif) dalam bentuk buku dan disebut buku
pribadi. Buku ini terdiri atas beberapa halaman, tergantung kepada jumlah aspek
data yang dapat dicatat didalamnya.
e. Map
Digunakan untuk menyimpan data yang tidak dapat tersimpan dalam alatseperti
tersebut diatas.
ü
Perlengkapan Pelaksanaan Bimbingan Konseling Kelompok Dan Individu
Untuk kelancaran pelaksanaan tekhnis bimbingan dan konseling, maka perlu
dipersiapkan alat-alat, sebagai berikut :
1.
Bentuk surat, seperti
surat panggilan murid, surat panggilan orang tua, surat pemberitahuan home
visit, surat panggilan guru, dan sebagainya.
2.
Kartu konseling, yang
digunakan untuk mencatat segala kegiatan dan proses konseling untuk setiap
murid.
3.
Kartu konsultasi, yang
dipergunakan untuk mencatat kegiatan dan proses konsultasi baik dengan orang
tua, guru-guru maupun pihak-pihak lain.
4.
Daftar kasus, yang
berisi nama-nama kasus beseta masalahnya serta jadwal bimbingannya.
5.
Catatan case
conference, yang digunakan untuk mencatat kegiatan dan proses case conference.
6.
Catatan bimbingan
kelompok, yang digunakan untuk mencatat kegiatan dan proses bimbingan kelompok.
7.
Kotak masalah, yaitu
kotak yang disediakan untuk menampung masalah baik dari murid, guru, ataupun
dari pihak lain ditulis dalam selembar kertas yang kemudian dimasukkan kedalam
kotak masalah.
8.
Papan pengumuman,
digunakan untuk mengumumkan segala sesuatu yang dianggap perlu dalam hubungan
dengan kegiatan bimbingan.
ü
Perlengkapan Administrasi Bimbingan Kelompokan Dan Individu
Untuk kelancaran kegiatan administrasi BK perlu dipersiapkan perlengkapan
administrasi seperti :
1. Alat tulis menulis.
2. Blanko surat seperti laporan bulanan, laporan mingguan, surat undangan, dan
sebagainya.
3. Agenda surat keluar-masuk.
4. Arsip surat-surat.
5. Catatan kegiatan harian.
6. Buku tamu.
7. Perlengkapan Fisik.
Perlengkapan fisik yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan BK antara
lain ruangan beserta perlengkapannya. Perlengkapan ruangan yang diperlukan
untuk pelaksanaan BK antara lain :
1) Ruang kerja konselor : tempat konselor melakukan kegiatan.
2) Ruang konseling : tempat untuk melakukan konseling.
3) Ruang konsultasi : tempat untuk kegiatan konsultasi dengan orang tua, guru,
teman dan sebagainya.
4) Ruang tunggu dan tamu : tempat untuk menunggu, baik bagi murid, guru,
ataupun orang tua, serta tamu lainnya.
5) Ruang bimbingan kelompok atau ruang rapat : ruang yang digunakan untuk
bimbingan
6) kelompok, rapat, diskusi, dan case conference.
7)
Ruang perpustakaan :
ruangan yang berisi buku-buku, majalah, brosur, atau bahan literatur kasusnya
yang diperlukan.
L. Evaluasi
bimbingan.
ü Konsep Evaluasi BK Kelompok Dan Individu
Evaluasi program bimbingan, menurut W.S Winkel (1991; 135), adalah
usaha menilai efiseinsi dan efektifitas pelayanan bimbingan aitu sendiri demi
peningkatan mutu program bimbingan.
Adapun menurut Dewa Ketut Sukardi (1990; 47) evaluasi program
bimbingan adalah segala upaya tindakan atau proses untuk mendapatkan derajat
kualitas kemajuan kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan program bimbingan
dan konseling disekolah dengan mengacu pada kreteria atau patokan-patokan
tertentu sesuai dengan program bimbingan yang dilaksanakan. Jadi, evaluasi
pelaksanaan program bimbingan merupakan suatu usaha untuk menilai efisiensi dan
efektifitas pelayanan bimbingan konseling demi peningkatan mutu program
bimbingan dan konseling.
Evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan konseling ialah usaha
penelitian dengan cara mengumpulkan data secara sistematis, menarik, kesimpulan
atas dasar data yang diperoleh secara objektif, mengadakan penafsiran, dan
merencanakan langkah-langkah perbaikan, pengembangan, dan pengarahan staf.
(Fitri Wahyuni, 2009)
Dalam buku, “Bimbingan dan
Konseling di Sekolah,” terbitan Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat
Jendral Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Departemen
Pendidikan Nasional (2008; 27), dijelaskan penilaian merupakan langkah penting
dalam manajemen program bimbingan. Tanpa Penilaian, keberhasilan atau kegagalan
pelaksanaan program bimbingan yang telah direncanakan tidak mungkin
diketahui/diidentifikasi.
Penilaian program bimbingan merupakan usaha untuk menilai sejauh
mana pelaksanaan program itu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata
lain keberhasilan program dalam pencapaian tujuan merupakan suatu kondisi yang
hendak dilihat melalui kegiatan penilaian.
Evaluasi dapat pula diartikan sebagai proses pengumpilan informasi
(data) untuk mengetahui efektivitas (keterlaksanaan dan ketercapaian)
kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan dalam upaya mengambil keputusan.
Pengertian lain evaluasi adalah suatu usaha untuk mendapatkan berbagai
informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan
hasil dari perkembangan sikap dan perilaku atau tugas-tugas perkembangan para
siswa melalui program kegiatan yang telah dilaksanakan.
ü Tujuan Dan Kegunaan Evaluasi
Menurut
Fitri Wahyuni, 2009 secara umum, penyelenggaraan evaluasi pelaksanaan program
bimbingan dan konseling bertujuan sebagai berikut :
a)
Mengetahui
kemajuan program bimbingan dan konseling atau subjek yang telah memanfaatkan
layanan bimbingan dan konseling.
b)
Mengetahui
tingkat efisiensi dan efektifitas strategi pelaksanaan program bimbingan dan
konseling yang telah dilaksanakan dalam kurum waktu tertentu.
c)
Secara
operasional, penyelenggaraan evaluasi
pelaksanaan program bimbingan dan konseling diantaranya ditujukan untuk :
·
Meneliti
secara berkala hasil pelaksanaan program bimbingan dan konseling.
·
Mengetahui
tingkat efisiensi dan efektivitas layanan bimbingan dan konseling.
·
Membantu
mengembangkan kurikulum sekolah untuk kesesuaian dengan kebutuhan.
Fungsi atau kegunaan evaluasi antara lain sebagai berikut :
a)
Memberikan
umpan balik (feed back) kepada guru
pembimbing (konselor) untuk memperbaiki atau mengembangkan program bimbingan
dan konseling
b)
Memberikan
informasi kepada pihak pimpinan sekolah, guru matapelajaran, dan orang tua
siswa tentang perkembangan siswa agar secara bersinergi atau berkolaborasi
meningkatkan kualitas implementasi program BK disekolah.
ü Teknik-Teknik Evaluasi Dalam BK Kelompok Dan Individu.
Kegiatan
penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah meliputi banyak aspek baik
yang menyangkut SDM maupun instrumen pendukung kegiatan lainnya, yaitu sebagai
berikut :
a)
Lingkungan
bimbingan, sarana yang ada, dan situasi daerah
b)
Program
kegiatan bimbingan
c)
Personal
atau ketenagaan
d)
Fasilitas
teknis dan fisik
e)
Pengelolaan
dan administrasi bimbingan
f)
Pembiayaan
g)
Partisipassi
personal
h)
Proses
kegiatan
BAB III
LAPORAN PENELITIAN
A.
Gambaran Umum Objek Penelitian
SMA Wachid Hasyim 2 adalah suatu lembaga pendidikan yang bernaung
di bawah yayasan pendidikan dan Sosial Ma’arif Sepanjang. Yayasan ini berdiri
pada tahun 1964,sedangkan SMA WAHID HASYIM 2 berdiri tahun 1970. Untuk SMA
WACHID HASYIM memang memiliki sedikit perbedaan dengan nama yayasannya. Hal itu
dilatar belakangi ketika YPM akan mendirikan Sekolah Menengah Atas, menemui
hambatan-hambatan yang sangat sulit, sampai akhirnya pengurus YPM memutuskan
dalam pendidikan SMA harus bergabung dengan yayasan WACHID HASYIM di Surabaya.
Namun dalam perjalanannya SMA yang dikelola oleh YPM mengalami
peningkatan sehigga yayasan WAHID HASYIM Surabaya menyerahkan sepenuhnya
pengelolaan SMA filial itu kepada YPM di beri nama WACHID HASYIM 2. Hal ini
sebagai jasa baik, yayasan WACHID HASYIM, maka nama WACHID HASYIM di abadikan sebagai
Nama SMA di YPM.
Sebagai sekolah favorit SMA ini menyediakan berbagai layanan, salah
satunya adalah layanan Bimbingan dan konseling. pelaksanaan Bimbingan dan
konseling sangat efektif, melibatkan semua pihak sekolah mulai dari satpam,
guru mata pelajaran, wali kelas dan kepala sekolah. SMA WAHID HASYIM 2 Sepanjang mempunyai 1
koordinator guru BK yaitu bapak H. Amir Mahmud, S.Psi dan 2 guru BK yaitu Ani
Nuriko S.Pd dan Agung Nugroho S.Pd. system administrasinya mengikuti aturan ISO
(internasional standart organization).
B. Pelaksanaan konseling individu
Paradigma mayoritas siswa di SMA Wahid hasyim 2 sidoarjo guru BK. Bukan sebagai polisi sekolah
melainkan sebagai sahabat mereka. Hal ini terbukti dengan banyaknya siswa yang
datang ke guru BK baik hanya sekedar main atau curhat. Dengan kemajuan
teknologi Konseling individu tidak hanya terbatas oleh jam sekolah, bahkan
diluar itupun Guru Bk bersedia memberikan konseling via phone atau facebook.
Teknik
pelaksanaannya dilakukan dengan directive counseling dan non directive
counseling. Directive counseling atau teacher center counseling diterapkan bagi
klien atau siswa yang memiliki karakteristik sebagai berikut tertutup, pemalu
dan mempunyai kemampuan yang kurang baik dalam menyampaikan masalah. Guru BK
menyediakan semacam buku anecdotal record bagi siswa-siswa tersebut, siswa yang
ingin mendapat konseling individu bisa mengisi buku itu dengan menyertakan hari
dan jam yang diinginkan.
Directive
counseling atau teacher center counseling diterapkan bagi klien atau siswa yang
memiliki karakteristik sebagai berikut tertutup, pemalu dan mempunyai kemampuan
yang kurang baik dalam menyampaikan masalah Siswa datang sendiri keruang BK
untuk mendapat layanan ini, mereka secara antusias menyampaikan beberapa masalah
yang dirasa perlu untuk disharekan.
C.Pelaksanaan bimbingan kelompok
Bimbingan kelompok memungkinkan sejumlah peserta didik secara
bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari narasumber tertentu (terutama dari
pembimbing dan konselor) yang berguna untuk menunjang kehidupannya sehari-hari
baik individu maupun pelajar.
Pola pemberian bimbingan kelompok di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo
ini dilakukan secara langsung dengan memberi pemahaman dan pengarahan kepada
siswa di kelas. Meliputi masalah-masalah pribadi, social, belajar dan karier.
Bimbingan karier lebih difokuskan pada siswa kelas 3.
Pemberian bimbingan kelompok diawali dengan penjelasan dari guru
mengenai tema yang akan dibahas. Pada siswa kelas 3 tema pokok yang dibahas
mengenai perguruan tinggi ( Universitas, institute, sekolah tinggi, dll).
Adapun langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut :
1.
Menentukan
tema
2.
Memahami
tujuan kegiatan
3.
Semua
siswa disuruh menulis beberapa perguruan tinggi baik negeri ataupun swasta yang
mereka ketahui
4.
Siswa
menulis salah satu program studi atau jurusan yang dikehendaki setelah lulus
nanti.
5.
Siswa
yang mempunyai pilihan yang sama dikelompokan menjadi 1.
6.
Diskusi
kelompok
7.
Menyimpulkan
hasil diskusi dan menyerahkan kepada guru BK.
Setelah
kegiatan tersebut guru BK mengevaluasi hasil diskusi. Jika masih ada
permasalahan yang belum terpecahkan maka dilakukan follow up.
D. Pelaksanaan konseling kelompok
sebelum melaksanaan bimbingan dan
konseling ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh siswa, antara lain :
a.
Membangun kebersamaan dalam
kelompok
b. Merasa sungguh-sungguh terlibat dalam
kelompok
c.
Terbuka terhadap berbagai
masalah yang dihadapi(extrofet)
d.
Bersedia menerima pendapat dari
orang lain.
e.
Bertanggung jawab terhadap kelompoknya.(ungkap
Agung, salah satu guru BK).
Idealnya 1 guru BK maksimal menangani
150 siswa, namun di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo 1 guru BK menagani 600 siswa.
Jumlah siswa yang sangat banyak itu menghambat pelakasanaan konseling kelompok,
sehingga guru BK memberikan konseling kelompok pada perwakilan kelas ( ketua
kelas dan sekretaris). Ketua kelas bertanggungjawab atas kondisi kelas,
kenyamanan kelas, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kenyamanan belajar.
Sedandkan sekretaris bertanggungjawab atas absensi siswa dikelas tersebut.
Langkah-langkah pelaksanaan
konseling kelompok di SMA WAHID HASYIM 2 Sidoarjo, antara lain :
§ Guru BK mengumpulkan
ketua kelas dan sekretaris di ruang BK
§ Masing-masing
perwakilan kelas melaporkan keadaan kelasnya serta permasalahan yang dialami
dikelas tersebut.
§ Perwakilan kelas
lain memberikan pendapat tentang pemecahan masalah yang telah diungkapkan,
begitu seterusnya secara bergiliran. (kegiatan ini dilakukan 1x dalam 1 bulan).
E.Teknik
pemberian layanan informasi
layanan informasi merupakan layanan bimbngan yang memungkinkan
peserta didik dan pihak-pihak lain yng dapat memberikan pengaruh yang besar
kepada peserta didik menerima dan memahami informasi yang dapat digunakan
sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan.
Di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo layanan ini diberikan dengan beragam
cara dan meliputi informasi pendidikan, pekerjaan dan perguruan tinggi.
Informsi pendidikan yaitu informsi mengenai system penjurusan, kenaikan kelas,
syarat-syarat kenaikan kelas dan info beasiswa. Informasi pekerjaan khususnya
diberikan kepada siswa yang tidak melanjutkan studinya. Sedangkan informasi
tentangn perguruan tunggi diberikan melalui bimbingan dalam kelas, download
dari internet an brifing dari universitas-universitas favorit,
BAB IV
KASIMPULAN
SMA Wachid
Hasyim 2 adalah suatu lembaga pendidikan yang bernaung di bawah yayasan
pendidikan dan Sosial Ma’arif Sepanjang. Yayasan ini berdiri pada tahun
1964,sedangkan SMA WAHID HASYIM 2 berdiri tahun 1970. Sebagai sekolah favorit SMA
ini menyediakan berbagai layanan, salah satunya adalah layanan Bimbingan dan
konseling. pelaksanaan Bimbingan dan konseling sangat efektif, melibatkan semua
pihak sekolah mulai dari satpam, guru mata pelajaran, wali kelas dan kepala
sekolah. SMA WAHID HASYIM 2 Sepanjang mempunyai 1 koordinator guru BK yaitu
bapak H. Amir Mahmud, S.Psi dan 2 guru BK yaitu Ani Nuriko S.Pd dan Agung
Nugroho S.Pd. system administrasinya mengikuti aturan ISO (internasional
standart organization).
Konseling individu
dilaksanakan dengan directive counseling dan non directive counseling.
Directive counseling atau teacher center counseling diterapkan bagi klien atau
siswa yang memiliki karakteristik sebagai berikut tertutup, pemalu dan
mempunyai kemampuan yang kurang baik dalam menyampaikan masalah. Directive
counseling atau teacher center counseling diterapkan bagi klien atau siswa yang
memiliki karakteristik sebagai berikut tertutup, pemalu dan mempunyai kemampuan
yang kurang baik dalam menyampaikan masalah.
Pola
pemberian bimbingan kelompok di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo ini dilakukan
secara langsung dengan memberi pemahaman dan pengarahan kepada siswa di kelas.
Meliputi masalah-masalah pribadi, social, belajar dan karier. Bimbingan karier
lebih difokuskan pada siswa kelas 3.
Pemberian bimbingan kelompok diawali dengan penjelasan dari guru
mengenai tema yang akan dibahas. Pada siswa kelas 3 tema pokok yang dibahas
mengenai perguruan tinggi ( Universitas, institute, sekolah tinggi, dll).
Adapun langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut :
1.
Menentukan
tema
2.
Memahami
tujuan kegiatan
3.
Semua
siswa disuruh menulis beberapa perguruan tinggi baik negeri ataupun swasta yang
mereka ketahui
4.
Siswa
menulis salah satu program studi atau jurusan yang dikehendaki setelah lulus
nanti.
5.
Siswa
yang mempunyai pilihan yang sama dikelompokan menjadi 1.
6.
Diskusi
kelompok
7.
Menyimpulkan
hasil diskusi dan menyerahkan kepada guru BK.
Langkah-langkah
pelaksanaan konseling kelompok di SMA WAHID HASYIM 2 Sidoarjo, antara lain :
§ Guru BK mengumpulkan
ketua kelas dan sekretaris di ruang BK
§ Masing-masing
perwakilan kelas melaporkan keadaan kelasnya serta permasalahan yang dialami
dikelas tersebut.
Perwakilan kelas
lain memberikan pendapat tentang pemecahan masalah yang telah diungkapkan,
begitu seterusnya secara bergiliran. (kegiatan ini dilakukan 1x dalam 1 bulan).
Di SMA Wahid Hasyim 2 Sidoarjo layanan ini diberikan dengan beragam
cara dan meliputi informasi pendidikan, pekerjaan dan perguruan tinggi.
Informsi pendidikan yaitu informsi mengenai system penjurusan, kenaikan kelas,
syarat-syarat kenaikan kelas dan info beasiswa. Informasi pekerjaan khususnya
diberikan kepada siswa yang tidak melanjutkan studinya. Sedangkan informasi
tentangn perguruan tunggi diberikan melalui bimbingan dalam kelas, download dari
internet dan brifing dari universitas-universitas favorit.
§
DAFTAR PUSTAKA
Prayitno, Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok, Ghalia
Indonesia:Padang, 1995.
http://konselorindonesia.blogspot.com/2010/11/bimbingan-kelompok-dan-konseling.html
http://konselingindonesia.com/index.php?option=com_content&task=blogcategory&id=85&Itemid=45
http://dinamukarromah.blogspot.com/2011/07/bentuk-bentuk-bk-kelompok.html
http://misscounseling.blogspot.com/2011/03/bimbingan-kelompok.html
http://massofa.wordpress.com/2008/10/30/langkah-langkah-dalam-memberikan-bimbingan-konseling-di-sekolah/
http://ilmupsikologi.wordpress.com/2010/01/14/pengertian-bimbingan-kelompok/
http://arf88.blogspot.com/2010_02_01_archive.html
Nana Saodih
Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005), hlm.
72
Prayitno.” Layanan
Bimbingan dan Konseling Kelompok Dasar Dan Profil”, Jakarta : Ghalia
Indonesia. 1995.hlm.2
Dewa, Ketut S. “Pengantar
Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling”,Jakarta: Rineka Cipta. 2002.hlm.1
http://konselorindonesia.blogspot.com/2010/11/bimbingan-kelompok-dan-konseling.html
http://konselingindonesia.com/index.php?option=com_content&task=blogcategory&id=85&Itemid=45
Prayitno, Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok (Ghalia Indonesia:Padang, 1995) Hal. 45
Sukardi, Dewa Ketut.” Pengantar Pelaksanaan Program
Bimbingan dan Konseling di Sekolah”. Jakarta : Rineka Cipta. 2002.hlm.4